Jumat, 19 April, 2024

Artikel Terbaru

Musim Panen Tiba Harga GKP di Sragen Tembus Rp7.500/kg, Petani Full Senyum

ktnanasional – JAWA TENGAH, SRAGEN. Intervensi untuk mengendalikan harga beras di Sragen dilakukan Tim Pengendalian Inflasi daerah (TPID) dalam bentuk operasi pasar(OP) dan Gerakan Pangan Murah (GPM). Namun, upaya itu tak serta merta mampu menurunkan harga beras yang kini masih Rp14.000/kg untuk beras medium dan Rp15.000/kg untuk beras premium.

Sementara di tingkat petani, harga gabah kering panen (GKP) masih di atas Rp7.000/kg. Dengan harga tersebut, para petani diuntungkan dan berharap harga tinggi itu stabil.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sragen, Suratno,mengungkapkan harga beras masih tinggi karena harga GKP juga tinggi, yakni Rp7.100-Rp7.200/kg untuk gabah yang dipanen dengan thresser. Sedangkan gabah yang dipanen dengan combine harvester harganya Rp7.400-Rp7.500/kg. Harga GKP di Sragen pernah tembus Rp7.800/kg.

“Para petani di Sragen sudah panen sejak Januari 2024 tetapi menyebar. Panen padi di Sragen ini akan terus berjalan dengan puncaknya pada akhir Maret 2024. Situasi saat ini aneh juga, di Sragen sudah panen tetapi harga masih tinggi. Bahkak tanaman padi yang ambruk saja harga gabahnya masih di atas Rp7.000/kg,” ujarnya saat berbincang dengan Solopos.com, Kamis (29/2/2024).

Tingginya harga GKP bukan petani yang menentukan, tetapi para tengkulak yang rata-rata bukan dari Sragen. Mereka kebanyakan dari Demak, Grobogan, bahkan ada dari Indramayu, Jawa Barat. Para tengkulak itu disinyalir membeli gabah Sragen lalu menjualnya ke perusahaan pangan besar. Jadi, hasil panen padi di Sragen tidak semuanya dinikmati warga Sragen.

Karena musim tanam di Sragen tidak dilakukan serentak, maka berdampak pada musim panen yang juga tak kompak. Petani di Kecamatan Sambungmacan, Gondang, Ngrampal, Sambirejo, Sragen, dan Karangmalang sebagian besar sudah panen. Sementara petani di Sidoharjo, Masaran, dan Kedawung belum. “Baru tiga pekan yang akan datang dipanen,” ujar Suratno.

Berbeda dengan warga yang mengeluhkan harga beras mahal, kondisi saat ini dianggap membuat petani full senyum. Mereka bisa meraup untung atas usahanya di tengah mahalnya harga pupuk. “Saya yakin para petani pasti menjual gabahnya dan tidak ada yang menampung di rumah karena harga tinggi,” lanjut Suratno.

Sementara Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Peternakan (DKP3) Sragen, Eka Rini Mumpuni Titi Lestari, menyampaikan petani sudah mulai panen sejak Januari lalu hingga April 2024. Panen ini untuk musim tanam I dengan luasan lahan 41.203 hektare.

Eka tak mengetahui sebaran wikayah yang panen itu mana saja. “Untuk produksinya belum diketahui karena panen belum selesai,” ujarnya. (admin)

artikel telah tayang di soloraya.solopos.com

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga