Selasa, 28 Mei, 2024

Artikel Terbaru

Potensi dan Tantangan Ekonomi Perikanan

Pemerintah daerah perlu merumuskan rencana pengelolaan perikanan yang berkelanjutan.

OLEH Novindra (IPB University), Kastana Sapanli (IPB University), Novi Rosanti (Universitas Lampung), Tomi Ramadona (Universitas Riau) dan Lathifa Marsya Nathania Ferani (IPB University)

Penelitian di Kota Dumai, tepatnya di Kecamatan Medang Kampai dan Kecamatan Sungai Sembilan telah mengungkap potensi dan tantangan yang dihadapi oleh masyarakat nelayan. Kedua kecamatan ini dipilih sebagai lokasi penelitian karena banyaknya perusahaan atau industri yang terletak di sepanjang pesisir. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dan merumuskan strategi pengembangan ekonomi perikanan tangkap bagi nelayan di Kota Dumai.

Nelayan di sekitar pesisir Dumai merupakan nelayan skala kecil yang menggunakan jaring insang dan jaring udang dengan armada berukuran kecil 1-2 GT. Namun, mereka mengalami penurunan hasil tangkapan dan hasil tangkapan yang tercemar oleh limbah. Meskipun demikian, mereka tidak dapat meninggalkan profesi sebagai nelayan karena bersifat turun-temurun.

Pencemaran limbah, baik dari perusahaan maupun rumah tangga, sangat mempengaruhi pendapatan mereka, sehingga mereka membutuhkan program bantuan dan CSR dari perusahaan. Akibat penurunan hasil tangkapan, nelayan harus melaut dengan jarak yang lebih jauh dengan armada dan alat tangkap yang terbatas, sehingga membutuhkan usaha ekstra.

photo

Dinas Perikanan Kota Dumai telah melakukan upaya pemberdayaan bagi masyarakat nelayan dengan memberikan bantuan kepada beberapa Kelompok Usaha Bersama (KUB) berupa alat tangkap dan armada. Selain itu, langkah-langkah seperti aksi pembersihan pantai dan penanaman mangrove di sekitar kawasan pesisir Dumai dilakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Meskipun demikian, terdapat kendala dalam pengendalian pencemaran di sekitar kawasan pesisir Dumai, di mana kewenangan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Dumai hanya terbatas pada pendampingan dan pelaporan. Ketika DLH Kota Dumai melaporkan masalah tersebut kepada DLHK Provinsi Riau, penanganannya tidak dapat dilakukan dengan segera, menyebabkan dampak dari pencemaran tersebut lambat untuk ditanggulangi dan menyebabkan kekhawatiran bagi masyarakat sekitar.

Menurut Dinas Perdagangan, perdagangan ikan di Kota Dumai umumnya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik, namun ada juga jenis ikan kurau yang diekspor gelembung renangnya.

PT Pertamina Refinery Unit II Dumai telah mengambil langkah dalam menanggapi dampak pencemaran yang disebabkan oleh keberadaan kawasan industri di sekitar pesisir dengan menerapkan program “Bedelau Laut”, yang bertujuan untuk memberdayakan daerah tepi laut bagi nelayan berkelanjutan. Program ini sudah diimplementasikan di Kelurahan Tanjung Palas, Kecamatan Dumai Timur, dan direncanakan akan diperluas ke beberapa kawasan pesisir lain di Dumai.

Selain itu, perusahaan telah menjalankan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan industri. Langkah ini tidak hanya mencakup pemberdayaan pengolahan lele oleh istri nelayan, inovasi sistem pemantauan kualitas air menggunakan panel surya, inovasi alat sortir ikan, dan pengolahan cendol dawet yang bahan dasarnya terdiri dari 70 persen daging ikan lele, tetapi juga memberikan bantuan alat tangkap dan perbaikan kapal bagi nelayan yang aktif.

Prioritas utama dari program-program yang dicanangkan oleh Pertamina adalah keberlanjutan serta menciptakan pendapatan bagi masyarakat. Seiring dengan hal itu, berdasarkan pemetaan sosial, terdapat pihak ketiga yang bertugas untuk menganalisis potensi dan keluhan yang dialami oleh masyarakat, serta Pertamina juga membuka ruang bagi berbagai pihak terkait untuk melakukan kolaborasi dalam upaya pengembangan masyarakat yang berkelanjutan.

photo

Penelitian ini menyoroti tantangan kompleks dan potensi dalam pengembangan ekonomi perikanan tangkap bagi masyarakat nelayan di Kota Dumai, Provinsi Riau. Dengan pendekatan yang holistik dan berkelanjutan, strategi efektif dapat dirumuskan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi nelayan serta menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan di wilayah tersebut.

Nelayan yang terdampak penurunan hasil tangkapan karena isu pencemaran di sekitar pesisir perlu meningkatkan efisiensi dalam penangkapan ikan dengan mengadopsi alat tangkap yang lebih selektif atau teknologi ramah lingkungan. Selain itu, perlu peningkatan keterampilan nelayan dan eksplorasi alternatif mata pencarian, seperti budi daya ikan atau usaha terkait sumber daya laut.

Pemanfaatan teknologi informasi untuk akses informasi terkait kondisi perairan, prakiraan cuaca, dan tren penangkapan ikan dapat membantu optimalisasi waktu dan lokasi penangkapan. Pengembangan usaha wisata bahari lokal di sekitar pesisir Dumai juga dapat menjadi alternatif pendapatan yang berkelanjutan sambil menjaga kelestarian lingkungan. Pentingnya program pelatihan, pendidikan, dan bantuan teknis untuk meningkatkan kapasitas nelayan dalam manajemen perikanan yang berkelanjutan serta penggunaan teknologi modern dalam penangkapan dan pengolahan ikan tidak bisa diabaikan.

Pemerintah daerah perlu merumuskan rencana pengelolaan perikanan yang berkelanjutan dengan melibatkan semua pemangku kepentingan, termasuk nelayan lokal, peneliti, dan pengusaha perikanan. Tentunya, diperlukan sistem monitoring dan evaluasi yang kuat untuk memantau dampak kebijakan dan menyesuaikan strategi sesuai dengan perkembangan terbaru. (admin)

artikel ini telah tayang di republika.id

spot_img
spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

baca juga