Senin, 15 April, 2024

Artikel Terbaru

PENAMBAHAN LUAS TANAM 500 RIBU HEKTAR : SOLUSI JAWAB EL NINO

ktnanasional.com – JAKARTA, Sergapan El Nino, kini tengah berlangsung. Suasana kekeringan di banyak daerah mulai terasakan, walau ada juga daerah yang belum mengalami kekeringan. Sergapan El Nino kali ini, terekam tidak menyerang semua daerah secara bersamaan. Ada yang sudah terdampak kekeringan, namun ada juga daerah yang kebanjiran, karena curah hujan yang tinggi.

Beberapa hari lalu, penulis sempat berkunjung ke Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Klaten di Jawa Tengah. Disamping bincang-bincang dengan para pejabat Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, dilakukan pula dialog langsung dengan para petani di lapangan. Banyak hal penting dibahas, terutama yang erat kaitannya dengan kesiapan mereka dalam menjawab El Nino.

Pemerintah Pusat lewat Kementerian Pertanian telah memprediksi, dampak buruk El Nino adalah terjadinya gagal panen berbagai komoditas. Untuk komoditas padi, misalnya ditengarai, kita akan mengalami gagal panen sekitar 380 ribu ton hingga 1,2 juta ton gabah kering panen. Untuk menjawab hal seperti ini, Pemerintah meyiapkan pertambahan tanam padi sebesar 500 ribu hektar.

Penambahan areal tanam di berbagai Provinsi yang dikenal sebagai sentra produksi padi dan 100 Kabupaten ini, kini tampak mulai digarap dengan serius. Pemerintah berharap agar langkah penambahan luas tanam sebesar 500 ribu hektar ini akan mampu mengganti produksi padi yang diramal bakal mengalami gagal panen tersebut.

Catatan kritisnya adalah apakah daerah sudah siap untuk menggarapnya ? Kalau kita ikuti apa yang dilakukan oleh Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Klaten, sepertinya sergapan El Nino tidak terlampau berdampak terhadap budidaya tanaman padi. Di kedua Kabupaten ini, ketersediaan air belum jadi masalah. Air masih tersedia, karena di Karanganyar dan Klaten tergolong daerah yang banyak memiliki mata air.

Hal ini, tentu saja berbeda dengan daerah lain, khususnya yang terkena dampak buruk El Nino. Laporan berbagai daerah yang mulai kesulitan air, karena sudah berminggu-minggu tidak turun hujan, membuat para petani cukup kesusahan dalam menggarap budidaya padi secara optimal. Itu sebabnya, bagi daerah yang seperti ini dibutuhkan kebijakan khusus untuk menanganinya.

Walau kita harus menyikapi sergapan El Nino dengan penuh kewajaran, bukan berarti El Nino merupakan dampak anomali iklim yang kita anggap enteng kehadirannya. Kewaspadaan tetap harus dilakukan. Langkah cerdas, tetap kita butuhkan. Pengalaman El Nino 2019, sudah waktunya dijadikan proses pembelajaran dalam melahirkan jalan keluarnya. El Nino kini tengah menyergap. Kita perlu hati-hati dalam menaganinya.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) termasuk sosok pejabat Pemerintah yang menaruh perhatian khusus terhadap dampak buruk El Nino. Untuk mengkampanyekan penambahan areal tanam 500 ribu hektar, SYL cukup rajin turun ke daerah untuk langsung berdialog dengan para pejabat daerah dan para petani. Dengan spirit tiada hari tanpa terjun langsung ke lapangan, SYL selalu mengingatkan pejabat daerah agar tidak main-main menjawab El Nino.

Di sisi lain, penting kita catat, sergapan El Nino sekarang, berlangsung ketika bangsa ini tengah menghadapi tantangan serius dalam produksi pertanian, khususnya budidaya padi. Ada kecenderungan, produksi padi secara nasional memgalami penurunan yang cukup signifikan. Kondisi produksi padi dalam beberapa waktu belakamgan ini, terekam sedang tidak baik-baik saja.

Jika kita kaitkan dengan keyetsediaan pangan sendiri, produksi petani dalam negeri, terbukti sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat, cadangan beras Pemerintah dan bantuan sosial beras. Komsekuensinya, impor beras tidak bisa terelakan. Untuk tahun 2023, bangsa kita merencanakan impor beras sebesar 2 juta ton.

Sadar akan hal yang demikian, pembebanan ketersediaan beras kepada sisi produksi, sepertinya semakin susah dijawab, jika dan hanya jika sisi konsumsinya, tidak digarap dengan sungguh-sungguh. Langkah mengerem laju komsumsi masyarakat terhadap nasi, perlu ditempuh. Kebijakannya, tidak cukup hanya lewat kampanye diversifikasi atau penganekaragaman konsumsi pangan saja, namun yang lebih dimintakan adalah tataran pelaksanaannya di lapangan.

Penanganan sisi konsumsi pangan sendiri, kelihatannya masih sporadis. Program yang ditempuh, baru sebatas percontohan yang sifatnya angat-angat tai ayam. Kebijakan penganekaragaman pangan belum terpolakan secara sistemik. Dalam pelaksanaannya di lapangan, belum jelas Kementerian/Lembaga mana yang jadi pembawa pedang samurainya. Lebih parahnya, program diversifikasi pangan terkesan hanya sekedar menggugurkan kewajiban semata.

Situasi menurunnya produksi padi ditambah dengan adanya sergapan El Nino, membuat segenap komponen bangsa, perlu untuk bersinergi dan berkolaborasi dalam melahirkan terobosan cerdas guna mencarikan jalan keluarnya. Kita penting untuk berpacu dengan waktu. Kita mesti mengantisipasi segala kemungkinan dan peluang yang ada. Lebih jauhnya lagi, kita penting untuk dapat membaca tanda-tanda jaman yang kini tengah menggelinding.

Penambahan luas tanam 500 ribu hektar adalah ihtiar Pemerintah untuk menjawab sergapan El Nino. Walau dalam pelaksanaannya tidak segampang kita membolak-balik telapak tangan, namun kita tetap optimis, penambahan areal tanam 500 ribu hektar merupakan jalan keluar yang cukup rasional guna mengganti gagal panen yang cukup besar. Semoga !

OLEH : ENTANG SASTRAATMADJA (PENULIS, KETUA HARIAN DPD HKTI JAWA BARAT).

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga