Jumat, 19 April, 2024

Artikel Terbaru

Menjelang Panen Raya Produksi Gabah Turun, KTNA Sragen Minta DKP3 dan KEMENTAN Beri Solusi

ktnanasional.com – JATENG Sragen.  Meski belum memasuki masa panen sejumlah petani padi di Sragen Jawa tengah khawatir karena panennya berkurang hingga 50% dari biasanya. Faktor cuaca dan juga hama berpengaruh terhadap kualitas padi yang dipanen sejak 2 tahun terakhir.

 

Dilaporkan oleh Kompas TV dan TVRI Jawa Tengah, Hasil panen petani di desa Tangkil Sragen Jawa tengah berkurang sekitar 1,1 ton dari biasanya yang mencapai 2,3 ton per patok (luas 3.500 meter persegi). Curah hujan tinggi membuat kadar air bertambah dan juga kualitas padi tidak sesuai yang diharapkan. Selain itu hama tikus dan penyakit kerdil padi yang sangat mempengaruhi hasil panen.

 

Sudarmanto petani desa Tangkil Sragen mengatakan sudah dua periode masa tanam ini hasilnya hanya 50% jika  petani mendapatkan hasil seperti itu tidak akan kembali modal, mohon perhatian pemerintah untuk mengatasi kondisi yang terjadi saat ini.

 

Wajar jika  petani di kabupaten Sragen, Jawa Tengah, mengaku sangat gelisah menyambut panen raya padi musim tanam ( MT) I dengan luas total 43 ribu hektare. Panen akan berlangsung sekitar 3 bulan, mulai akhir Februari nanti.

Petani Sragen mulai masuk masa panen MT 1
Petani Sragen mulai masuk masa panen MT 1

Menurut Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan ( KTNA ) Sragen, Suratno, panen raya MT I itu diperkirakan tidak maksimal atau hanya sekitar 50%, seperti yang terjadi pada musim tanam sebelumnya.

 

Penyebab utamanya karena faktor cuaca dengan curah hujan tinggi, serangan hama dan juga penyakit yang menyergap tanaman padi selama masa pemeliharaan. Ancaman paling parah ialah hama rumput kerdil, yang membuat pertumbuhan padi tidak normal,

 

“Teman teman petani sudah berjuang maksimal untuk menanggulangi. Tetapi dari panen sporadis yang sudah terjadi di wilayah Sambirejo atau daerah lain, hanya sekitar 50% hasil panennya,” ujar Suratno.

 

Ia menuturkan, temannya yang panen padi seluas 1 hektare di Sambirejo, hanya mampu menyelamatkan tidak lebih 50%. Jika panen normal satu    hektare bisa menghasilkan 80 sak gabah, maka pada panen ini hanya menghasilkan 39 sak gabah.

 

Situasi panen tidak maksimal itu diperkirakan merata. Seperti yang dialami petani Tangkil, Sragen bernama Sudarjo. “Setengah hektare hanya dapat 28 sak, dari kondisi normal yang bisa mencapai rata-rata 46 sak gabah,” tukas dia.

 

Meski tengkulak memberikan harga bagus untuk gabah kering panen, yakni Rp6.500 per kilogram, petani tetap rugi, karena hasil panen tidak masimal.

 

“Petani lebih senang dapat harga gabah Rp 5.100, namun panen dalam kondisi normal. Itu sudah untung, ketimbang dapat harga di atas Rp 6.000 tetapi panen susut 50%,” imbuh Suratno.

 

Pada saat sama, para penebas atau tengkulak tidak bergairah lagi    melakukan pembelian gabah panenan petani, karena situasi panen yang mengarah hasil tidak maksimal.

 

Menyikapi hal tersebut, Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sragen mendesak Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) kabupaten Sragen dan Kementerian Pertanian segera bertindak dan memberi solusi atas turunnya produksi padi para petani.

 

Suratno mengungkapkan di saat harga GKP tinggi tetapi petani rugi karena produksi padinya anjlok seperti pada musim panen sebelumnya. Suratno meminta DKP3 Sragen bisa membuat data yang valid terkait produksi gabah petani yang turun.

 

Dia meminta realisasi panen pada Februari 2023 ini didata betul per kelompok tani sehingga bisa mengetahui anjloknya produksi gabah.

 

“Jangan hanya mengambil sampel. Harga memang tinggi bisa mencapai Rp5.600 per kg. Untuk padi mentik harganya bisa Rp6.300 per kg. Petani tidak menikmati harga tinggi karena produksi gabahnya turun. Mendingan harga normal tetapi produksinya maksimal,” katanya kepada Solopos.com, Senin (6/2/2023),

Pertumbuhan Tanaman Padi yang secara visual nampak bagus, setelah dipanen hasilnya tidak memuaskan
Pertumbuhan Tanaman Padi yang secara visual nampak bagus, setelah dipanen hasilnya tidak memuaskan

Kepada Medkominfo KTNA Suratno menyampaikan supaya pemerintah Kembali mengkaji kebijakan IP 400, dengan kondisi saat ini dimana pemupukan yang tidak berimbang dikuatirkan justru produktivitas akan menurun. “Kesulitan petani mendapatkan varietas yang tahan wereng juga jadi penyebab penurunan produksi, bahkan ada sawah yang habis diserang wereng dalam satu malam saja”, kata Suratno.

 

Dia meminta DKP3 Sragen dan Kementan mencari penyebab atas produksi gabah yang turun itu dan segera mengambil solusinya. Dia mengatakan turunnya produksi gabah itu apa karena pupuk kurang berimbang, apa karena program empat kali panen, atau karena penurunan pH tanah. Dia berharap pemerintah berpihak ke petani dengan mengalokasikan dana APBD untuk mengatasi dampak turunnya produksi padi tahun ini.

 

Problem itu sudah disampaikan KTNA sejak musim panen akhir 2022 lalu tetapi sampai sekarang belum ada solusi dari pemerintah. “Jangan sampai produksi padi yang turun ini terulang untuk kali ketiga musim tanam kedua nanti,” pintanya. (admin)

sumber : soloraya, xnews.id, Kompas TV, TVRI Jateng

 

 

 

 

 

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga