Jumat, 23 Februari, 2024

Artikel Terbaru

Petani Porang Jatim Mengeluh Harga Anjlok: Pemerintah Lepas Tangan

ktnanasional.com – Surabaya, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Tanaman Pangan mengumpulkan sejumlah pengusaha dan petani porang di Surabaya pada Kamis (6/7/2023).
Dalam acara ini, para petani porang tidak mendapat kepastian dari pemerintah dalam hal ini Kementan RI terkait harga umbi porang basah yang harganya anjlok. Harga anjlok itu usai pemerintah menggembar-gemborkan ke masyarakat dan petani untuk menanam porang.

Salah satu petani porang asal Madiun bernama Suharno mengaku keluhan petani tidak digubris dalam pertemuan ini. Pria yang juga anggota Asosiasi Petani Porang Madiun Nusantara ini heran keluhan petani tidak dihiraukan.

“Kami bertanya soal harga umbi porang basah, tadi sudah kami sampaikan, tapi ditanggapi agak berbeda, buruk. Yang intinya harapan petani porang Indonesia itu bisa ada solusi, bisa terurai apa yang terjadi 3 tahun terakhir ini di mana harga porang jatuh yang pada akhirnya para pabrikan jatuh,” kata Suharno.

Suharno menyebut pertemuan ini tidak menghasilkan titik temu.

“Saya boleh mengatakan demikian (pemerintah omong kosong, dulu gembar-gembor). Saya khawatir petani porang dengan pabrikan nggak ada masalah sebenarnya. Ketika pabrikan itu memproduksi, petani mensuplai bahan baku kan selesai,” jelasnya.

“Yang tidak selesai ini masalah regulasi pemasaran ini yang ekspor ke Cina, okelah itu (negara tujuan) satu-satunya, ya nggak apa-apa. Tapi harganya terus di bawah nadir sudah. Sama sekali tidak sesuai harga umbi basahnya. Malah Rp 2.200 di daerah Madiun tempat saya,” kata Suharno

Petani yang memiliki lahan 1 hektare di Saradan ini menyebut Pemerintah gembar-gembor mengajak petani dan warga menenam porang, kemudian lepas tangan.

“Iya (pemerintah lepas tangan). Padahal pinjaman masih belum terbayar, ya KUR,” keluh Suharno.

Suharno juga menyebut Pemerintah lewat Dirjen Tanaman Pangan Kementan RI justru memberi opsi yang tidak masuk akal.

“Dia direktur menghendaki agar ada alternatif lain untuk pemasarannya (porang) itu agar ada beraneka ragam makanan dari porang agar bisa membantu harga porang naik. Ya itu omong kosong (pemerintah),” jelasnya.

“Makannya saya bilang kalau pembahasan beranekaragam itu kan dari pengusaha semua sudah berusaha, tapi pasar itu tetap publik. Kalau publik tidak menganggap pasar ya nggak bisa toh. Porang itu intinya kan makanan luar negeri, nah ini kan eksportirnya ada di China semua. Mesin di China semua, sehingga China menguasai semuanya. Tapi mengapa harga ini kok jatuh? Apa ada permainan antara Cina dengan Indonesia dengan orang-orang yang ada di atas sana?,” keluh Suharno.

Pria yang sudah menanam porang sejak tahun 2010 ini mengungkap opsi pemerintah yakni menciptakan beraneka ragam makanan yang berasal dari porang. Menurutnya hal itu mustahil. Sebab, porang lebih banyak dikonsumsi di luar negeri.

“Dengan adanya regulasi ini kan otomatis siapa yang diuntungkan? Saya tadi usul langsung di-cut oleh panitia,” tegasnya.

Suharno menyatakan petani hanya ingin harga porang khususnya umbi basah berada di angka Rp 5-6 ribu per kilonya. Namun, saat ini harga porang di angka Rp 2.200-2.800 per kilonya. Dulu, sebelum pemerintah ‘koar-koar’ harga umbi basah porang di angka Rp 8-11 ribu per kilonya.

“Dulu diajak, dibiayai dan dipinjamin dari KUR Bank Mandiri dan BRI. Nyatanya saat ini harga hancur, hasil nggak ada. Ini remuk di tingkat petani. Saya pinjam uang modal Rp 50 Juta. Teman-teman saya juga banyak rugi besar yang nanam belasan hektar. Total di asosiasi ribuan hektar nanam porang,” terangnya.
“Kalau kemarin harga Rp 7-8 ribu yakin akan kembali (modal). Kalau Rp 2.200-2800 untuk biaya panen saja habis di lahan. Dari bawah naik ini kan biaya tinggi. Kita minta minimal Rp 5-6 ribu itu minimal sudah dapat untung sedikit banget untuk cicilan. Kalau di bawah itu tidak bisa,” tambahnya.

Sementara Cholis Multazim dari Asosiasi Petani Penggiat Porang Nusantara menyebut pemerintah lepas tangan. Saat ini, ia menyebut semua petani porang merugi.

“Saya petani sekaligus pedagang, harga sekarang tidak tentu dan tidak stabil. Kita rugi, bahkan ada yang menjual sawahnya. Teman-teman petani porang rugi semua,” ujarnya.

Cholis yang menanam porang di wilayah Dagangan Madiun sudah menanam porang sejak 2016 lalu. Awalnya harganya baik. Namun setelah pemerintah gembar-gembor, banyak yang menanam, sehingga suplai-demand tidak seimbang.

“Sekarang harga segini bikin kita pusing. Petani sangat dirugikan. Kami kredit belum juga lunas (KUR yang ditawarkan pemerintah),” jelasnya.

Direktur Pengelolaan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan Kementan RI, Batara Siagian menyebut pihaknya tidak perlu menyiapkan batas harga bawah untuk porang. Menurutnya saat ini yang diperlukan ialah porang diolah dalam beraneka ragam makanan dan bisa dinikmati warga Indonesia.

“Kalau harga batas bawah kan kalau kita tidak urgent buat apa diatur. Yang penting kan saat ini kan tarikan daripada komoditi itu, artinya bahan bakunya yang di lapangan itu bisa ditarik secara perlahan melalui ya itu hilirisasinya ditingkatin. Dan ini bisa menjadi segmentasi pasar baru di bidang pangan yang memenuhi karbohidrat,” bebernya.

“Jadi kita jangan lagi bertumpu, artinya emang kalau nggak ada beras kita nggak bisa makan yang lain? Ya bisa aja kan, tapi dikenalkan bahwa porang ini salah satu sumber karbohidrat yang berbeda mungkin karakteristiknya dengan beras atau komoditi lain, gandum,” sambungnya.

Batara juga mengungkapkan saat ini pemerintah berusaha mempromosikan hasil olahan porang terutama beras untuk bisa dinikmati di tempat-tempat eksklusif.

“Tapi ya itu tadi, bagaimana cara kita mempromosikan. Ya kita harus tarik di daerah-daerah yang memang dia eksklusif. Karena biaya produksinya dan biaya segala macamnya kan beda sama beras. Dia (beras porang) butuh harga lebih, ya wajar,” terangnya.

Dirinya juga mengakui gembar-gembor pemerintah pada tahun 2020 lalu untuk mengajak petani dan warga menanam porang menjadi penyebab harga umbi basah porang saat ini anjlok.

“Ya iya cerita kalau misalnya umbi basah murah itu kan itu dampak dari tiga tahun yang lalu ya, ketika kita sangat gembar-gembor dengan porang, tapi hilirisasinya nggak dikembangkan, marketnya nggak dikembangkan,” ujarnya.

“Tapi kita kan konsisten ini, mulai hari ini kita akan coba kita tarik hilirisasinya dengan baik sehingga orang hilirisasinya menarik hulunya dengan baik, kayak gitulah,” tandasnya.

Sementara detikJatim sudah berusaha untuk mewawancarai para pengusaha, namun dari panitia Kementan RI melarang pengusaha berbicara. (admin)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga