Rabu, 24 April, 2024

Artikel Terbaru

Penuhi Kebutuhan Jagung Nasional, Ini Saran Petani

ktnanasional.com – Jakarta, Dinamika pemenuhan kebutuhan jagung nasional harus dilihat secara komprehensif.  Karena itu, kolaborasi stackholder harus digerakkan pada data dilapangan.

“Saat ini, jika impor terjadi harga jagung lokal pasti anjlok, dan banyak petani yang akan merugi karena ongkos produksi memang sudah naik sejak tahun lalu” ucap Petani Jagung, Dean Novel.

Lebih lanjut pria yang juga anggota Presidium Agri Watch ini menambahkan bahwa pemicu utama kenaikan harga jagung di tingkat petani adalah aksi peternak yang memborong langsung ke sentra-sentra jagung sehingga membuat harga ikut terkerek naik.

Bukan hanya itu harga BBM dan biaya angkut, benih jagung premium, harga pupuk NPK dan Urea juga ditenggarai sebagai faktor pemicu utama kenaikan harga.

“Kita juga harus memaklumi jika ada penyesuaian harga, jika tidak petani kita kasian donk rugi” ungkap Dean.

Ssaat ini harga ditingkat petani berkisar Rp. 5.100 – 5.200 / Kg (Pipil kering) naik sekitar Rp. 100 – 200 dari tahun sebelumnya.

Menanganggapi harga jagung di pasar internasional yang lebih murah, Dean mengatakan hal tersebut sebagai kekliruan.

Karena harga Rp. 2.944,7/kg yang dicantumkan merupakan harga perdagangan CBOT (Chicago Board of Trade), yang belum ditambahkan dengan ongkos shipping ship, tax import, keuntungan, dan lain-lain.

“Jika harga di luar negeri lebih murah,  mengapa negara tetangga seperti Malaysia dan Fillipina malah berminat membeli jagung dari Indonesia. Karena hinga saat ini kedua negara tersebut masih terus mencari stok jagung di kita, tetapi kita memilih tidak lakukan ekspor, sampai dalam negeri terpenuhi terlebih dahulu” tegasnya.

Terkait adanya permintaan dari peternak untuk membuka keran impor, Dean memastikan hal itu tidak mewakili suara para peternak.

“Saya sering turun ke lapangan peternak dan petani jagung bisa berdampingan tidak pernah kekurangan stok, hanya memang harga naik.” Ungkapnya.

Dean mencurigai ada pihak-pihak yang memang sengaja menghembuskan isu kelangkaan stok untuk kepentingan tertentu.

Untuk mengatasi permasalahan kenaikan harga, Dean menyarankan kelompok peternak menyiapkan Resi Gudang.

“Yang saya sering liat peternak membeli jagung hanya dengan kuantitas kecil karena tidak ada tempat menyimpannya. Permasalahan peternak ini kan di pembeliannya, rata-rata membeli dalam kuantitas yang kecil tapi rutin, untuk itu  peternak bisa berkoloborasi dan tidak sendiri-sendiri.” ungkap Dean.

Dari segi regulasi, Dean mengatakan bahwa pemerintah bisa meniru cara negara maju seperti Amerika untuk melindungi para petaninya, dengan memastikan penjualan produknya.

Model pola tanam pun harus diubah, selama ini pola tanam kita sudah tidak relevan, karena pupuk subsidi tidak lagi diberikan seperti era Presiden Suharto.

“Saat ini yang harus kita gunakan pola pertanian berkelanjutan dan diatur seperti cluster sehingga tidak ada lagi bulan paceklik, dan panen terus secara bergantian untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri,” ungkapnya. (sinartani)

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

baca juga