Jumat, 31 Mei, 2024

Artikel Terbaru

Olah Abon dan Sirup Cabai Ma’Nyus, KWT Guyup Rukun Raih Cuan

ktnanasional – DIY, SLEMAN. Saat harga cabai merosot, Kelompok Wanita Tani (KWT) Guyup Rukun menemukan peluang dengan mengolah cabai menjadi berbagai produk turunan pilihan seperti sambal, abon, hingga sirup.

Kelompok Wanita Tani (KWT) Guyup Rukun, yang berbasis di Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, memulai pengolahan cabai sejak tahun 2015 ketika harga cabai sedang turun drastis. “Bahkan cabai saat itu mencapai Rp5.000 per kilogram pada saat itu,” sebut Ketua KWT Guyup Rukun, Sri Mulyani.

Kapasitas produksi KWT Guyup Rukun saat ini adalah sekitar 10 kilogram cabai per pekan, dengan pasokan cabai utamanya berasal dari para anggota KWT. “Harga cabai saat ini mencapai Rp35.000 per kilogram,” ungkap Sri.

Harga jual produk-produk seperti sambal berkisar Rp25.000 per 80 gram, sedangkan untuk abon cabai dihargai Rp25.000 per botol kemasan 80 gram. Dari 250 gram cabai, dapat dihasilkan sekitar 6—7 botol abon. Bahan tambahan untuk abon cabai meliputi bawang putih dan berambang yang digoreng.

Proses pengolahan meliputi penjemuran menggunakan dome surya, blanching, dan pengeringan di oven. Menurut Sri, dibutuhkan waktu 3 hari untuk mengeringkan cabai dengan sempurna. Meskipun Sri tidak melakukan pengukuran kadar air, namun dengan proses pengolahan yang tepat dan pemanasan yang baik, abon dapat bertahan hingga 1 tahun.

Selain itu, kreasi lain dari KWT Guyup Rukun adalah sirup cabai yang dijual seharga Rp20.000 per 200 ml, dengan masa kedaluwarsa hingga satu bulan. Bahan tambahan yang digunakan untuk sirop cabai meliputi gula pasir dan pewarna alami dari bunga rosela.

Dari 1 kilogram cabai segar, KWT Guyub Rukun mampu menghasilkan 5 liter sirop cabai. Bahan baku untuk sirop tersebut dapat berasal dari campuran cabai rawit, cabai keriting, dan cabai besar. Produksi sirop mencapai puncaknya dengan jumlah 160 botol setiap bulannya.

Omzet rata-rata KWT Guyub Rukun dari bisnis pengolahan cabai mencapai Rp5 juta per bulan. Mereka utamanya memasarkan produk-produk mereka di Kabupaten Sleman, dengan menitipkan olahan cabai di warung-warung di sekitar wilayah tersebut. “Dalam beberapa waktu, permintaan terus meningkat,” ujar Sri.

Selain pemasaran konvensional, mereka juga menggunakan platform daring (online), bahkan pernah mengirim produk mereka hingga ke Kalimantan dan Batam. Olahan cabai tersebut juga laris manis saat dipamerkan dalam pameran pengolahan pangan. “Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman memberikan dukungan dalam hal pemasaran,” tambah Sri.

KWT Guyub Rukun mempelajari teknik pengolahan secara otodidak dan telah mengikuti pelatihan sebanyak 3 kali yang diadakan oleh Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman. (admin)

spot_img
spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

baca juga