Sabtu, 24 Februari, 2024

Artikel Terbaru

Pembangunan Sektor Babi Penting Sebagai Jaring Pengaman Ketahanan Pangan NTT

ktnanasional – NTT, KUPANG. Berbagai pemangku kepentingan di sektor peternakan babi dari seluruh provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bertemu di Kupang pada Senin (27/9) untuk membahas berbagai pencapaian dalam pembangunan sektor ini.

Pertemuan itu juga membahas serta berbagai upaya ke depan untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan bagi peternak babi rumahan.

Acara ini diprakarsai oleh Pemerintah Provinsi NTT bekerja sama dengan PRISMA, program
kemitraan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian PPN/Bappenas dan Pemerintah Australia melalui Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (Department of Foreign Affairs and Trade/DFAT) untuk pertumbuhan pasar pertanian inklusif di Indonesia.

Hadir dalam lokakarya bertajuk Menumbuhkan Pasar, Mengakarkan Pengetahuan: Lokakarya Pembangunan Sektor Babi di NTT tersebut berbagai pemangku kepentingan yang mewakili pemerintah, peternak, serta kalangan swasta, di antaranya Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Pertanian, pihak swasta, akademisi, asosiasi profesional, jaringan gereja, serta pelaku industri babi dan peternak rumahan.

Dengan slogan Pakan, Pengembangbiakan, dan Kesehatan Ternak yang Lebih Baik, terdapat tiga poin diskusi utama pada lokakarya yang dilaksanakan di Aula Hotel Harper, Kupang tersebut.

Tiga poin diskusi itu diantaranya: Pertama, peningkatan penggunaan pakan ternak unggulan di kalangan peternak rumahan. Kedua, pemanfaatan teknologi inseminasi buatan untuk pengembangbiakan babi yang berkualitas, dan ketiga mendorong lebih banyaknya kolaborasi pemerintah dan pihak swasta untuk menciptakan ekosistem bisnis yang lebih baik.

Fokus diskusi lainnya juga membahas mengenai pencegahan penularan penyakit ternak babi melalui langkah-langkah biosekuriti.

Penjabat Gubernur NTT, Ayodhia Kalake dalam  sambutannya yang dibacakan Kepala Dinas Peternakan NTT, Johanna Lisapaly mengatakan, peternakan babi merupakan jaring pengaman ketahanan pangan masyarakat NTT.

“Setiap orang dapat memainkan peran penting dalam mendukung pertumbuhan pasar babi dengan mendorong penggunaan pakan ternak berkualitas dan pengembangbiakan yang lebih baik. Kami telah melihat peningkatan penggunaan pakan ternak berkualitas di kalangan peternak rumahan dan kita perlu mendorong adopsi ini lebih lanjut,” ungkapnya.

Direktur Pangan dan Pertanian Kementerian PPN/Bappenas, Jarot IIndarto mengatakan, Kementerian PPN/Bappenas berharap agar forum ini dapat menjadi ajang kolaboratif dalam merancang langkah konkret terkait pengembangan sektor peternakan babi di NTT secara berkelanjutan.

“Salah satu prioritas dalam transformasi sistem pangan di Indonesia adalah mendorong kemitraan bisnis inklusif melalui skema public-private partnership. Dengan demikian, kehadiran berbagai pemangku kepentingan hari ini sangat berarti untuk menciptakan sinergi yang diperlukan guna mendukung upaya pemulihan sektor peternakan babi”. katanya.

CEO PRISMA, Mohasin Kabir mengatakan,  Pemerintah Provinsi NTT dan PRISMA telah bekerja sama selama 10 tahun terakhir untuk mengembangkan pasar babi di provinsi ini.

Menurut Mohasin, mitra PRISMA yang merupakan perusahaan penyedia pakan ternak serta industri peternakan babi telah memberikan manfaat kepada lebih dari 120.000 rumah tangga peternak babi yang mengalami peningkatan pendapatan lebih dari tiga kali lipat.

“Kita dapat dengan percaya diri mengatakan bahwa ketika peternak menggunakan pakan konsentrat, meskipun membutuhkan biaya awal atau modal yang lebih tinggi, namun mampu menghasilkan keuntungan yang lebih besar karena ternak babi tumbuh lebih cepat sehingga dapat dijual lebih cepat,” kata Mohasin Kabir.

Mengingat program PRISMA akan berakhir pada 2024, kerja sama antara Pemprov NTT dan PRISMA dalam satu tahun mendatang akan difokuskan untuk menghimpun pengetahuan yang bersumber dari pengalaman-pengalaman dengan pemangku kepentingan di sektor peternakan babi.

Untuk menandai kolaborasi tersebut, pada kegiatan ini dilakukan seremoni serah terima materi edukasi yang bertujuan untuk mendorong partisipasi aktif dari berbagai pihak tak terkecuali peternak rumahan, peternakan industri, serta pemerintah daerah yang terlibat dalam rantai pasar.

“Materi edukasi tersebut disediakan secara gratis dan dapat diakses oleh siapa saja melalui tautan bit.ly/MateriDigitalASFdanIB
Termasuk di dalam materi edukasi tersebut adalah kampanye daring mengenai pencegahan wabah Flu Babi Afrika (African Swine Fever/ASF) untuk meningkatkan pengetahuan peternak mengenai wabah tersebut dan langkah-langkah biosekuriti yang sangat penting untuk mencegah wabah ini di masa depan dan membantu sektor ini pulih, ” bebernya.

Ia menambahkan, kampanye ini telah menjangkau 650.000 orang untuk meningkatkan kesadaran akan dampak ASF.

Perwakilan peternak babi NTT, Afonia Tanebeth mengatakan, kampanye tersebut sangat membantu dirinya dalam menjaga kandang babi agar tetap bersih, menggunakan pakan ternak, dan tidak membiarkan orang dari luar rumah mendekati ternak peliharaan, sehingga penyebaran penyakit ASF dapat dicegah.

“Dari kampanye tersebut saya belajar bahwa jika peternak dapat menjaga kandang babi tetap bersih, menggunakan pakan ternak, dan tidak membiarkan orang dari luar rumah mendekati ternak kita, maka penyebaran penyakit ASF dapat dicegah,” ungkap Afonia Tanebeth.

Sekedar tahu, NTT merupakan provinsi dengan populasi ternak babi terbesar di Indonesia. Beternak babi merupakan tradisi turun temurun untuk memenuhi ritual kebudayaan, agama maupun dikonsumsi sehari-hari. Sehingga kemunculan ASF sejak akhir 2019 memberi pukulan keras bagi lebih dari 900.000 peternak babi rumahan di provinsi tersebut.  (admin)

artikel ini telah tayang di victorynews.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga