Jumat, 23 Februari, 2024

Artikel Terbaru

PETANI PAHLAWAN PANGAN

OLEH : ENTANG SASTRAATMADJA

Biasa nya perbincangan soal pahlawan atau nilai kepahlawanan kembali akan mengemuka dalam kehidupan tatkala bangsa kita sedang menyemaraki Hari Pahlawan. 10 Nopember kali ini, kita bakal memperingati Hari Pahlawan ke 77.

Heroik, tanpa pamrih, rela berkorban, tulus ikhlas adalah sederet kata kunci yang kerap kali muncul jadi topik perdebatan. Hal ini wajar, karena yang dikatakan pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani.

Itulah makna dan hakekat pahlawan. Siapa pun orang nya, asal memenuhi kriteria diatas, maka boleh-boleh saja disebut pahlawan. Kita mendengar guru sering disebut selaku pahlawan tanpa tanda jasa. Lalu, kita seting mendengar bahwa para petani, sangatlah pantas disebut pahlawan pangan.

Para tenaga medis yang berada di garda depan dalam menghadapi serbuan covid 19, sering disebut sebagai pahlawan kesehatan. Tidak terkecuali mereka yang berkiprah di dunia olah raga dan mampu mengharumkan nama bangsa dan negara, pantas disrbut sebagai pahlawan olah raga.

Sekurang-kurang nya ada dua fenomena penting mengapa para petani di negeri ini layak diberi predikat sebagai pahlawan pangan. Pertama adalah kisah sukses Swasembada beras tahun 1984 dan Swasembada Beras 2019-2021. Tercapai nya prestasi yang membanggakan ini, salah satu nya diraih oleh kesungguhan dan keseriusan para petani dalam menggenjot produksi dan produktivitas tanaman padi.

Pada tahun 1984 misal nya, bangsa yang selama ini dikenal sebagai importir beras yang cukup besar di dunia, tiba-tiba muncul menjadi bangsa yang mampu berswasembada beras. Bahkan kala itu kita mampu menyumbangkan hasil produksi beras nya ke negara Efhopia yang sedang dilanda kelaparan dan kekurangan bahan pangan.

Berkat jerih payah para petani inilah Kepala Negara kita diminta oleh Badan Pangan Dunia di Roma, Itali, untuk menyampaikan kebijakan strategi dan program pembangunan pertanian nya, sehingga mampu berswasembada beras. Tanpa kerja keras para petani, sangat tidak mungkin FAO akan mengundanf Presiden Soeharto untuk membewarakan keberhasilan nya. Itu sebab nya, wajar jika kita menyebut petani sebagai pahlawan pangan.

Kedua terkait dengan kerelaan dan ketulusan para petani dalam memberi makan bangsa ini, khusus nya mereka yang tinggal di perkotaan. Dapat dibayangkan apa yang bakalan terjadi jika para petani menggelar acara mogok bertani. Siapa ke depan nya yang akan memberi makan orang kota ? Rasa tulus dan rela berkiprah inilah yang menjadikan petani wajsr disebut selaku pahlawsn pangan.

Selain dua fenomena ini, tentu masih banyak kiprah petani lain nya yang dapat kita perbincangkan lebih lanjut. Petani memang tidak pernah memohon balasan yang berlebihan atas kiprah nya selama ini. Petani tidak menuntut agar mereka diberi bintang kehormatan atau tanda jasa. Mereka hanya meminta kepada Pemerinrah dan Negara untuk dapat hadir di tengah-tengah kehidupan nya ketika petani membutuhkan nya.

Sebut saja ketika terjadi kelangkaan pupuk bersubsidi di saat musim tanam tiba. Petani akan kecewa bila Pemerintah lambat bergerak, bahkan terkesan membiarkan nya. Lalu, ketika berbagai komoditi sayuran harga nya anjlok di pasaran. Petani ingin agar Pemerintah segera turun ke lapang dan tidak membiarkan petani sendirian menghadapi nya.

Keinginan petani yang demikian, sudah seharus nya menjadi perhatian kita bersama. Kita harus berani memberi penghormatan yang optimal kepada para petani. Bila salah satu tugas Pemerintah adalah mensejahterakan petani beserta keluarga nya, sudah sepatut nya hal itu dijadikan prioritas dalam perumusan kebijakan dan strategi pembangunan nya. Pertanyaan nya adalah mengapa hingga kini kehidupan kaum tani belum sejahtera ?

Petani hidup sejahtera terekam masih menjadi penghias pidato para pejabat. Dicermati dari Nilai Tukar Petani (NTP), ternyata kondisi kehidupan nya masih memprihatinkan. Petani tetap terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan yang tak berujung-pangkal. NTP sebagai indikator kesejahteraan petani, khusus nya petani padi, masih jauh dari angka yang diidealkan. Lebih dari 2 dasa warsa reformasi berjalan, NTP terkesan jalan ditempat. Betul-betul memilukan.

Andaikan kita telah sepakat bahwa petani pantas disebut pahlawan pangan, lalu balasan apa yang sebaik nya kita berikan kepada mereka ? Jawaban yang cukup pantas adalah segera sejahterakan kehidupan nya. Jangan biarkan kaum tani terjebak dalam kubangan kemelaratan nya. Buktikan bahwa negara selalu hadir dikala para petani dirundung persoalan.

Yang lebih esensial, mari kita buktikan dengan nyata bahwa kehadiran UU No. 19/2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani itu, bukanlah sebuah rangkaian kata dan kalimat yang tidak memiliki ruh. Namun sesuai dengan spirit nya, UU ini betul-betul memiliki semangat untuk membela petani atas beragam soal yang mencengkram nya.

Itulah sebetul nya salah satu balasan kita kepada petani sebagai pahlawan pangan. Tentu masih banyak balasan yang lain nya lagi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga