Kamis, 30 Mei, 2024

Artikel Terbaru

Pupuk Bersubsidi dan Regenerasi Petani Jadi Isu Utama di Rembug Madya KTNA Cianjur

ktnanasional – JAWA BARAT, CIANJUR. Persoalan pupuk bersubsidi dan regenerasi petani menjadi dua isu utama yang muncul dalam Rembug Madya Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Cianjur yang digelar di Ruang Rapat Gabungan DPRD Cianjur pada Sabtu 11 Mei 2024.

Ketua KTNA Kabupaten Cianjur, Tavip Darmawan, menjelaskan, masyarakat khususnya petani masih mengeluhkan kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi. Meskipun pemerintah saat ini menaikkan 100 persen kuota pupuk bersubsidi menjadi 9,4 juta ton, namun permasalahannya yang masih dihadapi petani terkait dengan teknis penyalurannya karena tidak bisa sembarangan.

“Kalau sebelumnya petani untuk mendapatkan pupuk bersubsidi menggunakan kartu tani, tapi sekarang dipermudah cukup engan KTP. Tapi itu pun harus jelas betul-betul untuk petani yang berhak mendapatkan pupuk bersubsidi dan terdaftar di Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK),” katanya dalam keterangannya. yang diterima Cianjur Ekspres, Minggu 12 Mei 2024.

Sehingga, kata Tavip, peserta rembug memberikan masukan bahwa diperlukan adanya perbaikan RDKK oleh petugas penyuluh dan dinas pertanian. Pasalnya data yang terdapat saat di dalam RDKK masih belum valid.

“Sebagian besar masyarakat (petani,red) tidak paham dia masuk di RDKK atau tidak, dan berapa dapat kuota pupuk untuk ditebus. Sehingga langkah yang dilakukan disamping perbaikan data, juga perlu sosialisasi kepada petani,” ucapnya.

Masih soal pupuk bersubsidi, Tavip menegaskan, perlunya kemudahan bagi petani dalam menebus pupuk bersubsidi dan kepada penyalur, kios dan distributor untuk tidak dipersulit.

“Perlu dipermudah karena tidak semua petani bisa datang ke kios, biasanya petani itu menyuruh orang, pegawainya, tetangganya atau titip ke yang lain,” katanya.

Disisi lain, dia mengungkapkan, distributor membutuhkan legalitas untuk pengalokasian dan penetapan harga eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi.

“Kalau SK gubernur mungkin sudah turun, tapi dibutuhkan SK Bupati untuk pengalokasian dan penetapan HET pupuk bersubsidi, dan kemarin menurut informasi dari kepala dinas pertanian sedang dalam proses. Mudah-mudahan bisa segera diterbitkan dan segera sampai (pupuk,red)ke petani,” tutur Tavip.

Lebih lanjut Tavip mengatakan, isu terkait regenerasi petani juga muncul dan dibahas dalam rembug tersebut. Pasalnya saat ini petani tidak menjadi idola bagi kaum muda untuk sektor usaha.

“Ketika kita coba telusuri, ada dampak positif peningkatan indeks pendidikan masyarakat kita, kalau dulu di kampung sekolahnya rata-rata cuma SD dan bahkan banyak tidak sekolah, kalau sekarang pendidikannya rata-rata sudah SMA atau SMK,” katanya.

“Ini masalahnya, anak-anak keluaran dari SMA atau SMK mereka enggan terjun ke pertanian karena yang ada dalam benaknya harus pegang cangkul atau alat-alat pertanian yang cukup melelahkan. Mungkin ini membuat anak-anak muda malu, sehingga mereka tidak berminat dan ini perlu solusi dari pemerintah yang betul-betul bukan sekadar di atas kertas,” ujar Tavip menambahkan.

Meskipun pemerintah sudah melakukan upaya berupa program pendidikan dan pelatihan berupa petani milenial atau Youth Enterpreneurship And Employment Support Services (YESS) perlu ada tindaklanjutnya.

“Maksudnya begini, ketika anak-anak (muda,red) diberikan pelatihan pertanian kemudian setelah selesai apakah mereka melanjutkan di bidang usaha tani atau tidak. Karena fakta di lapangan, banyak anak-anak muda yang setelah mengikuti misalkan program YESS tidak meneruskan usaha tani, bahkan mereka ada yang memilih untuk menjadi buruh di pabrik atau menjadi pedagang. Padahal program YESS itu tujuannya untuk kaderisasi petani,” kata Tavip.

Menurutnya, hal tersebut yang harus diperhatikan oleh pemerintah dengan harapan anak-anak muda setelah di didik betul-betul di awasi dan dibina.

“Pemilihan peserta program petani milenial atau YESS itu juga betul-betul (harus,red) selektif dan ada harapan mereka yang akan dibina itu dari kalangan muda yang memiliki minat tinggi untuk berusaha atau mengembangkan usahanya di sektor budidaya pertanian dari hulu ke hilir. Baik di bidang agribisnisnya dan pemasarannya,” kata Tavip.

Tavip pun berharap, isu-isu yang dibahas dalam rembug madya KTNA Cianjur tersebut dapat menjadi catatan atau rekomendasi bagi pemerintah daerah dalam membuat atau menyusun kebijakan untuk pembangunan di sektor pertanian. (admin)

spot_img
spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

baca juga