Senin, 15 April, 2024

Artikel Terbaru

Milinieal Di Era Digitalisasi Pertanian Di Bengkulu, Mampukah ?

ktnanasional.com – BENGKULU, Pertanian mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia karena berfungsi sebagai penyedia pangan, pakan untuk ternak, dan bioenergi. Peran pertanian sangat strategis dalam mendukung perekonomian nasional, terutama mewujudkan ketahanan pangan, peningkatan daya saing, penyerapan tenaga kerja dan penanggulangan kemiskinan. Selain itu, mendorong pertumbuhan agroindusti di hilir dan memacu ekspor komoditas pertanian untuk meningkatkan devisa negara. Di sisi lain, penyediaan kebutuhan pangan masyarakat merupakan tugas utama yang tidak ringan, yaitu diperkirakan penduduk Indonesia pada tahun 2050 mencapai 330,9 juta jiwa, terbesar keenam di dunia setelah India, Tiongkok, Nigeria, Amerika Serikat dan Pakistan (United Nations Population, 2019).  Bagaimana dengan petani Bengkulu saat ini ? mengapa pertanyaan ini di munculkan karena petani memiliki peran penting dalam perkembangan pertanian di Bengkulu baik dalam kebutuhan pangan maupun industri. Saat ini petani di Bengkulu hanya sebagian menggunakan teknologi dalam bertani, tidak terkecuali dengan petani yang ada di pedesaan. Diketahui bahwa petani yang ada di kota Bengkulu adalah petani yang hanya memanfaatkan lahan pekarangan atau lahan yang berada disekitaran rumahnya saja sebagai alternative untuk pemenuhan kebutuhan kehidupan keluarganya dan bukan untuk industry (home farming self).

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri mencatat, jumlah penduduk Bengkulu sebanyak 2,03 juta jiwa pada Juni 2021. Dari jumlah tersebut ada 1,42 juta jiwa (69,82%) merupakan kelompok usia produktif (15-64 tahun). Usia produktif merupakan usia kerja yang bisa menghasilkan barang dan jasa. Pada rentang usia 15-64 tahun tersebut banyak orang yang menyelesaikan pendidikan formalnya, mencari dan membangun karier, membangun sebuah keluarga, aktif terlibat didalam pembangunan komunitas dan sebagainya. Kita bisa membayangkan jika petani di Bengkulu khususnya kaum milinial yang merupakan usia produktif untuk menghasilkan kemajuan di berbagai sector pembangunan tidak ada lagi yang perduli terhadap pembangunan pertanian hanya karena minimnya berbagai fasilitas serta tidak adanya jaminan yang memuaskan akan hasil kerja mereka. Hal ini mendorong petani beralih ke industri non pertanian. Tidak menutupi kemungkinan ini membuat Bengkulu akan kelaparan secara perlahan.

Dampaknya adalah meningkatnya angka kemiskinan, kriminalitas serta politik praktis tidak terkendali. Dengan pengalaman kegagalan dimasa lalu yang dirasakan oleh petani sebelumnya dan disertai persepktif baru bahwa tak ada lagi masa depan untuk pertanian, banyak orang tua mendorong anak-anak meninggalkan desa untuk sekolah tinggi meninggalkan desanya atau meninggalkan  usaha di sector pertanian. Milenial saat ini terlihat enggan menjadi petani,  lebih cenderung memilih untuk kerja di industri dan supermarket dibanding bercocok tanam. Banyak penelitian mengatakan hal ini disebabkan kemudahan teknologi dan pendapatan petani yang kurang memuaskan,  masyarakat beralih ke sektor non pertanian ketika umur mereka masih muda. BPS (2021) mencatat proporsi pemuda yang bekerja di sektor pertanian terus menurun dalam satu dekade terakhir. Pada 2011, tercatat ada 29,18% pemuda yang bekerja di sektor ini. Pada tahun 2021 angkanya menurun menjadi 19,18% . Penurunan terhadap pekerja di sektor pertanian berpotensi memengaruhi produksi komoditas pangan nasional. Bagaimana tidak, penurunan produksi komoditas pangan nasional disebabkan karena kurangnya tingkat produksi pangan yang ada di sebaran wilayah Indonesia, ini disebabkan jumlah petani masa sekarang turun dibanding dengan permintaan kebutuhan pangan yang terus meningkat.

Populasi manusia secara global terus bertambah secara cepat. Menurut PBB sekitar 9,3 miliar orang akan bermukim di bumi pada tahun 2050. Ini berarti permintaan pangan juga akan meningkat tajam dan berpengaruh terhadap peluang pekerjaan di masa akan datang. Alih generasi sektor pertanian kepada kaum millenial menjadi perhatian serius oleh semua pihak. Sektor pertanian akan menjadi sebuah ancaman bagi Bengkulu pasalnya dengan krisis pertanian. Penyebabnya yaitu krisis jumlah petani, alih fungsi lahan pertanian dan urbanisasi yang tinggi. Sektor pertanian Bengkulu menghadapi tantangan besar kedepannya. Sektor pertanian terancam terkontraksi karena krisis petani. Bengkulu diprediksi mengalami krisis jumlah petani dalam kurun waktu 10-15 tahun mendatang.

Sektor pertanian di Bengkulu juga harus dihadapkan pada fakta yang menyebutkan bahwa 72,6% pekerja disektor pertanian hanya berpendidikan SD bahkan tidak tamat SD. Kondisi ini menyebabkan transfer ilmu dan transfer teknologi bagi masyarakat petani menjadi sulit karena minimnya pengetahuan yang dimiliki. Sehingga teknik dan mekanisme pertanian di Bengkulu cenderung memakai cara-cara lama dan masih awam dengan cara-cara baru. Dunia di gencarkan dengan berbagai macam teknologi, baik dalam bidang infrastruktur, pangan, kesehatan, hingga dunia pendidikan.  Dari pesatnya perkembangan teknologi dan informasi ini membawa banyak pengaruh positif antara lain : Pertukaraan sebuah informasi yang menjadi lebih mudah dan cepat, memudahkan pekerjaan, pekerjaan dapat dilakukan oleh satu orang menjadi lebih efektif dan efisien, sistem pembelajaran dapat dilakukan secara online tanpa harus melakukan tatap muka. Berbagai manfaat teknologi dan informasi yang berkembang, bukanlah suatu masalah besar bagi perubahan perilaku seseorang. Dengan adanya teknologi dan informasi kita dengan mudah mencari dan mengelola sebuah kegiatan dengan mudah dan cepat.

Perkembangan ini harus sejalan dengan kemampuan seseorang (kompetensi) atau ketermpilan dalam menggunakan teknologi, hal ini tentu harus memiliki pengetahuan dasar mengenai teknologi di berbagai bidang.  Untuk itu, teknologi pertanian merupakan hal yang harus dikembangkan dalam pertanian. Teknologi modern merupakan hal yang memang sangat dibutuhkan untuk di tengah fenomena turunnya luas lahan. Aplikasi pertanian cerdas kian marak. Salah satunya adalah  digital farming. Digital farming dapat membantu meramal cuaca, menetapkan waktu dan volume yang tepat dalam mengaplikasikan produk perlindungan tanaman dan pemupukan,  serta rekomendasi dapat dibuat khusus bagi petani di lahan yang berbeda. Pertanian digital juga dapat memungkinkan peningkatan hasil panen dengan meminimalkan dampak pertanian pada lingkungan hidup. Sektor pertanian menjadi salah satu sektor yang berkontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto nasional. Sayangnya, beberapa tahun terakhir pendapatan tersebut menurun karena produktivitas pertanian yang dianggap lesu akibat berbagai faktor. Salah satunya adalah kurangnya minat para penerus di bidang pertanian. Seperti yang dilansir dari halaman situs IPB, petani di Indonesia mayoritas berusia di atas 45 tahun di mana anak-anak muda sudah tidak lagi tertarik menjadi petani. Pemanfaatan teknologi juga terbilang rendah sehingga praktik yang dilakukan masih dengan cara konvensional. Konsep pengembangan pertanian dalam kampanye Revolusi 4.0 pun dianggap dapat menjadi solusi. Revolusi Pertanian 4.0 dirancang dengan melibatkan teknologi digital dalam proses pengembangannya. Diharapkan petani milinial dapat menjadi petani modern dengan menerapkan teknik dan mekanisme modern, sekaligus juga teknologi perlu masuk ke dunia pertanian sehingga meningkatkan taraf kehidupan masyarakat petani. Implementasi industri teknologi dan informasi diharapkan usaha tani menjadi semakin efisien sehingga terjadi peningkatan produktivitas dan daya saing. Beberapa upaya sudah dilakukan melalui model dan inovasi di bidang pertanian, seperti pertanian vertikal, pertanian presisi dan pertanian pintar (smart farming).

Selain itu, kelestarian sumber daya alam dan lingkungan juga perlu dijaga.  Untuk itu, pembangunan pertanian dilakukan dengan berorientasi pada daya dukung ekosistem sehingga aspek keberlanjutan (suistanable agriculture) dapat dipertahankan dalam jangka yang panjang dengan resiko kerusakan seminimal mungkin. Menjadi petani mungkin tidak banyak yang terpikirkan oleh generasi muda di era yang serba digital saat ini. Mereka lebih memilih untuk kerja di kantoran, menjadi PNS, atau kerja di start-up ternama dengan beragam fasilitas menggoda tentunya. Sebagian dari mereka menganggap petani sekarang hanya akan berpenghasilan kecil dan sulit untuk sukses. Padahal, tidak sedikit petani- petani muda kita yang sukses dari hasil produksi pertaniannya. Contohnya salah satu petani muda yang sukses adalah Sandi Octa Susila (26), pria asal Cianjur, Jawa Barat ini sukses berkat bisnis budidaya pertanian. Kesuksesan Sandi di dukung dengan keterampilan mengelola usaha, dan menggunakan teknologi sebagai aspek pendukung dalam pertaniannya. Di samping itu, keberadaan teknologi digital seperti aplikasi yang berhubungan dengan pertanian juga dapat membuat sektor ini terlihat lebih menjanjikan untuk para generasi muda. Inovasi teknologi digital bisa mengarahkan para generasi muda untuk kembali melihat potensi sektor pertanian. Pasalnya, selama pandemi sektor pertanian terbukti menjadi sektor terpenting selama pandemi. Kehadiran inovasi digital pun disinyalir dapat meningkatkan kualitas sektor pertanian Indonesia. Tidak hanya dalam pengelolaan lahan pertanian tapi juga sumber daya manusia di dalamnya. Di era sekarang ini, menjadi salah satu kesempatan bagi anak milenial dalam mengambil alih sektor pertanian, mulai dari memanfaatkan teknologi dan informasi ke dalam berbagai kegiatan pertanian seperti penanaman, pemilihan bibit, sampai dengan penjualan.

Generasi muda adalah kunci, dan pertanian modern adalah solusi untuk menarik generasi muda untuk terlibat dalam bisnis pertanian. Pertanian digital sendiri merupakan teknologi yang dapat memudahkan pengambilan keputusan secara praktis dan bermanfaat, sehingga manajemen risiko di bidang pertanian menjadi lebih mudah, serta membantu meningkatkan potensi keuntungan secara berkelanjutan. Indonesia saat ini memasuki era bonus demografi, di mana penduduk usia produktif lebih banyak dibandingkan dengan usia tidak produktif. Jika bonus demografi ini dapat dikelola dengan baik oleh pemerintah, kondisi ini akan menjadi modal penting pembangunan untuk menuju 100 tahun Indonesia merdeka pada 2045. Bagaimana peluang, tantangan, dan kebijakan yang akan di berlakukan pada sektor pertanian dalam menyikapi bonus demografi di Bengkulu ? mari kita diskusikan dan menjawab bersama-sama, karena ini adalah tanggung jawab kita bersama.

Irma Lisa Sridanti

Dosen Fakultas Pertanian UNIHAZ,  Mahasiswa Program Doktoral Universitas Bengkulu

 

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga