Selasa, 27 Februari, 2024

Artikel Terbaru

Ratusan Hektare Lahan Pertanian di Jambi Mulai Kekeringan, Berikut Rinciannya

ktnanasional.com – JAMBI. Bencana kekeringan mulai dirasakan petani di Jambi. Lahan pertanian di beberapa daerah mulai mengalami kekeringan. Di Kerinci 45 hektar, Sungai Penuh 30 ha, Batanghari 60 Ha.

Di beberapa daerah lain, Tebo, Bungo, Sarolangun, Tanjabbar, Tanjabtim, belum ada lahan pertanian yang terdampak kekeringan. Namun hasil panen para petani menurun karena dampak kemarau.

Rumusdar, Kepala Dinas Pertanian dan Hortikultura Provinsi Jambi mengaku belum menerima rekapan dari kabupaten/kota terkait lahan pertanian yang terdampak kekeringan. “Kita sudah minta,” akunya (1/9) kemarin.

Diakui Rumusdar, memang ada lahan pertanian yang terdampak kekeringan tapi belum ada yang mengalami puso atau gagal panen. “Kita pantau terus (belum ada gagal panen),” tegasnya. Jika ada yang gagal panen atau puso akan diberikan bantuan. “Tapi dibuktikan dengan surat dari penyuluh, termasuk dari kepala desa,” katanya lagi.

Meski cuaca panas, masih ada petani yang panen. “Memang kondisi panen musim ini tidak sebagus pada Oktober lalu. Lumayanlah hasilnyo. Menurun, tapi tidak drastis karena di Jambi masih ada hujan sekali-sekali,” aku Rumusdar.

Di tempat terpisah, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Batanghari, Roma Uliana, mengatakan, dari 526 hektar luas lahan pertanian padi di wilayah Kabupaten Batanghari, 60 hektare terdampak kekeringan. Rinciannya, di Kecamatan Batin XXIV 8 ha, Mersam 2 ha, Kecamatan Maro Sebo Ulu 32 ha dan Kecamatan Muara Tembesi 18 ha.

“Data itu periode 18 Agustus, awal bulan berubah lagi, karena sekarang sudah ada turun hujan, bisa jadi lahan yang kekeringan berkurang,” aku Roma Uliana.

Sementara itu, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (TPHB) Kabupaten Bungo memastikan sekitar 4.500 hektar lahan pertanian di Kabupaten Bungo belum terdampak kekeringan.

“Memang sempat ada beberapa lahan persawahan yang tanahnya mulai pecah-pecah. Tapi sekarang sudah normal lagi karena hujan cukup sering mengguyur daerah kita,” ungkap Kepala Dinas TPHB Bungo, M. Hasbi, melalui Kabid Pertanian, A. Madjd.

Lebih lanjut Majid menyampaikan, untuk lahan pertanian di Bungo saat ini berlangsung beberapa musim.

“Ada yang baru tanam, ada yang sedang dalam pemulihan, ada yang panen hingga yang siap panen. Tapi secara keseluruhan lahan pertanian kita belum terdampak kekeringan,” tandasnya.

Begitu juga di Tanjungjabung Barat. Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura H. Zainuddin menyatakan tidak ada lahan kekeringan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Karena petani yang ada di Tanjung Jabung Barat menanam padi saat musim hujan.

“Kalau di Tanjab Barat tidak ada kekeringan karena petani menanam padi pada saat musim hujan kalau saat ini sudah selesai panen,” akunya.

Kalaupun ada yang melakukan tanam padi dua kali dalam satu tahun itu ada di desa Sri Agung Kecamatan Batang Asam. Namun di sana sistem airnya sangat baik jadi tidak ada kekeringan untuk persawahan.

Di Kabupaten Tanjabtim pun demikian. Belum terdampak dari siklus El Nino 4 tahunan itu. Belum ada laporan mengenai kekeringan lahan.

Dari data yang didapat dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, dari 2.055 ha pertanian sawah padi di Kabupaten Tanjabtim dari bulan Juni hingga Agustus 2023 belum ada yang mengalami kekeringan.

“Sampai sekarang kita belum ada laporan dari Satker terkait ada lahan padi petani yang kekeringan, karena di wilayah kita ini masih ada hujannya,” kata Sekretaris Dinas TPH Kabupaten Tanjabtim, Arna.

Saat ini, tanaman padi petani sudah menguning dan siap untuk dipanen. Bahkan sudah ada kelompok tani yang sudah melakukan panen dalam sejak beberapa bulan terkahir ini. “Di pertengahan bulan September ini saja di Simpang Datuk, Kecamatan Nipah Panjang akan panen,” jelasnya.

Meski begitu, pihak Dinas TPH Kabupaten Tanjabtim juga telah mengantisipasi terjadinya kemarau dengan cara memberikan surat himbauan kepada seluruh UPTD Balai Penyuluh Pertanian di 11 kecamatan tentang siklus El Nino 4 tahunan ini.

“Jadi kami sudah antisipasi dari awal, akan tetapi sekarang belum ada laporan ada lahan padi petani yang mengalami kekeringan,” sebutnya.

Sementara itum, Dinas Tanaman Pangan, Holtikuktura dan Perkebunan masih melakukan pendataan terkait berapa jumlah lahan kekeringan akibat kemarau yang sempat melanda Kabupaten Sarolangun.

“Kami masih inventarisir data dari lapangan. Untuk jumlah pastinya belum tahu,” singkatnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Provinsi Jambi, Edi Purwanto meminta agar pemerintah daerah melakukan pemetaan terhadap sejumlah daerah di Provinsi Jambi yang mengalami kekeringan.

“Kita minta agar pemerintah daerah untuk melakukan pemetaan pada daerah-daerah yang sudah terdampak kekeringan. Karena memang ini sudah memasuki musim kemarau dan memang sudah ada wilayah yang sudah terdampak dengan kekeringan air ini,” ujarnya.

Lebih lanjut disampaikan oleh Edi Purwanto bahwa persoalan kekeringan ini tidak hanya pada sektor kebutuhan rumah tangga akan tetapi juga pada sektor lain seperti pertanian. Terhadap sektor rumah tangga, Edi Purwanto meminta agar dilakukan penyuplaian air bersih ke masyarakat.

“Jangan sampai ada masyarkat atau satu wilayah yang mengalami krisis air bersih karena kekeringan ini. Kita minta skema penyuplaian air ke daerah terdampak sudah dilakukan sebagai antisipasi,”katanya.

“Kemudian untuk sektor pertanian, ini juga harus diperhatikan pada dinas terkait untuk berkoordinasi dengan perangkat desa. Maka tadi di perlukan petaan wilayah mana yang sudah terdampak kekeringan, sektor rumah tangga, pertanian ini juga harus di petakan,” pungkasnya. (admin)

Artikel telah tayang di jambiekspres.disway.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga