Senin, 15 April, 2024

Artikel Terbaru

Menuju Organik, Pertanian Ngawi Naik Kelas

ktnanasional.com – JATIM Ngawi.  Ketergantungan petani terhadap sarana produksi berbahan baku kimia (pupuk dan pestisida), apalagi penggunanya berlebihan telah berdampak buruk terhadap lahan pertanian. Kondisi itu hampir terjadi diseluruh sentra produksi pangan di nusantara. Tak terkecuali Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Banyaknya lahan yang sakit membuat Pemerintah Daerah Ngawi bertekad mengembalikan kembali kesuburan tanah melalui pertanian ramah lingkungan. Bahkan menjadi salah satu visi misi Bupati Ngawi.

Dengan pertanian organik, bukan hanya mengembalikan kesuburan lahan, tapi juga petani bisa menekan biaya produksi dan meningkatkan produktifitas. Hasilnya produktifitas padi Kabupaten Ngawi tertinggi di tingkat nasional.

Kini pertanian ramah lingkungan dengan mamanfaatkan sumber daya alam sebagai pupuk maupun pestisida di Kabupaten Ngawi berjalan pesat. Sudah banyak petani yang menerapkan pertanian ramah lingkungan di lahan mereka.

Salah satunya petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Organik Sri Asih, Desa Jambangan, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi. Ketua Poktan Organik Sri Asih, Sugeng Hariyanto mengatakan, pertanian ramah lingkungan dengan membuat pupuk maupun pestisida organik sudah mereka terapkan sejak tahun 2022.

Sekolah Lapangan

Pertanian ramah lingkungan yang diterapkan petani di Desa Jambangan, menurut Sugeng tidak lepas dari kegiatan Sekolah Lapangan (SL) program IPDMIP yang hadir di desa mereka pada tahun 2022.

“Kami mengenal pertanian ramah lingkungan dari Sekolah Lapangan program IPDMIP.  Kami banyak menerima manfaat dari kegiatan tersebut karena kami bisa mengenal pupuk organik, pestisida organik dan sebagainya,” ungkapnya.

Bahkan, dari kegiatan SL IPDMIP dan bimbingan Penyuluh BPP Paron, Kukuh Eko Santoso, saat ini para petani di Kecamatan Paron juga membentuk forum petani organik Paron yang bertujuan untuk menularkan pertanian organik kepada petani lain.

“Forum ini terbentuk dari program SL IPDMIP, salah satu materi SL yaitu mengenalkan potensi lingkungan menjadi sebuah produk yang bisa bermanfaat,” ujarnya.

Anggota Forum Petani Organik Kecamatan Paron, Robby Mulyana membenarkan saat ini pertanian ramah lingkungan mulai digalakkan di Ngawi. Hadirnya Forum Petani Organik ini mencoba mengajak petani beralih dari pertanian yang menggunakan kimia ke organik.

“Apa yang saya lakukan ialah mengarahkan petani lain untuk memanfaatkan potensi yang ada di alam untuk lebih bermanfaat,” ujarnya. Robby mencontohkan, petani dapat memanfaatkan tanaman di lahan untuk menjadi pupuk organik cair.  Ketika petani mampu membuat pupuk sendiri, maka akan bisa menurunkan biaya produksi.

Penerapan pertanian ramah lingkungan juga dilakukan petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Margo Rukun, Desa Pengkol, Kecamatan Mantingan. Penyuluh Pertanian BPP Mantingan, Wahyu Kasih Kuntarti mengatakan, dalam kegiatan SL IPDMIP petani diajarkan berbagai hal. Diantaranya, budidaya padi ramah lingkungan dari mulai pemilihan benih hingga pasca panen.

“Di Sekolah Lapangan kami juga menyampaikan visi misi pak Bupati yaitu pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan. Jadi kami belajar bersama proses pembuatan MOL, POC, Pestisida Nabati dan lain sebagainya,” ujar Wahyu.

Hasil dari kegiatan SL IPDMIP yang diterapkan petani sudah memberikan hasil.  Selain bisa menekan biaya pupuk, pertanian ramah lingkungan juga bisa meningkatkan produktifitas pertanian.  Contohnya, kata Wahyu, petani membuat kolam lele di area persawahan. Kemudian, limbahnya dialirkan ke lahan sawah seluas 5 ha.

“Jadi kami berusaha tidak menggunakan lagi pupuk kimia dan bahkan petani di Poktan Margo Rukun ini sudah berjalan 2-3 tahun tidak menggunakan pupuk kimia sama sekali,” jelasnya

Selain SL, kegiatan temu usaha mempertemukan petani dengan pengusaha untuk memperkuat posisi tawar petani. Dengan demikian, dapat memperpendek saluran pemasaran yang akhirnya meningkatkan pendapatan petani.

Adanya program IPDMIP, Wahyu mengakui, kegiatan pendampingan oleh penyuluh kepada petani lebih intensif dan kelihatan lebih nyata hasilnya. Dalam program itu banyak kegiatan yang bisa meningkatkan pengetahuan petani. (Yulianto)

Artikel ini telah terbit di TABLOIDSINARTANI.COM

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga