Rabu, 24 April, 2024

Artikel Terbaru

Petani Resah Sawah Mulai Retak-Retak

ktnanasional.com – BANTEN,LEBAK. Lahan persawahan di sejumlah daerah mengalami kekeringan dan terancam gagal panen seiring musim kemarau yang memasuki masa puncaknya. Petani sangat mengharapkan bantuan pemerintah daerah untuk menyelamatkan lahan pertanian mereka.

Mulyadi (45), seorang petani Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, Banten, mengaku merasa bingung karena tanaman padi seluas tujuh petak miliknya mulai kekeringan dan terancam gagal panen. Saat ini, kondisi petak-petak sawah miliknya terbelah dan retak-retak akibat kekeringan itu. “Kami sudah tiga pekan tanam padi dan kini mulai kekeringan itu,” katanya, Senin (7/8/2023).

Petani di Kecamatan Warunggunung, Lebak, bernama Ahmad mengatakan, sudah sekitar dua pekan hujan tak turun di wilayahnya. Itu menyebabkan tanaman padi miliknya mulai terdampak kekeringan.

photo

Pertanian padi sawah yang mulai kekeringan diperkirakan sekitar puluhan hektare dan jika tidak mendapat pasokan air dipastikan tanaman padi mati. Para petani menanam padi pada Juli 2023 lalu di area persawahan tadah hujan dan tanam padi yang mengandalkan curah hujan. Karena itu, ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan pompa pantek dengan menyedot air dalam tanah karena area persawahan di wilayahnya tidak memiliki sumber air dari aliran sungai maupun irigasi.

“Saya kira satu-satunya dipasang pompa pantek yang bisa menyedot air dalam tanah,” katanya. Begitu juga petani lainnya di Kecamatan Maja Kabupaten Lebak, Suryadi (60), mengaku selama tiga pekan terakhir persawahan di wilayahnya seluas 20 hektare mengalami kekeringan.

Kemungkinan besar petani terancam gagal panen dan dipastikan mengalami kerugian. Kebanyakan petani di sini menggarap lahan pertanian padi di lokasi sawah tadah hujan dan dipastikan akan mengalami kekeringan jika kemarau. “Kami merasa kebingungan, kesulitan untuk mendapatkan pasokan air akibat El Nino itu,” katanya.

Dia berharap pemerintah bisa membangun embung untuk menampung air hujan. Air yang ditampung di embung nantinya dapat disedot dengan pompa untuk mengaliri persawahan.

“Kami berharap embung air itu para petani bisa tanam setahun tiga kali tanam,” kata Suryadi.

photoKepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Deni Iskandar mengatakan, pihaknya menginstruksikan kepada tenaga penyuluh agar melakukan pendataan area persawahan yang mengalami kekeringan akibat El Nino. Dengan adanya pendataan itu, kata dia, pihaknya dapat melakukan penyelamatan tanaman padi sehingga masih dapat dipanen setelah melalui pompanisasi atau penyedotan air dari aliran sungai.

Namun, sejauh ini, kekeringan persawahan belum begitu parah karena di beberapa lokasi masih tersedia pasokan air. “Kami berharap dengan melakukan pompanisasi dapat memenuhi ketersedian pasokan air,” katanya menjelaskan.

Stok beras
Pemerintah meminta Perum Bulog mengamankan pasokan beras di atas 2,2 juta ton pada akhir tahun ini untuk mengantisipasi ancaman kekeringan yang meluas. Badai El Nino tahun ini telah menjadi hantu bagi sektor pangan setelah beberapa tahun terakhir diuntungkan dengan iklim kemarau basah.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah telah menggelar rapat terbatas secara khusus untuk menyiapkan mitigasi kemarau ekstrem.

“Kita akan lihat di semester kedua ini, tapi mitigasi di ratas (rapat terbatas) sektor pangan bahwa stok beras jelang akhir tahun di atas 2,2 juta ton. Arahan kepada Bulog sudah jelas,” kata Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (8/7/2023).

Airlangga mengatakan, laporan kondisi terkini dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) akan menjadi perhatian pemerintah. Namun, di sisi lain, Kementerian Pertanian juga telah menyiapkan sejumlah antisipasi, seperti penyediaan lahan dan benih tahan panas untuk menjaga produksi beras.

photoIa menyerahkan kepada Bulog untuk mengatur penyerapan produksi, baik dari impor maupun petani. Namun, pemerintah mengingatkan, kebijakan impor tentunya diambil bila harga tak lebih mahal dari dalam negeri.

“Kita tahu, kalau itu masuk (impor harga tinggi), sama saja kita menaikkan harga. Tentu semua datanya ada di Bulog,” tegasnya.

Badan Pangan Nasional (NFA) pada pekan lalu menyampaikan, sebanyak 1,3 juta ton beras telah diamankan oleh Bulog. “Sudah diamankan 1,3 juta ton dengan target 2,4 juta ton sampai dengan akhir tahun,” katanya menambahkan.

Kepala NFA Arief Prasetyo Adi menyampaikan, Perum Bulog telah menyalurkan beras lebih dari 1,34 juta ton untuk stabilisasi pasokan dan harga pangan serta bantuan pangan untuk masyarakat berpendapatan rendah.

Ia menyebut, bantuan pangan beras periode tiga bulan pertama sampai dengan akhir Juli 2023 sebanyak 640 ribu ton telah selesai digelontorkan untuk 21,353 juta keluarga penerima manfaat (KPM). Pemberian bantuan beras tersebut diklaim sangat bermanfaat bagi masyarakat berpendapatan rendah yang membutuhkan.

Sementara itu, berdasarkan data BPS, inflasi Juli 2023 menunjukkan tren inflasi tahunan mengalami penurunan sejak Februari hingga Juli 2023 secara berurutan dari 5,47 persen, 4,97 persen, 4,33 persen, 4,00 persen, 3,52 persen, dan 3,08 persen. (admin)

Artikel telah tayang di republika.com

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

baca juga