Sabtu, 24 Februari, 2024

Artikel Terbaru

Musim Tanam Tiba, Awas Hama Tikus !

ktnanasional – JAKARTA. Tikus menjadi salah satu musuh yang selalu datang menyerang tanaman padi. Kerugian akibat serangan hama pengerat tersebut sangat besar, karena bisa menyebabkan tanaman puso (rusak berat), bahkan gagal panen. Nah, saat musim tanam tiba, petani wajib mewaspadai hama tersebut.

Ruli, salah seorang anggota Kelompok Tani Murih Raharjo, Desa Juwiring, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, bersama petani lainnya pernah merasakan keganasan serangan hama tikus di sawah mereka. Serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) tikus di Desa Juwiring telah merebak sejak Agustus 2023. Serangan tikus membuat petani kesulitan karena merusak tanaman padi dan mengakibatkan gagal panen. ”Hanya sekitar 30 persen yang masih dapat dipanen,” keluhnya.

Guna mengatasi hama tikus, anggota kelompok tani dibantu penyuluh pertanian dan Babinsa akhirnya berinisiatif melakukan gerakan gropyokan tikus. Hingga kini sudah sebanyak lima kali selama Desember 2023 sampai Januari 2024. Dari geropyokan tersebut, petani Desa Juwiring yang tergabung dalam Kelompok Tani Murih dan Marsudi berhasil menangkap sekitar 1.500 tikus.

Kabid Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Klaten, Lilik Nugraharja mengatakan, pengendalian tikus yang paling efektif melalui gerakan gropyokan. Metode ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga efektif dalam menangkap tikus dalam jumlah besar dalam satu waktu.

Alternatif lainnya adalah dengan memanfaatkan burung hantu (Tyto alba). Beberapa petani di Kabupaten Bersinar telah sukses mengendalikan serangan tikus dengan cara membuat rumah burung hantu (rubuha) di area persawahan. “Ada petani yang mencoba penggunaan kawat beraliran listrik sebagai jebakan tikus, tetapi kami tegaskan dilarang menggunakan alat tersebut karena dapat membahayakan mereka atau orang lain yang beraktivitas di sawah,” tuturnya.

Musuh Abadi Petani

Bukan hanya petani di Klaten yang kerap menghadapi masalah serangan tikus. Diperkirakan hampir di seluruh sentra padi, hama tersebut kerap menganggu petani. Jika menengok sejarah, ternyata hama tikus sudah menjadi musuh bebuyutan bagi petani.

Coba perhatikan relief pada dinding Candi Borobudur? Ternyata dalam relief Candi Hindu itu terdapat gambar tikus yang menjadi hama padi. Artinya, hama tersebut memang telah ada sejak zaman dahulu.  “Hama tikus tetap mampu bertahan dan melawan berbagai upaya pengendalian hingga saat ini,” kata Swastiko Priyambodo, pakar rodensia IPB University.

Menurut Swastiko, terdapat beberapa spesies tikus yang biasa dikenal dan menjadi hama serta sumber penyakit (reservoir) bagi manusia. Beberapa diantaranya adalah tikus rumah (Rattus tanezumi), tikus pohon (Rattus tiomanicus), tikus sawah (Rattus argentiventer), tikus got (Rattus norvegicus), dan tikus ladang (Rattus exulans).

Dosen Proteksi Tanaman ini mengatakan, keberadaan tikus dapat dicegah dan diatasi dengan beberapa cara.  Pengendalian tikus pada suatu habitat dapat melalui pendekatan pengelolaan tikus terpadu yang dilakukan secara kontinyu dan konsisten. Dari mulai pengelolaan sanitasi dengan program pembersihan lingkungan secara rutin hingga pengendalian kimiawi atau rodentisida.

Ketua Kelompok Substansi Pelayanan Teknis Informasi dan Dokumentasi Balai Besar Peramalan OPT (BBPOPT) Jatisari, Karawang, Suwarman mengatakan, tikus merupakan salah satu OPT utama, khususnya padi yang sering menimbulkan kerusakan pada tanaman padi, bahkan kerugian terhadap pangan cukup besar.  Saat ini serangan tikus sudah mulai terjadi, ada di mana-mana,” katanya.

Selama periode Oktober 2023 – Maret 2024 ini, berdasarkan laporan Desember 2023 sudah terjadi serangan hama tikus kurang lebih 6.000 ha. Sedangkan peramalan BBPOPT, OPT tikus selama musim tanam 2023 – 2024 berada diposisi kedua setelah penggerek batang. Secara nasional diperkirakan hama tikus pada musim tanam 2023 – 2024 ini kurang lebih 47.807 ha.

Dengan demikian dari rasio ramalan kami di lapangan sudah terjadi kurang lebih 12 persen dari angka ramalan. Tentunya penyebaran-penyebaran tikus ini peluangnya terjadi di sentra-sentra produksi utamanya yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur,” kata Suwarman.

Menurut Suwarman, kondisi serangan hama tikus di Jawa Barat juga sudah mulai muncul, bahkan dari angka ramalan BBPOPT kejadian saat ini sudah mencapai 28 persen. Namun kalau melihat kejadian tertinggi berdasarkan angka ramalan ini terjadi di Riau yang sudah mencapai 77 persen dari angka ramalan.

Namun demikian, pihaknya tetap optimis dan berupaya bagaimana caranya hama tikus ini bisa terkendali. Artinya kondisi pertanaman padi bisa aman, meski diramalkan serangan hama tikus tinggi. “Harapannya bisa tertangani dan tidak menyebabkan kehilangan hasil panen yang cukup besar,” kata Suwarman. (admin)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga