Jumat, 23 Februari, 2024

Artikel Terbaru

Optimalkan Hasil Pertanian, Penyuluh Pertanian Lapangan Dilatih ‘Public Speaking’

ktnanasional.com – JAWA TENGAH, WONOSOBO. Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat berharap, penyuluh pertanian mampu mengedukasi para petani dengan lebih baik dan bijak, utamanya dalam mengelola sumber daya pertanian dan input usaha tani.

“Petani dapat memanfaatkan dan mengoptimalkan teknologi pertanian dalam meningkatkan produktivitas berkelanjutan, menguntungkan secara ekonomi, dan diterima secara sosial budaya dengan tidak mengurangi fungsi lingkungan,” kata Afif saat membuka Pelatihan Public Speaking bagi Penyuluh Pertanian Lapnagan (PPL), di RM. Sarirasa Wonosobo, Selasa (8/8/2023).

Tegas Afif, perlu kesiapan sumber daya manusia yang unggul, mampu menguasai data dan teknologi terkini, serta mampu dan cakap dalam berkomunikasi dengan masyarakat tani.  Termasuk dalam menghadapi era pertanian 4.0, yaitu mampu menguasai berbagai jenis data dari berbagai sumber guna meningkatkan produktivitas dan efisiensi produksi pertanian.

“Sebagai sebuah  profesi, penyuluh pertanian harus bersikap dan bertindak profesional dalam menyampaikan informasi kepada petani atau menjadi public speaker yang baik dan menarik. Sehingga mampu mengemas pesan informasi kepada petani secara menarik dan mudah dipahami, khususnya dalam menyampaikan pengetahuan yang bersifat teknis dan mutakhir dibidang pertanian,” pintanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan (Dispaperkan) Kabupaten Wonosobo Dwiyama SB menjelaskan, penyuluhan pertanian dituntut mampu berbicara dimuka umum, dengan cara yang tepat, diwaktu yang tepat dan pada orang yang tepat. Untuk itu, guna meningkatkan kemampuan PPL dalam berbicara dimuka umum maka diperlukan pelatihan mengenai teknik public speaking.

“Karena penyuluh pertanian dituntut mampu berkomunikasi yang efektif dan mudah dicerna oleh lawan bicara, kami mengusulkan kepada Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Wonosobo untuk memfasilitasi Pelatihan Public Speaking bagi Penyuluh Pertanian Lapangan, sejumlah 60 orang yang terdiri dari 4 orang PPL dari masing-masing kecamatan,” jelas Dwiyama.

Dikatakan, dalam menghadapi tantangan pengembangan sektor pertanian, para Penyuluh Pertanian Lapangan harus mampu mengidentifikasi problematika yang dihadapi sektor pertanian, salah satunya terkait kurangnya minat generasi muda untuk menjadi petani. Jika ini tidak teridentifikasi dan bisa diatasi, maka jumlah pekerja kelompok usia muda tidak cukup untuk melanjutkan proses produksi pangan yang saat ini dilakukan kelompok usia tua.

“Oleh karena itu, Penyuluh Pertanian Lapangan nampaknya perlu merumuskan upaya-upaya persuasif yang melibatkan generasi muda, agar jumlah tenaga kerja usia muda dapat meningkat. Juga, bagaimana menarik generasi muda untuk mulai tertarik bukan hanya dalam hortikultural tetapi juga bidang pangan dan sebagainya,” pungkasnya. (admin)

Artikel telah tayang di infopublic

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga