Senin, 15 April, 2024

Artikel Terbaru

Membangun “MINDSET” Ketahanan Pangan

ENTANG SASTRAATMADJA

ktnanasional.com – Beberapa pakar menyebut mindset adalah kata lain dari pola pikir. Beberapa pengertian mindset menurut para ahli adalah suatu set atau rangkaian pemikiran yang membentuk kebiasaan berpikir dari individu. Selain itu, pengertian lain dari mindset adalah doa dan harapan yang dimiliki seseorang akan suatu hal yang ingin dicapai dalam hidup.

Dalam kaitan nya dengan Ketahanan Pangan, mindset ini menjadi sangat penting agar setiap orang dapat memiliki persepsi yang sama terhadap makna Ketahanan Pangan. Tanpa ada nya pemahaman yang sama terhadap Ketahanan Pangan, bisa saja setiap orang akan membuat tafsir yang berbeda, sesuai dengan kepentingan masing-masing.

Menurut Undang Undang No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan, Ketahanan Pangan diartikan sebagai kondisi terpenuhinya Pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya Pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.

Dalam dunia perpanganan sendiri, soal Ketahanan Pangan merupakan rangkaian pemahanan yang tidak boleh lepas kaitan nya dengan pengertian Swasembada Pangan, Kemandirian Pangan dan Kedaulatan Pangan itu sendiri. Madhab-madhab Perpanganan ini butuh keserempakan dalam penerapan di lapangan, khusus nya dalam mewujudkan hak atas pangan sebagai hak asasi.

Badan Pangan Dunia (FAO), telah menegaskan esensi dari Ketahanan Pangan dapat dicermati dari 3 hal yang utama, yakni ketersediaan pangan, keterjangkauan dan pemanfaatan pangan. Dalam penerapan nya di lapangan ke tiga hal diatas saling terkait dan mempengaruhi serta tidak terpisahkan antara satu dengan lain nya.

Ketersediaan pangan kini menjadi hal yang cukup penting, ketika FAO memberi peringatan akan terjadi nya krisis pangan global paska pandemi Covid 19 berlangsung. Di negara kita, ada 3 langkah untuk memenuhi ketersediaan pangan. Pertana dari hasil produksi para petani di dalam negeri; kedua dari Cadangan Pangan dan ketiga, bila poin pertama dan kedua tidak dapat dilakukan, baru ditempuh impor.

Terkait dengan akses atau keterjangkauan pangan, soal distribusi dan logistik pangan menjadi hal yang cukup penting untuk disampaikan kepada para pemangku kepentingan. Disinilah keterlibatan Kementerian Perdagangan dimintakan untuk dapat memberi gambaran soal potret distribusi dan sistem logistik pangan yang selama ini ada di negara kita.

Soal materi apa yang sebaik nya disampaikan kepada masyarakat, ada baik nya Badan Pangan Nasional diminta untuk menjadi pembawa pedang samurai nya. Masyarakat penting dipahamkan tentang betapa serius nya masakah aksesubilitas dalam pembangunan ketahanan pangan.

Begitu pun yang terkait dengan konsumsi, penganeka-ragaman pangan dan keamanan pangan, ada baik nya penyiapan materi penyuluhan nya, sedari awal telah melibatkan Kementerian Kesehatan dan BKKBN. Apalagi sekarang ini, permasalahaan ketahanan pangan harus digabung dengan kebutuhan gizi masyarakat.

Selain itu, stunting, obesitas dan gizi buruk menjadi salah satu garapan penting dalam penanganan ketahanan pangan. Prolematika nya menjadi semakin luas, kalau hal ini dikaitkan pula dengan soal keamanan pangan. Akibat nya, secara regulasi pun ketahanan pangan selalu dikaitkan dengan ketahanan gizi, sebagaimana terlihat dari Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi.

Perhatian Pemerintahan Jokowi terhadap Ketahanan Pangan, tidak lagi hanya sebuah wacana. Politik anggaran untuk ketahanan pangan senantiasa meningkat setiap tahun nya. Sebagaimana di rilis ANTARA, Kementerian Keuangan untuk anggaran tahun depan mengalokasikan anggaran sebesar Rp 95 triliun untuk bidang ketahanan pangan 2023.

Angka ini naik sekitar 0,9 persen dibanding tahun 2022 yang mencapai Rp 94,1 triliun. Tambahan anggaran ini dimaksudkan guna mendorong ketersediaan, akses hingga peningkatan kualitas pangan sebagai upaya menjaga ketahanan pangan nasional. Inilah bukti Pemerintah cukup serius dalam membangun ketahanan pangan.

Kesungguhan ini tampak pula dari kebijakan penggunaan anggaran dana desa yang sekurang-kurang nya 20 % digunakan untuk ketahanan pangan. Langkah ini diharapkan agar pembangunan ketahanan pangan dapat memperkuat kondisi ketahanan pangan masyarakat desa yang semakin berkualitas.

Dengan kata lain, dapat juga dikatajan, kemauan politik Pemerintah yang menetapkan 20 % anggaran dana desa untuk ketahanan pangan, betul-betul sebuah terobosan cerdas untuk semakin menggebyarkan pembangunan ketahanan pangan hingga ke pelosok pedesaan. Tinggal sekarang bagaimana dengan penerapan nya di lapangan ?

Mindset Ketahanan Pangan yang benar dan berkualitas, kini sudah saat nya dipahami dengan cerdas oleh segenap komponen bangsa. Ketahanan pangan yang kuat, perlu dijadikan program super prioritas dalam kerangka pembangunan nasional. Sebab, ketahanan pangan masyarakat yang kokoh akan mampu melahirkan ketahanan nasional yang kuat. (PENULIS, KETUA DEWAN AKHLI KTNA JAWA BARAT)

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga