Selasa, 16 April, 2024

Artikel Terbaru

Musim Kemarau, Petani Bawang Merah Tersengat Pahitnya Harga

ktnanasional.com – JAKARTA, Kemarau panjang (El Nino) identik dengan kekeringan. Pada Agustus-September, sebagian besar wilayah Indonesia memasuki musim yang kurang menguntungkan untuk budidaya pertanian. Namun uniknya produksi bawang merah pada periode tersebut justru terbilang paling maksimal.

Intensitas panas matahari yang lebih banyak dibanding bulan lainnya, cocok untuk proses pengumbian bawang merah. Alhasil, hasil panen bawang merah di bulan tersebut berlimpah. Panen raya juga terjadi di berbagai sentra utama diantaranya Brebes, Nganjuk, Solok, hingga Bima.

Berdasarkan perkiraan Early Warning System Kementerian Pertanian, produksi bawang merah periode Juli hingga September total mencapai 589.928 ton. Perincian pada Juli 2023 sebanyak 207.242 ton, Agustus 183.729 ton dan September 198.957 ton. Volume produksi tersebut setara 388.409 ton siap konsumsi.

Sementara volume kebutuhan selama 3 bulan tersebut ditaksir 303.295 ton, sehingga terdapat surplus 85.114 ton. Bahkan jika memperhitungkan stok bulan-bulan sebelumnya, neraca kumulatif hingga akhir September 2023 diperkirakan mencapai 95.762 ton.

Namun panen bawang merah yang berlimpah, justru petaninya meringis. Permintaan pasar yang relatif stagnan dan hilirisasi belum optimal membuat harga bawang merah di tingkat petani jatuh.  seperti dirasakan, Akat, petani champion bawang merah asal Nganjuk. Ia menuturkan, tahun ini produksi bawang merah di wilayahnya terpantau tinggi dan biaya produksinya dinilai efisien dibanding daerah lain.

Akat memperkirakan, luas panen Agustus-September di Nganjuk mencapai 4.444 hektar (ha) dengan produksi lebih dari 60.000 ton. Paling banyak di Kecamatan Rejoso, Bagor dan Wilangan dengan produktivitas ini cukup tinggi sekitar 15 – 20 ton/ha. “Karena panen di Nganjuk terjadi hampir bersamaan, baik di sentra lama maupun baru membuat produksi menumpuk dan harga cenderung rendah,” keluhanya.

Saat ini menurutnya, banyak petani menunda menjual hasil panennya dan cenderung menyimpan di rumah masing-masing dan sebagian masih dijemur di lahan. Akat memperkirakan, masih 75 persen panenan yang tertahan (tunda jual) sambil menunggu harga membaik. Pasalnya, kemampuan pasar dan pedagang lokal untuk menyerap juga terbatas, tidak seramai tahun-tahun lalu.

“Bahkan bawang Nganjuk jika masuk Pasar Induk Kramat Jati (PIKJ), harganya bisa mempengaruhi bawang Brebes karena harga berapapun dilepas selama masih ada sedikit untung,” katanya. Melemahnya serapan bawang merah Nganjuk berimbas ke sentra lainnya yang sama-sama menanam varietas Tajuk diantaranya Pati, Bojonegoro, Kediri dan sebagainya.

Senada dengan Akat, Petani Champion bawang merah Solok, Indra Wardi mengungkap faktor penyebab harga jatuh saat ini dipicu panen bersamaan di sentra-sentra produksi. Ditambah lagi daerah yang biasanya tidak tanam bawang merah sekarang mulai melakukan penanaman. “Solok ini panen terus menerus sepanjang tahun,” ujarnya.

Diperkirakan luas panen kumulatif Juli sampai September di Solok diperkirakan mencapai 3 ribu ha. Saat ini bawang merah yang sudah panen kondisinya masih menumpuk di pengeringan. Penyebabnya, berkurangnya permintaan pasokan dari pasar langganan seperti Sumatera Utara, Riau, Aceh dan Jambi. Pasar tersebut sudah terisi dari bawang asal Jawa.

Harga saat ini masih miris dikisaran Rp 10.000/kg, bahkan sempat mencapai titik terendah di Rp 3.500/kg untuk bawang yang kecil. Terlebih sampai saat ini di Solok dan sentra besar lainnya belum memiliki gudang penyimpanan yang cukup dan masih mengandalkan penyimpanan di masing-masing rumah petani.

Fenomena melimpahnya produksi bawang merah di bulan Juli hingga September 2023 di tengah anomali iklim yang membuat harga bawang merah tertekan memang disesali petani. Tercatat harga pembelian di petani saat ini hanya dikisaran Rp 10.000-14.000/kg. Bahkan di beberapa sentra seperti Nganjuk, Solok, Garut, Bandung terpuruk dibawah Rp 10.000/kg. Padahal mengacu pada Peraturan Badan Pangan Nasional nomor 11 tahun 2022, harga acuan pembelian di tingkat petani dalam bentuk konde basah dibanderol di kisaran Rp 18.500 – 20.000/kg.

Ketua Umum Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Dian Alex Chandra, saat dikonfirmasi membenarkan melimpahnya produksi bawang merah nasional saat ini. Menurutnya, kondisis seperti ini merupakan fenomena tahunan yang harus dievaluasi. Adanya panen bersamaan di sentra-sentra besar seperti Brebes, Nganjuk dan Solok. “Harga di pasar ekspor Thailand, Malaysia dan Singapura juga tidak sebaik tahun-tahun sebelumnya di periode yang sama,” tambahnya.

Dian mengatakan, pihaknya bersama pemerintah siap mendorong penataan pola tanam bawang merah nasional.  Paling vital yang harus dibenahi adalah manajemen stok atau penyimpanan untuk memitigasi resiko di masa yang mendatang. “Minimal ada lah anggaran pemerintah buat penyerapan saat panen raya, yang nantinya dikeluarkan saat produksi berkurang,” katanya. (admin)

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga