Sabtu, 24 Februari, 2024

Artikel Terbaru

Mengungkit Nilai Tambah Nanas Madu Galang Berstandar SNI

ktnanasional – KALIMANTAN BARAT, MEMPAWAH. Dibalik setiap gigitan manis nanas madu galang terdapat lebih dari sekadar kenikmatan rasa. Nilai tambah ini tidak hanya mencakup kelezatan, tetapi juga kepastian standar kualitas tinggi sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI).

Kesadaran masyarakat terhadap dampak negatif pestisida dan pupuk kimia terhadap kesehatan dan lingkungan mendorong peningkatan permintaan produk organik.

Pola hidup sehat dan ramah lingkungan, yang menjadi tren internasional, menuntut produk pertanian dengan atribut keamanan konsumsi, kandungan nutrisi tinggi, dan ramah lingkungan.

Potensi besar untuk menghasilkan produk organik terletak di Kalimantan Barat, khususnya Kabupaten Mempawah, dengan luas lahan gambut yang mencukupi.

Salah satu komoditas unggulan adalah nanas madu Galang, varietas unggulan dengan cita rasa manis, bobot buah yang ideal, dan nilai jual tinggi. Varietas ini telah terdaftar di Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian, memperkuat potensi pertanian organik di daerah tersebut.

Di Kabupaten Mempawah, petani nanas Madu Galang di Desa Galang, Kecamatan Sungai Pinyuh, umumnya menggarap lahan gambut dengan metode pertanian organik.

Meskipun produksi nanas cukup tinggi, sebagian besar petani belum mengenal Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk pertanian organik dan standar mutu nanas.

Oleh karena itu, Balai Besar Penerapan Standar Instrumen Pertanian (BBPSIP) melalui  Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian Kalimantan Barat melakukan sosialisasi, diseminasi, dan pendampingan penerapan standar secara kolaboratif agar dapat meningkatkan pemahaman dan implementasi standar ini di lapangan, dengan strategi pendampingan yang efektif dan efisien.

Pendampingan

Upaya untuk meningkatkan kualitas dan nilai jual nanas Madu Galang melibatkan pendampingan terhadap produsen, pelaku usaha, dan kelompok tani untuk menerapkan standar sistem pertanian organik (SNI 6729:2016) dan standar mutu nanas (SNI 3166:2009).

Penerapan standar sistem pertanian organik tidak hanya meningkatkan kualitas buah nanas, tetapi juga memungkinkan produsen mencantumkan logo organik Indonesia pada buah nanas segar, yang secara positif mempengaruhi kepercayaan konsumen dan nilai jualnya.

Kelompok Tani Harapan Baru di Desa Galang, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, berfokus pada budidaya nanas Madu Galang secara organik.

Saat ini, metode budidaya masih bersifat tradisional, dengan pembukaan lahan, pembuatan parit drainase, dan penanaman yang dilakukan secara manual. Hasilnya, buah nanas kurang seragam dan harganya rendah karena tidak melalui proses sortasi dan grading sebelum dipasarkan.

Untuk meningkatkan kualitas dan harga jual buah nanas, perlu menerapkan sistem pertanian organik sesuai SNI 6729:2016 dan standar mutu nanas berdasarkan SNI 3166:2016.

Kolaborasi

Strategi pendampingan yang dilakukan mencakup membangun sinergi, kolaborasi, dan kerjasama dengan berbagai pihak terkait. Ini melibatkan Badan Standardisasi Nasional (BSN), Balai Besar Penerapan Standar Instrumen Pertanian, Balai Pengujian Standar Instrumen Tanaman Buah Tropika, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat, serta Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kabupaten Mempawah.

Dalam implementasinya, Dinas Pertanian Kabupaten menentukan calon petani dan lokasi penerapan standar, sementara Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian dan Balai Pengujian Standar Instrumen Tanaman Buah Tropika bertindak sebagai perpanjangan tangan dari Badan Standardisasi Instrumen Pertanian Kementerian Pertanian.

Mereka menyosialisasikan, mendiseminasikan standar, memberikan informasi terkait, serta memberikan bimbingan teknis dan pelatihan keterampilan teknis.

BPSIP Kalimantan Barat, didukung oleh para pakar dari BSIP, berperan sebagai leading agency dalam pendampingan penerapan standar instrumen pertanian di lokasi spesifik.

BSN, sebagai pembina, mengkoordinir kegiatan standarisasi dan penilaian kesesuaian. LSPro ICERT menilai penerapan sistem pertanian organik nanas Madu Galang, memastikan kinerja berkelanjutan dari Kelompok Tani Harapan Baru sesuai SNI 6729:2016.

Lembaga keuangan menyediakan modal usaha, mitra bisnis membantu dalam pemasaran produk nanas organik Madu Galang, dan Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) berperan sebagai pendamping penerapan standar oleh petani di lapangan. Seluruh elemen ini bersatu untuk mendukung kelompok tani dalam mencapai keberhasilan dan keberlanjutan usaha mereka.

Dampak

Kelompok Tani Harapan Baru telah berhasil memperoleh sertifikat organik dari LSPro ICERT untuk lahan usahatani nanas dengan luas 15 hektar pada Juni 2023.

Sertifikat ini memiliki masa berlaku selama 3 tahun ke depan, memberikan hak kepada hasil nanas Madu Galang dari kelompok ini untuk mencantumkan logo organik. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap mutu nanas organik serta meningkatkan nilai jualnya.

Saat ini, produksi nanas Madu Galang oleh Kelompok Tani Harapan Baru mencapai antara 400-700 buah per minggu.

Buah nanas segar sebagian besar dipasarkan di Kota Pontianak, Kota Singkawang, Kabupaten Mempawah, Kabupaten Landak, dan Kabupaten Sanggau, dengan harga jual berkisar antara Rp. 10.000,- hingga Rp. 12.000,- per buah. (admin)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga