Sabtu, 24 Februari, 2024

Artikel Terbaru

Pakan Mahal, Peternak Lereng Merapi Ramai-ramai Jual Ternak, Harganya malah Anjlok

ktnanasional.com – BOYOLALI. Fenomena “sapi makan sapi” masih berlangsung di desa-desa lereng Gunung Merapi, Kabupaten Boyolali.

Imbas kemarau panjang, petani berbondong-bondong menjual hewan ternaknya untuk mencukupi kebutuhan air dan pakan ternak lainnya.

Apesnya lagi, harga ternak anjlok Rp 1 juta – Rp 3 juta per ekor.

Setiyo, petani Dusun/Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali mengatakan, dampak kekeringan sudah terasa sejak Juni lalu.

Jika tahun-tahun sebelumnya, petani masih bisa bertahan dengan membeli air dari uang tabungan, tahun ini berbeda.

Di desanya, petani terpaksa menjual ternak untuk membeli air bersih dan pakan bagi ternak lainnya.

“September ini sudah ada fenomena ternak makan ternak itu. Padahal sebelumnya nggak pernah. Lha bagaimana, pakan komboran harus beli, air harus beli semua. Suket, tebon itu lho, delapan batang Rp 5 ribu. Itupun susut isi tebonnya. Padahal sehari kebutuhan rumput ya sembilan ikat,” urainya, Selasa (17/10/2023).

Imbas kemarau panjang, rumput-rumput di ladang mengering. Sehingga tak bisa diberikan pada ternak.

Peternak harus membeli pakan setiap harinya. Padahal harga konsentrat melambung. Per 50 kilogram mencapai Rp 260 ribu. Naik dari sebelumnya Rp 210 ribu.

Ditambah membeli air bersih tiap pekan 6.000 liter seharga Rp 110 ribu.

Saat ini, Setiyo memiliki tiga ekor sapi dengan pengeluaran harian mencapai Rp 30 ribu per ekor.

“Harganya (jual sapi, red), ini malah amblek. Kenapa? Mau beli pakan mahal, makanya harga sapi murah. Turunnya sampai Rp 1 juta-Rp 3 jutaan. Malah mau Rp 4 juta. Kalau belinya dulu Rp 19 juta, sekarang bisa Rp 13 juta-Rp 14 juta, ngenes memang. Karena sekarang banyak yang menjual, terutama sapi dara (anak sapi),” ungkap dia.

Minik, warga Dusun Lampar Gede, Desa Lampar, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Boyolali mengatakan, ntuk membeli air bersih, dia menjual satu ekor sapi dara. Satu tangki air bisa dimanfaatkan selama dua minggu.

“Saya jual sapi dara laku Rp 10 juta. Belinya dulu Rp 12 juta. Buat beli air, pakan hijau seikat Rp 7 ribu, belum jeraminya. Kalau musim ketigo (kemarau) ya begini, sapi makan sapi,” selorohnya.

Kepala UPT Pasar Hewan Sunggingan Desa Jelok, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali Erwind Wijaya mengamini terjadi penurunan harga ternak.

Ada beberapa faktor penyebabnya. “Imbas mahalnya harga pakan. Sekarang istilahnya sapi makan sapi, karena biaya operasional harus menjual sapi,” pungkas dia. (admin)

artikel ini telah tayang di radarsolo.jawapos.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga