Selasa, 28 Mei, 2024

Artikel Terbaru

Mengungkap Bahaya Ganoderma di Kebun Sawit

ktnanasional – MEDAN. Dalam kebun sawit yang subur, tersembunyi ancaman ganas yang mengintai di bawah tanah. Ganoderma, penyakit misterius yang tak terlihat, mampu merusak pangkal batang tanaman kelapa sawit secara tak terduga.

Dalam menjaga peran pentingnya sebagai tulang punggung ekonomi Indonesia, industri kelapa sawit harus menghadapi tantangan serius: serangan penyakit busuk pangkal batang (BPB) oleh jamur Ganoderma.

POPT Madya Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan dari Ditjen Perkebunan, Nurlida Ramli mengatakan cendawan Ganoderma ini tidak hanya menyerang tanaman kelapa sawit pada tahap produksi saja tetapi juga dapat menyerang selama tahap pembibitan. “Oleh sebab itu, penyakit busuk pangkal batang digolongkan menjadi penyakit mematikan yang menyebabkan kehilangan hasil secara luas pada perkebunan kelapa sawit, terutama di Malaysia dan Indonesia,” tambahnya.

Nurlida menjelaskan, Ganoderma  menginfeksi pada jaringan akar tanaman yang kemudian tumbuh dan berkembang dibawah permukaan tanah. Cendawan ini dapat bertahan di dalam tanah dalam jangka waktu yang lama.

Awalnya, penyakit Ganoderma diduga menyerang tanaman menghasilkan saja dan secara ekonomi tidak berbahaya, dengan kejadian penyakit masih rendah.

“Kejadian Ganoderma berkorelasi positif dengan generasi kebun kelapa sawit. Saat ini Ganoderma sudah bisa ditemukan hampir di semua kebun kelapa sawit di Indonesia walau kejadian penyakitnya bervariasi. Perkembangan cepat penyakit ini tidak hanya di lahan mineral tetapi juga di lahan gambut. Pada tanah yang miskin unsur hara di laporkan kejadian penyakit Ganoderma lebih besar,” jelasnya.

Gejala Ganoderma

Gejala awal penyakit sulit dideteksi karena perkembangannya yang lambat di luar tanaman kelapa sawit muda. Pertanda pertama penyakit busuk pangkal batang (BPB) adalah daun kuning di satu sisi atau bintik-bintik kuning di daun yang lebih pendek, kemudian diikuti dengan nekrosis.

Daun baru yang muncul terlihat lebih pendek dan mengalami klorosis serta nekrosis. Seiring penyakit ini memburuk, tanaman kelapa sawit menjadi pucat secara keseluruhan, pertumbuhannya melambat, dan daun yang tersisa tidak membuka.

Gejala serupa juga terlihat pada tanaman menghasilkan (TM), dengan beberapa daun tombak yang tidak terbuka dan kanopi daun secara umum terlihat pucat. Daun yang terkena penyakit kemudian mati, dimulai dari daun tertua dan menyebar ke atas menuju mahkota daun.

Akhirnya, tanaman mati dengan daun yang kering menggantung pada ujung pelepah batang atau patah di beberapa titik sepanjang malai, menjulur ke bawah seperti “rok wanita”.

Biasanya, jika gejala pada daun diamati terus, setidaknya setengah bagian jaringan batang bagian bawah akan mati karena serangan jamur.

Tanaman yang belum menghasilkan akan mati dalam waktu 6-24 bulan setelah gejala pertama muncul, sedangkan pada tanaman kelapa sawit yang sudah menghasilkan, kematian terjadi 2-3 tahun setelah infeksi.

Kemunculan gejala nekrosis menandakan bahwa bagian bonggol tanaman yang terinfeksi telah mengalami pembusukan berat, menghambat asupan air dan nutrisi lainnya.

Berbeda dengan pembusukan akibat infeksi bakteri, seperti pada kasus busuk pupus, gejala pembusukan pada bagian bonggol adalah busuk kering dan tidak berbau.

Pada kondisi ini, tanaman biasanya mengalami kematian secara perlahan. Gejala-gejala ini sering disertai dengan kemunculan tubuh buah, terutama jika tanaman yang terinfeksi masih bisa bertahan hidup.

Tanaman yang terinfeksi juga cenderung memiliki vigor yang lebih rendah atau pertumbuhan yang tertinggal dibandingkan dengan tanaman yang sehat. (admin)

spot_img
spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

baca juga