Selasa, 16 April, 2024

Artikel Terbaru

PERAGI : Sawit Indonesia Harus Bertahan dari Tekanan Multidimensi

ktnanasional.com – BOGOR, Sawit sebagai komoditas unggulan ekspor Indonesia harus bisa mempertahankan diri di tengah Tekanan multidimensional yang menekannya.

Ketua Umum Perhimpunan Agronomi Indonesia (PERAGI),Prof. Dr. Ir. Andi Muhammad Syakir dengan tegas menyatakan perlunya ketahanan sektor perkebunan sawit di Indonesia untuk mempertahankan posisinya sebagai produsen utama minyak sawit dunia.

“Meskipun dihadapkan pada berbagai tekanan seperti politik dagang dari negara maju, disparitas hasil yang masih mencolok dalam aspek agronomi, dan dampak dari perubahan iklim global, perkebunan sawit Indonesia diharapkan dapat mengatasi tantangan ini,” tegasnya dalam acara monthly focus group discussion (FGD) seri 2 PERAGI yang digelar di Bogor, Selasa (8/08).

Syakir menyebutkan bahwa perkebunan sawit Indonesia memiliki keberuntungan berada di wilayah tropis yang menyediakan kondisi lingkungan ideal bagi pertumbuhan sawit.

Wilayah ini memiliki curah hujan lebih dari 2000 mm per tahun yang terdistribusi merata, tanpa musim kering yang signifikan.

Dukungan lingkungan ini meliputi suhu rata-rata maksimal 29–33°C dan suhu minimal 22–24°C, kelembapan relatif lebih dari 45%, serta paparan matahari minimal 5—7 jam harian sepanjang tahun.

Daya dukung lingkungan tersebut menjadi jaminan bahwa sawit dapat tumbuh optimal di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain.

“Meskipun sawit berasal dari Afrika, Indonesia dan Malaysia telah menjadi pusat produksi terbesar di dunia, mengungguli Afrika dan Amerika Latin yang menjadi pusat keragaman keluarga tanaman sawit dan palmae lainnya,” tambah Syakir.

Indonesia dan Malaysia, sebagai pusat produksi sawit terkemuka, telah berhasil mengukuhkan posisi produk sawit Indonesia dengan produksi berlimpah dan harga yang kompetitif di pasar global.

Keberhasilan ini memberikan dampak yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia, baik pada skala perkebunan besar maupun perkebunan rakyat. Proporsi kepemilikan tanaman sawit di Indonesia terbagi hampir berimbang antara perkebunan besar dan perkebunan rakyat, dengan perbandingan 60:40.

Syakir menyampaikan harapannya agar perkebunan sawit tetap kuat dan tangguh dalam menghadapi tantangan, tidak hanya dari politik dagang tetapi juga dari perubahan iklim global.

Ia menegaskan bahwa perkebunan sawit saat ini memiliki ketahanan yang luar biasa dibandingkan dengan komoditi perkebunan lainnya serta sektor pertanian secara keseluruhan.

“Jadi, perkebunan sawit tidak boleh melemah karena tekanan politik dagang atau dampak dari perubahan iklim global,” harapnya.

Perjuangan ISPO

Sementara itu, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Ditjen Perkebunan, Dr. Prayudi Syamsuri, SP., MSi, mengungkap Pemerintah Indonesia terus bergerak merespon kebijakan khusus menghadapi politik dagang yaitu EU Deforestasion-Free Regulation (EUDR).

“Indonesia berjuang agar sertifikasi di Indonesia yaitu Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) diakui Uni Eropa sehingga dapat masuk ke pasar sana. Sebaliknya kita juga berjuang agar ISPO dapat diterapkan oleh para petani sawit Indonesia,” kata Prayudi.

Menurut Prayudi, hal itu penting mengingat sawit adalah masa depan Indonesia yang mempekerjakan 12-juta lapangan kerja tak langsung di Indonesia. Jumlah itu setara dengan penduduk DKI Jakarta.

Dalam FGD tersebut, Dwi Asmono, PhD, yang berperan sebagai moderator dan juga Direktur Penelitian, Pengembangan, dan Keberlanjutan PT. Sampoerna Agro Tbk, serta Direktur Eksekutif PERAGI Institut, mengungkapkan pandangannya.

Ia mengakui bahwa setiap negara memiliki komoditi andalannya di pasar dunia, seperti minyak sawit dari Indonesia, minyak kedelai dari Brazil, minyak rapeseed dari Uni Eropa, dan minyak biji matahari dari Ukraina.

Namun, ia menyoroti bahwa sawit sering kali menjadi sasaran isu negatif terkait kelestarian lingkungan, padahal produktivitasnya sangat tinggi.

Dalam hal produktivitas, minyak sawit memiliki tingkat yang luar biasa, menghasilkan 5 ton per hektar, dibandingkan dengan minyak rapeseed (0,8—0,9 ton per ha), minyak biji matahari (0,7-0,8 ton per ha), dan kedelai (0,5—0,6 ton per ha).

Dwi Asmono menekankan bahwa tidak ada negara atau komoditi lain selain Indonesia dan sawit yang mampu menghasilkan minyak dengan efisiensi dan keberlanjutan lingkungan yang sebanding.

Meskipun begitu, keunggulan kompetitif Indonesia dalam produksi sawit perlu terus dijaga mengingat perubahan dan anomali iklim.

Berdasarkan beberapa penelitian, diperkirakan bahwa kenaikan suhu sebesar 1°C dapat menyebabkan penurunan produksi minyak sekitar 10,17%. Bahkan jika suhu naik sebesar 2°C, 3°C, dan 4°C, potensi penurunan produksi minyak dapat mencapai 20,38%, 30,55%, dan 40,75%. (admin)

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga