Sabtu, 24 Februari, 2024

Artikel Terbaru

Pengamat UGM Menilai Ilmu Pertanian Perlu Dikenalkan Sejak Dini Untuk Hadapi Regenerasi Petani

ktnanasional – DIY,SLEMAN. Selain menghadapi berbagai persoalan teknis, sektor pertanian disebut tengah menjalani masalah regenerasi petani yang melanda berbagai negara. Di Indonesia, jumlah petani di atas usia 40 tahun jauh lebih dominan dibanding dengan jumlah petani di usia muda.

Pengamat pertanian, agroklimatologi dan perubahan iklim UGM, Bayu Dwi Apri Nugroho mengungkapkan petani saat ini didera sejumlah permasalahan berat. Mulai dari masalah alih fungsi lahan, harga panen yang fluktuatif, perubahan iklim hingga kenaikan harga bahan bakar minyak. Semua aspek tersebut kata Bayu akan berpengaruh pada biaya produksi yang dikeluarkan petani.

“Tetapi dari permasalahan-permasalahan yang dihadapi, ada satu masalah yang mungkin tidak hanya dialami Indonesia, namun juga hampir di seluruh dunia, yaitu menyangkut soal regenerasi petani,” kata Bayu pada Rabu (10/1/2024).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat  jumlah petani di Indonesia pada 2019 mencapai 33,4 juta orang. Dari angka itu, petani muda dengan rentang usia 20-39 tahun hanya mencakup 8% saja atau setara dengan 2,7 juta orang. Sementara 30,4 juta petani lainnya atau sekitar 91 persen lainnya merupakan petani dengan usia di atas 40 tahun. Kebanyakan di antaranya petani dengan usia mendekati 50-60 tahun.

Langkah regerenasi petani acap kali dikaitkan dengan pola pikir maju di sektor pertanian. Terkait dengan pandangan ini, Bayu melihat adanya salah satu cara untuk menarik minat anak-anak muda ke dunia pertanian. Cara itu tak lain ialah pengenalan teknologi di bidang pertanian kepada anak-anak muda. Baik itu kepada anak-anak muda yang berasal dari keluarga petani maupun bukan dari keluarga petani.

Malahan bila perlu, ilmu pertanian dan teknologi pertanian sudah diperkenalkan mulai tingkat sekolah dasar. Cara ini diharapkan dapat mengubah image pertanian konvensional ke arah yang lebih maju.

“Sebagai contoh penggunaan drone, kalau selama ini penggunaan drone hanya digunakan untuk foto-foto atau mendokumentasikan suatu kegiatan. Kenyataan drone juga bisa digunakan untuk memantau kondisi tanaman bahkan bisa digunakan untuk penyemprotan pupuk, pestisida di lahan-lahan sawah,” tegasnya.

Lebih lanjut Bayu berpandangan bila materi pertanian dan teknologi pertanian ke dalam kurikulum atau materi pembelajaran di tingkat sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA). Meski begitu cara ini masih membutuhkan dukungan dari Pemerintah Pusat dan pemerintah daerah untuk fasilitas agrotourism dan agroedutechnopark.

Dengan berkunjung di agrotourism atau agroedutechnopark masyarakat khususnya anak-anak muda menjadi paham dan mengerti persoalan pertanian dan berbagai teknologi yang digunakan. Hal ini penting untuk ditawarkan agar menepis pandangan jika pertanian identik dengan petani tua, konvensional, kotor dan tidak menguntungkan.

“Saya kira dengan pengenalan pertanian dan teknologinya sedini mungkin di tingkat SD, SMP dan SMA, ada harapan di masa depan Indonesia bisa terbebas dari bayang-bayang impor. Bahkan jika mungkin sebagai negara pengekspor pangan, yang tentunya akan meningkatkan kesejahteraan petani di Indonesia,” katanya. (admin)

artikel ini telah tayang di harianjogja.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga