Selasa, 16 April, 2024

Artikel Terbaru

MEWASPADI MASALAH KLASIK TAHUNAN CABAI

M. HIDAYANTO
Periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

ktnanasional.com-Komoditi cabai begitu populer di kalangan masyarakat Indonesia, karena hampir sebagian besar masyarakat suka dengan rasa pedas.  Tanaman cabai (Capsicum annuum L.) yang termasuk ke dalam keluarga Solanaceae ini mengandung senyawa kimia capsaicin (8-methyl-N-vanillyl-6-nonenamide), yaitu suatu komponen aktif yang menyebabkan sensasi terbakar atau pedas.

Hampir setiap tahun harga cabai yang melambung tinggi akan terus terulang di akhir dan awal tahun.  Data menunjukkan bahwa kebutuhan cabai di tingkat rumah tangga mencapai hampir 61 persen dari kebutuhan total, dan sisanya adalah untuk keperluan industri. Komoditas ini kian seksi dan menjadi perhatian serius oleh masyarakat luas, manakala harga cabai rawit di sejumlah daerah semakin “pedas’”. Umumnya Harga cabai rawit yang cukup tinggi mulai akhir tahun, dan akan terus bertahan hingga kuartal pertama tahun berikutnya. Harga cabai yang terus meroket tersebut, akan menguras pikiran pemerintah dan masyarakat luas.

Akibat iklim yang tidak menentu dan curah hujan yang cukup tinggi di sejumlah daerah sentra pengembangan, umumnya mengakibatkan tanaman cabai banyak yang layu dan bahkan mati. Kondisi tersebut akan mengakibatkan pasokan cabai ke sejumlah daerah terbatas atau berkurang dan tidak sebanding dengan permintaan, sehingga mengakibatkan harga cabai cukup tinggi. Namun harga cabai yang tinggi pada akhir dan awal tahun tersebut tidak dibarengi dengan penghasilan petani yang semakin membaik, bahkan di sebagian wilayah modal pun tidak kembali. Masalah cabai pada tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa di beberapa daerah sentra pengembangan juga dilaporkan bahwa dengan harga cabai yang melambung tinggi, sebagian petani malah merugi.

FAKTOR PENYEBAB

Cabai sering menjadi bahan pembicaraan atau diskusi hangat di masyarakat dan bahkan hingga di tingkat kementerian atau pengambil kebijakan. Harga cabai yang selalu meroket pada akhir dan awal tahun atau pada saat transisi pergantian musim tanam seolah menjadi kejadian rutin yang tak kunjung bisa dicarikan solusinya. Padahal cabai merupakan salah satu komoditi strategis, dan seharusnya harganyapun perlu dikontrol oleh pemerintah. Pasalnya harga cabai yang tinggi dan tidak terkendali akan memicu inflasi cukup tinggi, baik di tingkat regional maupun nasional.

Intensitas curah hujan yang masih cukup tinggi di sejumlah wilatah pada akhir tahun 2022 hingga awal tahun 2023, secara tidak langsung akan menyebabkan produksi cabai juga akan terganggu. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa tanaman cabai sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca. Pada kondisi ekstrim seperti curah hujan dan kelembaban yang tinggi, akan menyebabkan tanaman ini banyak diserang oleh hama dan penyakit.

Penyakit antraknosa atau dikenal dengan Patek misalnya, penyakit yang disebabkan oleh jamur colletroticum capsici ini menyerang tanaman cabai pada saat kondisi lingkungan lembab, pada saat curah hujan tinggi atau ketika musim hujan. Penyakit ini perlu mendapat perhatian khusus, karena dampak yang ditimbulkan sangat besar atau berbahaya bagi tanaman cabai. Cabai yang terserang oleh penyakit Patek akan mengalami pembusukan di bagian kulit buah, dan jika dibiarkan maka buah akan membusuk.

Oleh karena itu perlu mewaspadai berulangnya harga cabai yang melambung di akhir dan awal tahun. Jika ditelisik secara umum, bahwa masalah harga cabai yang tinggi dan terus terulang setiap tahun faktor penyebabnya antara lain: (a) cuaca ekstrim di sentra pengembangan cabai, sehingga mempengaruhi berkurangnya pasokan, (b) sistem budidaya di tingkat petani yang belum banyak berubah, (c) daerah sentra pengembangan terbatas, (d) pengelolaan rantai pasok belum maksimal, (e) gerakan tanam cabai skala rumah tangga tidak berlanjut, (f) budidaya di luar musim atau off season belum berkembang, (g) belum jelasnya  program pengembangan jangka  menengah dan panjang, (h) tidak adanya jaminan harga di tingkat petani, (i) belum ada pemetaan daerah sentra pengembangan, (j) pola tanam belum diatur dengan baik, (k) jumlah petani cabai disinyalir terus berkurang hingga lebih dari 40 persen, dan (l) ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan.

BELUM ADA SOLUSI PERMANEN

Polemik harga cabai sebenarnya juga pernah terjadi pada masa Pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu, dan di era Kabinet Kerja (2014-2019).  Di era Kabinet Indonesia Maju, Pemerintah melalui Kementerian Pertanian juga sudah menyiapkan sejumlah strategi untuk mengendalikan lonjakan harga cabai agar pada masa-masa mendatang tak menimbulkan inflasi yang cukup tinggi. Salah satu upaya yang dilakukan adalah manajemen stok bekerjasama dengan Perum Bulog, PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI), dan juga dengan Kementerian Perdagangan.

Sebenarnya sudah banyak upaya yang dilakukan dan ditempuh oleh pemerintah untuk ‘menjinakkan’ harga cabai yang sangat fluktuatif setiap tahun tersebut. Salah satunya adalah lewat operasi pasar murah di sejumlah titik atau pasar. Namun demikian jika hanya operasi pasar saja yang dilakukan, rasanya belum cukup, dan cara tersebut hanya akan menjadi solusi jangka pendek saja. Sudah selayaknya segera mencari solusi yang lebih permanen atau tuntas, baik untuk jangka pendek, menengah maupun jangka panjang. Selain itu program dan kebijakan yang telah direncanakan dengan baik, perlu dilaksankaan secara konsisten dan berkelanjutan dengan melibatkan stakeholders atau pemangku kepentingan terkait.

Untuk jangka pendek, selain operasi pasar pemerintah telah diprogramkan oleh Pemerintah dengan mengintensifkan perdagangan cabai antar daerah atau pulau. Daerah yang surplus, akan memasok cabai pada daerah yang kekurangan pasokan. Selain itu ada program dan kegiatan berupa bimbingan teknologi (bimtek), bantuan saprodi dan benih/bibit cabai, menyiapkan Early Warning Sistem (EWS) untuk mengantisipasi kerawanan produksi, Gerakan Pengendalian (gerdal) OPT Cabai, serta sudah menyiapkan KUR horti/cabai.

Sedangkan untuk jangka menengah pemerintah akan menyediakan benih yang tahan hama-penyakit, dan tahan cekaman air, serta membantu petani dengan prasarana irigasi tetes dan pompa air untuk antisipasi tanam pada musim kemarau. Adapun untuk program jangka panjang, pemerintah melalui Kementan sudah dan akan terus melakukan beberapa kegiatan, antara lain berupa pengembangan ribuan hektar kawasan sentra cabai dengan memberikan bantuan sarana dan prasarana produksi, sarana pascapanen; derta kegiatan SL-PHT, SL-GAP/GHP.

Cabai merupakan komoditas strategis dan sebagai pemicu inflasi. Masalah tahunan meroketnya harga cabai yang terus terulang setiap akhir dan awal tahun, atau pada saat curah hijan tinggi perlu dicarikan solusi yang lebih komprehensif, tidak parsial, dilakukan secara berkelanjutan, dan dengan melibatkan seluruh stakeholders. Semoga ke depan ada program atau solusi yang lebih permanen, sehingga gejolak harga cabai tidak akan terus terulang kembali setiap akhir-awal tahun.***

Oleh: HIDAYANTO, Periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga