Sabtu, 24 Februari, 2024

Artikel Terbaru

Petani : Pemulia Tanah Air Negeri Indonesia

ktnanasional.com – SAMARINDA. Pertanian sudah lama berada dalam sebuah paradoks. Meski merupakan negeri agraris, Indonesia tak berhasil membangun kedaulatan pertanian. Sejak jaman penjajahan Belanda sistem pertanian terbagi dua yakni sistem pertanian pribumi dan sistem pertanian perkebunan. Sistem pertanian pribumi atau petani selalu diperas atau diekploitasi. Pertanian tidak menguntungkan untuk mereka hingga kemudian lahan-lahannya mudah diambil alih jika ada tawaran yang menurut mereka lebih baik. Hingga sekarang petani yang adalah penghasil atau penyedia pangan tidak bisa menentukan sendiri harga komoditas yang dihasilkan olehnya.

Dua jenis kebutuhan yang ‘abadi’ adalah pangan dan energi. Hanya saja dua penyedia atau produsen pangan serta energi nasibnya jauh berbeda. Mereka yang bekerja di sektor pertambangan atau ektraksi sumber energi masuk dalam bagian orang-orang kaya, sebagian menjadi ‘sultan’ dan bahkan tercatat sebagai orang terkaya di Indonesia.

Coba bandingkan dengan petani, para penyedia pangan. Nasibnya sungguh berbeda seperti bumi dan langit.

Mestinya petani tidak miskin, namun sebagai produsen bahan pangan ternyata petani tidak bisa menentukan harga komoditas. Kuasa harga ada di tangan tengkulak. Petani selalu menjual dengan sistem borongan, tidak sampai pada proses grading, sizing, labeling dan seterusnya.

Petani menjadi semakin tidak ‘cuan’ karena model pengelolaan lahannya dan budidaya tanamannya amat tergantung pada pupuk dan bahan lain yang mesti dibeli dari produsen. Ongkos produksi tinggi namun harga jual tidak dikuasai. Keringat petani diperas untuk memperkaya orang lain yang tidak ikut berkeringat.

Fakta ini tak bisa dipungkiri. Data dari BPS pada tahun 2021 menunjukkan rumah tangga miskin yang bekerja pada sektor pertanian menjadi kontributor terbesar keluarga miskin di Indonesia, jumlahnya mencapai 46,30 persen. Hampir separoh orang atau keluarga miskin berasal dari kelompok petani.

Tentu saja ini menjadi paradoks mengingat pangan merupakan kebutuhan utama masyarakat namun penghasil atau penyedianya justru menjadi kelompok masyarakat yang paling menderita. Jangan-jangan ketika banyak subsidi negara di hapus, pada giliran berikutnya petanilah yang mensubsidi kebutuhan hidup sebagian masyarakat Indonesia.

Meski potensi untuk meningkatkan kesejahteraan melalui pertanian selalu terbuka lebar namun ada kendala lain yakni penurunan mutu lahan yang makin lama makin cepat dan akut. Lahan pertanian pada umumnya telah terpapar selama bertahun-tahun oleh pupuk non organik sehingga kehilangan sumber penyubur alaminya, tanahnya juga makin lama makin mengeras dan sulit untuk meresapkan air.

Di masa lalu pupuk non organik mungkin baik untuk petani, mampu meningkatkan produksi bahkan sempat membuat Indonesia swasembada beras di masa orde baru. Namun pengaruh buruh yang sifatnya akumulatif kemudian mulai dituai oleh petani saat ini dan juga masyarakat pada umumnya.

Pemakaian pupuk non organik dan pestisida yang berlebihan selain berdampak pada lahan atau lingkungan ternyata juga berdampak buruk bagi kesehatan masyarakat. Kandungan bahan kimia berbahaya pada sumber pangan walaupun kecil namun karena dikonsumsi terus menerus pada akhirnya secara akumulatif akan membesar dan menyebabkan gangguan kesehatan.

Masyarakat yang mulai sadar soal pangan yang sehat kemudian mulai mencari sumber-sumber makanan organik. Hanya saja makanan organik kemudian dibranding berlebihan, dihasilkan dengan cara-cara yang tidak kalah mahalnya sehingga harganya juga tidak ramah kepada kantong masyarakat kebanyakan.

Padahal makanan organik adalah makanan yang biasa saja, bisa dihasilkan dengan cara yang biasa dan juga oleh orang-orang biasa.

Yang perlu ditata hanyalah isi kepala kita agar merubah paradigma dalam bertani, agar petani tidak diajari jadi pedagang, tetapi tetap pada jati dirinya sebagai pemulia tanah dan air, penjaga tanah dan air dengan memanfaatkan apa yang ada di lingkungannya.

BTC mempraktekkan pencampuran bahan pupuk alami berupa hijauan daun, abu dan kotoran kambing yang kemudian diperkaya dengan cairan mikro organisme lokal.

Catatan diatas bukan nasehat apalagi khotbah, itu semua merupakan saripati dari kegiatan saya hari ini mengikuti orang-orang yang mesti saya sebut sebagai Sang Perintis.

Bisa jadi saya ini kuper sehingga belum sebulan ini baru mengenal mereka, padahal saya sudah melanglang buana menyusuri sudut-sudut kota Samarinda. Tapi nyatanya ada yang terlewat.

Yang saya sebut sebagai Sang Perintis ini bergabung dalam sebuah organ, sebut saja organisasi non pemerintah bernama Bina Tani Cerdas, yang lebih enak disebut sebagai BTC, biar terdengar dekat dengan BTS atau BCL.

Disana ada Markus Taruk Allo, nama yang sebagian masyarakat Kota Samarinda kenal karena pernah hendak maju dalam kontestasi pemilukada Kota Samarinda dari jalur independen. ASN yang setelah pensiun kemudian terjun ke dunia politik ini, kini lebih dikenal aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial.

Kemudian ada Pak De Minto yang ketika fotonya saya kirim ke salah satu WAG yang saya ikuti, salah seorang teman dalam group berteriak “youtuber itu mas,”

Rupanya sosok dengan nama lengkap Sarminto ini cukup terkenal. Bisa jadi Pak De ini terkenal karena pengabdian yang panjang dalam dunia pertanian. Pak De Minto pantas disebut sebagai ilmuwan atau peneliti organik, intelektual di luar kampus atau lembaga penelitian namun mengabdikan diri pada pengetahuan untuk dibagikan kepada masyarakat luas tanpa slogan atau embel-embel program pengabdian masyarakat.

Pak De Minto piawai dalam menghasilkan formula baik pupuk maupun pestisida yang berbasis pada bahan entah tumbuhan atau bahan lainnya yang ada di sekitaran kita.

Dari antara Sang Perintis yang termuda yang juga merupakan founder dari BTC adalah Sunil. Nama panjang di facebooknya, Sunil Asfianoer Hispristomo.

Saya mengenalnya dari facebook dan berkomunikasi melalui messenger hingga kemudian kopi darat lalu bertukar kabar dengan whatsapp. Hingga kemudian saya mengunjungi kebunnya, melihat kesesuaian antara apa yang dikatakan dan dilakukannya.

Mas Sunil ini bukan hanya seorang petani tapi aktifis tani, jenis aktifisme yang langka di Kalimantan Timur yang punya jumlah aktivis berjimbun.

Meski belum terlalu lama mengenal dan belum terlalu banyak bertukar kesah, namun saya sudah berani menyimpulkan apa yang dipraktekkan, dihayati dan coba ditularkan olehnya adalah model atau jenis pertanian ekologis.

Yang saya maksudkan dengan pertanian ekologis adalah model pertanian yang menghormati dua daur, yakni lingkaran rantai makanan dan lingkaran atau siklus air.

Dengan menghormati dua daur ini maka pertanian ekologis secara keren disebut sebagai zerowaste farming, pertanian ramah lingkungan, ramah air sekaligus berkelanjutan.

Dalam konteks ini BTS meski tak pernah menyinggung soal pelestarian budaya, sesungguhnya mereka tengah meneruskan kebudayaan adiluhung dalam pertanian yang dulu dipraktekkan oleh leluhur tanah Kalimantan.

Secara kebudayaan tanah Borneo pernah mencapai puncak pengetahuan lewat para jenius lokal yang berhasil menciptakan model pertanian rotasi dan pasang surut. Dua model pertanian ini dipraktekkan di dua jenis lahan yang berbeda.

Mereka yang tinggal di sekitar hutan atau lahan kering mempraktekkan pertanian rotasi yang lazim dikenal sebagai Ladang Berpindah. Sedangkan mereka yang tinggal dipesisir atau pinggiran badan air entah sungai, danau atau rawa mempraktekkan pertanian pasang surut.

Kedua model pertanian ini tidak mengenal introduksi nutrisi atau asupan kesuburan tanah dari luar. Unsur hara diperkaya dengan dekomposisi material organik dari lingkungan yang terhubung dengannya. Sumber penyubur berasal dari lingkungannya sendiri yang terjaga.

Inilah inti dari pertanian organik, pertanian ekologis.

Founder BTC bersama Ketua RT 29 Berambai dan sebagian petani yang mengikuti kegiatan belajar pembuatan pupuk organik dan silase {pakan ternak kering}.

Secara kebudayaan model pertanian rotasi dan pasang surut sudah sulit untuk dipraktekkan baik karena perubahan bentang lahan maupun kebijakan. Masyarakat yang mempraktekkan pola pertanian ladang berpindah, jika salah-salah bisa kena pidana karena dianggap merambah atau bahkan membakar hutan.

Tapi tak berarti budaya pertanian organik seperti itu akan mati. Roh atau esensi yang mendasari model pertanian rotasi atau pasang surut bisa tetap terpelihara lewat model pertanian ekologis atau pertanian organik.

Pada pola pertanian menetap petani bisa tetap mempraktekkan spirit para pendahulu masyarakat Kalimantan Timur yang amat menghormati tanah, bertani tanpa melukai atau menyakiti tanah.

Para petani sekarangpun bisa melakukan hal itu untuk memperoleh hasil yang berlimpah sekaligus sehat baik untuk tanah dan air atau lingkungan maupun masyarakat. Caranya adalah dengan mengolah atau mengelola lahan pertanian tanpa mengintroduksi penyubur non organik yang bakal meracuni tanah, meninggalkan residu yang sulit untuk dibersihkan.

Budaya pertanian organik, pertanian ekologis yang menjaga daur rantai makanan dan daur air yang diwariskan oleh leluhur tanah Borneo tidak hilang, budaya itu tetap bisa dijaga dalam model yang berbeda namun sama-sama akan menjamin keberlanjutan penggunaan lahan dan kawasan agar tetap produktif untuk menghasilkan sumber pangan.

BTC bisa disebut sebagai penjaga kebudayaan karena berupaya memperkenalkan kembali paradigma pertanian berkelanjutan dengan menggunakan sumberdaya tempatan. Agar petani tetap menghormati apa yang ada di alam, bukan menjadi petani yang kejam karena hanya ingin menjaga dan mempertahankan kehidupan apa-apa yang ditanamnya.

Pertanian model seperti ini akan membuat petani berpikir rumput, semak, tumbuhan lain dan juga binatang sebagai musuh atau hama. Padahal semua itu adalah sumber penyubur, penjaga kelembaban tanah, pelindung mikroorganisme yang akan mendekomposisi material organik sehingga menghasilkan nutrisi untuk tanaman.

Yang disebut dengan pupuk organik sesungguhnya adalah sekresi dari mikroorganisme yang melahap berbagai material organik sehingga menjadi kompos, cairan dan lain-lain.

“Serangga tak perlu dibunuh dengan pestisida atau obat pemusnah hama yang mahal,” ujar Pak De Minto.

Pak De Minto kemudian menerangkan tip atau trik untuk memilih bahan pembuat pestisida yang ada dilingkungan kita.

“Kalau yang diserang adalah buah atau daun pohon tertentu, lihat bagian mana yang tidak diserang. atau pohon lainnya yang tidak diserang. Itulah bahan untuk pestisidanya,” terang Pak Dhe Minto.

Cara lain untuk melokalisir serangan hama atau serangga adalah dengan membuat refugia. Sekitar tempat bercocok tanam ditanami dengan tumbuh-tumbuhan yang dapat mengundang atau menyediakan musuh alami seperti predator atau parasitoid sebagai mikrohabitatnya sehingga bisa mengendalikan penganggu tanaman secara alami.

Saya melihat Mas Sunil melakukan hal itu di kebunnya. Disekitar bedeng untuk menanam lombok, kangkung, ubi jalar dan lainnya ada pemandangan indah, tumbuhan berbunga dan lain-lain yang selain mempercantik pemandangan juga mengundang musuh alami penganggu tanaman.

Pilihan tentu saja ada di tangan petani, mau hasil cepat dan banyak tapi akhirnya boncos atau ikut berproses dengan alam dan yakinlah hasilnya bukan hanya bisa dituai dalam bentuk menjual hasil panenan tapi ada lagi hasil tuaian berupa jasa ekologi yang nilainya juga besar jika diuangkan.

Dari kebersamaan bersama BTC setengah hari bersama 3 kelompok tani di Berambai, sepanjang jalan saya menemukan bahwa petani sesungguhnya adalah Pemulia Tanah Air Negeri Indonesia.

Penulis : Sunil Aspianur. Medkominfo PPPSI Kaltim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga