Senin, 4 Maret, 2024

Artikel Terbaru

Petani Masih Sulit Mengakses Pupuk Subsidi, Ini Usulan KTNA

ktnanasional – JAWA BARAT. Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) merespons soal penerapan aplikasi iPubers dalam penyaluran pupuk subsidi. Menurut Ketua KTNA Jawa Barat Otong Wiranta, petani masih menghadapi sejumlah kendala dalam menerapkan mekanisme online tersebut.

“Karena itu, kami ingin mengusulkan perubahan skema penyaluran pupuk subsidi itu,” kata Otong dalam diskusi virtual pada Rabu, 6 Desember 2023.

Seperti diketahui, Kementerian Pertanian dan Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) mengubah sistem distribusi pupuk subsidi ke petani melalui aplikasi iPubers. Namun, Otong mengatakan, petani menginginkan agar sistem dalam memperoleh pupuk subsidi ini lebih mudah.

KTNA pun mengusulkan agar sistem tersebut diubah. Menurut dia, mekanisme yang perlu diterapkan cukup membawa KTP saat menembus jatah pupuk subsidi, sehingga petani dan kios pupuk akan lebih mudah dalam melakukan transaksi pupuk subsidi ini.

Terlebih, menurutnya, petani belum sepenuhnya mengerti soal mekanisme mendapatkan pupuk yang baru atau transisi dari cara manual ke online. Terutama, kata dia, petani padi yang sudah sepuh yang mayoritas latar pendidikannya hanya SD atau SMP. Karena itu, Otong mengatakan petani tersebut menginginkan cara mengakses pupuk subsidi yang lebih mudah.

Ditambah kendala lainnya, yakni soal jaringan internet. Otong berujar jaringan internet di sejumlah daerah masih belum terkoneksi dengan baik. Imbasnya, banyak petani dan kios pupuk banyak yang kembali ke transaksi manual.

Otong juga menyarankan agar Kementerian Pertanian dan PIHC memperbarui data penerima pupuk bersubsidi. Sehingga, data yang digunakan valid untuk menentukan alokasi atau penyaluran pupuk bersubsidi kepada petani di wilayah tersebut.

Lebih lanjut, Otong mengungkapkan beberapa daerah masih memerlukan jenis pupuk yang kini sudah dihapus dalam daftar subsidi. KTNA juga mengusulkan agar dosis rekomendasi petani dapat dipenuhi.

Menanggapi hal itu, Senior Project Manager Advokasi Publik PIHC Yana Muhammad Haerudin mengatakan persoalan juga itu sudah menjadi sorotan pihaknya sejak lama. Utamanya soal petani yang belum mengerti mekanisme mendapatkan pupuk.

Menurutnya, itu memang salah satu yang harus diperbaiki. Ia menyatakan akan terus melakukan edukasi yang komperhensif, sehingga transisi dari manual ke online dapat berjalan lancar.

“Ini perlu waktu yang cukup untuk bisa merubah mindset petani. Kalau sudah tekadnya bulat untuk bisa berubah, apapun bisa dilakukan,” kata Yana. (admin)

artikel ini telah tayang di msn.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga