Kamis, 30 Mei, 2024

Artikel Terbaru

PETANI “GHOIB”

OLEH : ENTANG SASTRAATMADJA

Kamis siang tanggal 2 Mei 2024 di Rumah Makan Bumi Aki, Jalan RE Martadinata Bandung, Jawa Barat, diselenggarakan silaturahmi sekaligus ngobrol-ngobrol antara Tim Advokasi PT Pupuk Indonesia dengan KTNA, HKTI, dan Asosiasi Distribusi Pupuk Jawa Barat. Silaturahmi berlangsung santai tapi serius dengan membahas soal Tambahan Alokasi Subsidi Pupuk dari 4,7 juta ton menjadi 9,5 juta ton.

Materi yang diobrolkan lebih menukik ke pendadaran masalah terkait dengan isu-isu aktual apa saja yang selama ini mengedepan dalam pelaksanaan program pupuk bersubsidi di lapangan. Persoalannya menjadi semakin menarik ketika ada informasi dari daerah yang meragukan pencapaian target 9,5 juta ton pupuk bersubsidi bagi petani.

Pertanyaannya, jangankan 9,5 juta ton, yang 4,7 juta ton saja, sepertinya hingga sekarang, belum seluruhnya ditebus oleh petani. Dari sekian banyak masalah yang disampaikan, ternyata ada persoalan menarik yang butuh pencermatan kita bersama. Masalah itu adalah terungkapnya istilah “petani ghoib”. Namanya ada dan tercantum dalam RDKK, tapi ketika dicari tidak ada manusianya. Betul-betul ghoib.

Soal kebijakan subsidi pupuk, bukanlah masalah yang gampang untuk diselesaikan. Problem menjelang musim tanam tiba, petani selalu mengeluh kelangkaan pupuk, seperti nya sudah menjadi hal yang biasa dialami para petani. Pemerintah pun terkessn santai-santai saja menyikapi nya. Pupuk langka atau menghilang dari pasar, selalu saja terulang. Pemerintah tak berdaya menanganinya.

Bagi petani padi, pupuk merupakan kebutuhan mendasar dalam menggarap usahatani yang digelutinya. Tuntutan Pemerintah untuk menggenjot produksi dan produktivitas, hanya akan terwujud, bila didukung oleh penggunaan pupuk yang tepat dan berimbang, baik dalam jumlah atau pun wsktu yang pas. Jadi, jangan harap produksi meningkat, jika pupuk yang dibutuhkan petani tidak tersedia dengan baik.

Sejak revolusi hijau bergulir sekitar tahun 1970an, penggunaan pupuk kimia betul-betul cukup inten dan jadi pilihan utama petani dalam menggarap usahataninya. Petani hampir tidak ada lagi yang menggunakan pupuk organik. Petani meyakini, pemakaian pupuk kimia akan mampu meningkatkan produksi dibandingkan dengan menggunakan pupuk organik. Hasilnya nyata. Tahun 1984, kita mampu meraih swasembada beras.

Dalam perkembangannya, penggunaan pupuk kimia yang berlebih dan diluar batas kewajaran, membuat lahan sawah menjadi semakin tidak sehat. Buktinya, di saat musim kering berkepanjangan banyak lahan pertanian yang mengeras, karena semakin menipisnya unsur hara dalam tanah. Gambaran sakitnya lahan, sebetulnya telah mengedepan sejak lama, tapi tidak dianggap sebagai hal serius.

Baru sekarang kita peduli, langkah pembombardiran lahan pertanian oleh pemakaian pupuk kimia, ternyata untuk jangka panjang membawa dampak terhadap kerusakan lingkungan. Sadar akan tidak sehatnya lahan pertanian, Pemerintah tampak mulai serius untuk menggunakan kembali pupuk organik. Kampanye “Go Organik” sendiri, kini telah mengumandang dan jadi salah satu prioritas kebijakan perpupukan di Tanah Merdeka ini.
Kembali ke petani ghoib.

Dalam pernyataannya, Ketua KTNA Jawa Barat Kang Otong menggambarkan bagaimana prosesnya sampai ditemukan istilah petani ghoib. Fenomena ini terungkap ketika Aparat Pemeriksa melakukan inkognito ke salah satu kios penyalur pupuk. Ketika dilakukan audit, ada petani yang terdaftar dalam Rencana Detil Kebutuhan Kelompok (RDKK), namun ketika dicek ternyata tidak ada orangnya alias ghoib.

Petani ghoib, hanyalah salah satu keanehan dalam kebijakan subsidi pupuk. Tentu masih banyak keanehan lain yang dapat kita bahas bersama. Kita sendiri tidak tahu dengan pasti, mengapa sampai ada yang namanya petani ghoib. Apakah karena kesalahan pada saat pendataan dilakukan atau ada pertimbangan lain yang memang ada skenario tertentu untuk melahirksn petani ghoib.

Petani ghoib, tidak seharusnya terjadi dan muncul jadi sebuah keanehan. Kalau saja penyusunan data base sesuai dengan aturan yang ada, tidak mungkin akan ada petani ghoib. Kita juga tidak tahu dengan pasti, ada berapa banyak petani ghoib yang tersebar di seluruh tanah air. Adanya, penambahan alokasi subsidi pupuk hingga 9,5 juta ton, dari sebelumnya 4,7 juta ton, hal ini merupakan kesempatan yang baik untuk dilakukan penyempurnaan data base.

Seiring dengan itu, sepatutnya PT Pupuk Indonesia dituntut untuk memiliki desain perencanaan yang utuh, holistik dan komprehensif dalam bentuk Grand Desain Penyelenggaraan Subsidi Pupuk 9,5 juta ton. Akan lebih keren, bila dilengkapi pula dengan penyusunan Roadmap pencapaiannya. Dalam Grand Desain tersebut perlu dilandasi oleh semangat SUKSES PERENCANAAN = SUKSES PELAKSANAAN !

Obrolan santai tapi serius tersebut, juga mengangkat isu tentang keberadaan dan kehadiran para Penyuluh Pertanian di lapangan dalam mensukseskan program subsidi pupuk itu sendiri. Berdasar pengamatan, tugas dan pekerjaan Penyuluh Pertanian terekam sudah “over load”, karena banyaknya proyek dari Kementerian yang mesti digarap. Akibatnya, dalam mendukung program subsudi pupuk ini ditempuh hanya untuk menggugurkan kewajiban samata.

Belum lagi para Penyuluh Pertanian harus melaksanakan tugas yang diberikan Kepala Dinas. Praktis para Penyuluh Pertanian tidak optimal dalam mendukung pelaksanaan subsidi pupuk bagi petani. Akibatnya wajar jika dalam pendataan petani dalam pengisian RDKK, banyak kekeliruan atau kesalahan teknis yang dilakukan, sehingga muncul yang namanya petani ghoib.

Semoga pengalaman adanya petani ghoib, tidak akan terjadi lagi di masa depan. Penyuluh Pertanian perlu lebih sungguh-sungguh melaksanakan peran dan tanggungjawabnya dalam mensukseskan program subsidi pupuk itu sendiri. Penyuluh Pertanian, tetap harus menjadi pendamping dan pengawal petani di lapangan.(PENULIS, KETUA HARIAN DPD HKTI JAWA BARAT).

ENTANG SASTRAATMADJA
spot_img
spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

baca juga