Minggu, 21 April, 2024

Artikel Terbaru

Peluang Terbuka, Kementan Ajak Milenial Tekuni Ternak Domba

ktnanasional – JAWA TENGAH, MAGELANG. Permintaan ternak domba yang cukup besar menjadi peluang bagi kaum milenial untuk menekuni bisnisnya. Bukan hanya untuk memenuhi permintaan rumah makan, kebutuhan untuk aqikah dan hewan kurban juga sangat besar.

Seperti yang kini ditekuni Mario Febrianto, pemilik usaha Bhinneka Farm yang berlokasi di Desa Urutsewu, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali. Meski sebelumnya tak memiliki pengetahuan mengenai dunia peternakan, namun dengan ketekunan, ia kini mampu meraup omset hingga Rp 500 juta dari penjualan 400-500 ekor domba dalam satu bulan.

Saat Millennial Agriculture Forum (MAF) yang diselenggarakan Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YOMA) pada Sabtu (23/3), ia berbagi trik dalam beternak domba.

Dikatakan, peternak juga harus mampu mencari solusi di tengah permasalahan yang dihadapi. Misalnya, perbaikan genetic melalui persilangan, pemberian pakan dan enzim yang sesuai, meningkatkan efektifitas kandang dan pemeliharaan, serta menjalin sinergi antar peternak dan pengusaha lainnya.

Menurutnya, perbaikan genetika sangat penting untuk dilakukan. Pasalnya, hal ini bisa mempercepat waktu panen domba. Ia menyebutkan domba lokal untuk mencapai 26 kg memerlukan 5-6 bulan pemeliharaan, sedang dengan persilangan hanya membutuhkan sekitar 3 bulan.

“Manfaat yang diperoleh dengan menyilangkan betina lokal dan Jantan impor bisa mempercepat pertumbuhan domba. Jika dijual sebagai bibit, harga lebih mahal. Tidak hanya itu, persilangan juga akan meningkatkan presentasi karkas,” kata Mario.

Sementara itu Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Prof Dedi Nursyamsi mengatakan, pemilihan bibit unggul menjadi syarat mutlak untuk meningkatkan profit, di samping pakan dan pengendalian penyakit.

“Meskipun menggunakan betina lokal, peternak wajib menggunakan pejantan yang unggul. Bisa menggunakan pejantan impor seperti dorper. Bisa juga menggunakan domba garut yang bobotnya bisa mencapai 100-120 kg. Atau dombos yang bobotnya bisa mencapai 140 kg,” papar Dedi.

Menurut Dedi, dengan penyilangan ini peternak bisa memperbaiki genetika pada populasi ternak yang dimilikinya, sehingga produktifitas ternak bisa ditingkatkan. Hal ini diperlukan agar peternak bisa mencukupi kebutuhan domba yang tinggi. “Kebutuhan domba sangat tinggi. Di Gunung Kidul, pasar membutuhkan setidaknya 6.000 ekor domba per hari,” ungkap Dedi.

Tak hanya dari segi pasar, Ia menyebut Indonesia mempunyai sumber pakan yang luar biasa. Hal ini memudahkan peternak untuk menekuni peluang bisnis ini. Dari segi pasar dan pakan tersedia di Indonesia, tinggal penyediaan konsentrat untuk penggemukan maupun breeding.

“Pakan berkualitas juga dibutuhkan ternak untuk menghasilkan susu. Kebutuhan susu tahun depan luar biasa, dengan adanya program makan gratis di sekolah – sekolah. Ini juga peluang!” jelasnya.

Hadir di lokasi MAF, Direktur Polbangtan YOMA, Bambang Sudarmanto mengajak ratusan mahasiswa Polbangtan YOMA dan para milenial untuk mengambil peluang ini. “Tiru dan adaptasi pada kegiatan usaha ternak dan lakukan inovasi. Baik dalam penyilangan domba – domba unggul maupun inovasi pakan. Bagaimana mendapatkan untung yang besar, dengan memanfaatkan bahan pakan yang ada di sekitar kita,” ajak Bambang. (admin)

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga