Sabtu, 20 April, 2024

Artikel Terbaru

PETANI : PENIKMAT ATAU KORBAN PEMBANGUNAN ?

ktnanasional.com – JAKARTA. Tidak seharusnya, pembangunan membawa korban. Apalagi jika yang menjadi korbannya adalah kaum tani. Ini penting dicatat, karena di negeri agraris, para petanilah yang jadi tulang punggung pembangunan. Merekalah yang menjadi aktor utama dalam menghasilkan bahan pangan yang menjadi sumber kehidupan segenap warga bangsa.

Itu sebabnya, menjadi sangat memilukan, jika petani tidak mampu menjadi tuan di atas lahannya sendiri. Di sisi lain, tidak mungkin dipungkiri, kalau selama ini alih kepemilikam sawah semakin sering terjadi. Petani tidak peduli lagi atas lahan yang dikuasainya. Mereka lupa, sawah yang dimilikinya itu, merupakan bukti akan kedaulatan petani atas lahan yang dikuasainya.

Semua orang tahu persis, petani di negeri ini, khususnya petani berlahan sempit, hidup dalam kondisi yang memprihatinkan. Penghasilannya yang minim, bahkan dibawah garis kemiskinan, membuat mereka kesulitan untuk membebaskan diri dari belenggu kemiskinan. Dengan pendapatan sekitar Ro. 5000,- per hari, petani betul-betul susah untuk berubah nasib.

Di banyak daerah, para petani hidup hanya sekedar menyambung nyawa agar roda kehidupan tetap bergulir. Potret diri petani yang demikian, sangat tidak baik dibiarkan berlarut-larut. Kita ingin agar hak petani untuk hidup sejahtera, betul-betul dijadikan titik kuat dalam penyusunan program dan kegiatan di lapangan. Tugas dan kewajiban Pemerintahlah untuk mensejahterakan da membahagiakan petani.

Profesi petani, bukanlah pekerjaan yang tidak bergengsi. Menjadi petani merupakan profesi yang penuh dengan kemuliaan. Bekerja menghasilkan bahan pangan yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat, tentu tidak bisa diukur dengan uang. Bayangkan, bila petani mogok kerja tidak mau beramgkat ke sawah dan menggelar aksi demo di halaman kantor Bupati misalnya, maka siapa yang akan memberi makan kita semua ?

Artinya, keliru sekali jika kita dalam merumuskan kebijakan yang dilahirkan, tidak serius merancang program yang berorientasi meningkatkan harkat dan martabat petani. Hal ini sangat relevan dengan spirit diterbitkannya Undang Undang No. 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani.

Langkah Pemerintah untuk mensejahterakan petani, sebetulnya telah banyak ditempuh. Setiap Pemerintahan yang manggung, memiliki strategi khusus untuk terwujudnya kehidupan petani yang sejahtera. Salah satunya dengan program Penyuluhan Pertanian yang hingga sekarang masih dilakukan.

Sebagai proses pembelajaran, pemberdayaan dan pemartabatan, Penyuluhan Pertanian dituntut untuk dapat merubah perilaku petani ke arah yang lebih baik. Sikap, tindakan dan wawasan yang selama ini terekam fatalis, sudah saatnya digantikan dengan yang profesional, progresif dan responsif dalam menyambut tibanya masa depan. Ujung dari kesemua langkah ini adalah kesejahteran petani.

Namun begitu, sangat disesalkan. Seabreg langkah yang dirancang Pemerintah, rupanya belum mampu mewujudkan kehidupan petani sejahtera secara signifikan. Kata sejahtera bagi petani, masih terkesan utopia. Suasana hidup sejahtera masih seperti kita mengecat langit. Entah kapan kondisi itu dapat tercapai. Potret petani sendiri, sepertinya masih belum banyak berubah nasib.

Jerat kemiskinan, masih mewarnai kehidupannya. Terlalu banyak fakta kehidupan yang membuat petani layak disebut sebagai korban pmbangunan. Sebut saja kebijakan pupuk bersubsidi. Selain programnya menjadikan lahan sawah sakit, karena dibombardir pupuk kimia, ternyata setiap musim tanam tiba, petani selalu kesulitan memperoleh pupuk. Kelangkaan pupuk di musim tanam menjadi soal yang susah diselesaikan.

Resiko memvonis petani sebagai “pahlawan pangan”, tentu saja menuntut kepada Pemerintah untuk memberi penghormatan yang pantas dengah atribut diatas. Diterjemahkan secara bebas, pahlawan pangan adalah orang yang berjasa di bidang pembangunan pangan. Sejak puluhan tahun lalu, petani tetap komit dan konsisten menggeluti profesinya bercocok tanam untuk menghasilkan bahan pangan yang selama ini dibutuhkan untuk menyambung nyawa kehidupan.

Catatan kritis yang menarik kita dalami, balasan seperti apa yang diberikan Pemerintah kepada para petani ? Apakah Pemerintah sudah membuktikan spirit mensejahterakan petani adalah kewajiban dan tanggungjawab Pemerintah ? Atau belum, mengingat yang sekarang muncul, masih sebatas jargon ?

Pembangunan Pertanian yang kita lakukan, salah satu tujuannya adalah membuat para petani sejahtera dan bahagia, selain tentunya meningkatkan produksi dan produktivitas hasil pertanian.
Petani tidak boleh terpinggirkan dari pentas pembangunan. Ini berarti, pembangunan harus mampu menjadikan petani sebagai penikmat pembangunan, bukan sebaliknya menjadi korban pembangunan.

Pertanyaannya adalah apakah para petani sudah bisa disebut sebagai penikmat pembangunan ? Atau belum, dimana petani, khususnya petani berlahan sempit masih layak dikatakan selaku korban pembangunan ? Jawaban inilah yang dibutuhlan dengan jujur, agar kita dapat merumuskan kebijakan, program dan kegiatan yang dapat mempercepat terwujudnya cita-cita diatas.

Demikian, sedikit catatan terkait dengan hasrat untuk menjadikan petani sebagai penikmat pembangunan. Kita percaya, Pemerintah tidak akan terus-terusan menjadikan petani sebagai korban kebijakan. Kita ingin apa yang tertuang di atas kertas akan sama dengan penerapannya di lapangan. Ayo buktikan, kita mampu membuat SATU antara TUTUR KATA dan PERBUATAN.

OLEH : ENTANG SASTRAATMADJA (PENULIS, KETUA DEWAN PAKAR KTNA JAWA BARAT).

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga