Kamis, 18 April, 2024

Artikel Terbaru

RI Punya Harta Karun yang Bikin Eropa Ketar-ketir, Apa Itu?

ktnanasional.com – JAKARTA, Pertanian merupakan salah satu sektor penting dalam sistem perekonomian Indonesia. Indonesia bisa tampil percaya diri di hadapan masyarakat dunia karena memiliki sektor pertanian yang mulai berkembang ke arah lebih baik.

Kakao merupakan salah satu produk pertanian andalan Indonesia yang mendatangkan banyak rejeki ke petani dan devisa negara. Sub sektor perkebunan dari potensi kakao Indonesia memang luar biasa bagi perdagangan Indonesia. Namun, di tengah potensi bak ‘harta karun’ dunia komoditas perkebunan ini justru tengah menghadapi tantangan hebat.

Belakang beberapa komoditas pertanian dijegal karena alasan berkontribusi terhadap deforestasi.
Komisi Uni Eropa (UE) pada 6 Desember 2022 lalu menyetujui Undang-Undang (UU) produk bebas deforestasi. Begitu diadaptasi dan diimplementasikan, UU ini akan menutup rantai pasok yang masuk ke kawasan itu dari produk-produk yang dianggap menyumbang deforestasi dan degradasi lahan.

kebijakan Uni Eropa yang dikemas dalam The European Green Deal (EGD). Dengan target mencapai netralitas karbon apa tahun 2050 dan mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 55% pada tahun 2030.

Begitu diadaptasi dan diimplementasikan, UU ini akan menutup rantai pasok yang masuk ke kawasan itu dari produk-produk yang dianggap menyumbang deforestasi dan degradasi lahan dan langsung berdampak pada komoditas pertanian di Tanah Air.

Untuk diketahui, hingga tahun 2021 sektor pertanian mengalami pertumbuhan sekitar 1,84% dengan kontribusi terhadap perekonomian nasional hingga sebesar 13,28%. Pada pertengahan tahun 2022, sektor pertanian juga menunjukkan pertumbuhan positif 1,37% dan memiliki kontribusi hingga 12,98% terhadap perekonomian nasional.

Subsektor perkebunan merupakan salah satu subsektor pertanian yang memberikan kontribusi terbesar terhadap perekonomian nasional. Hal ini tercermin dari kontribusi subsektor perkebunan terhadap produk domestik bruto (PDB) dengan rata-rata sebesar 3,51% selama periode 2016-2021. Sedangkan tanaman pangan 3,03%, peternakan 1,61%, hortikultura 1,52 persen, dan jasa peternakan lainnya 0,19%.

Sebagaimana diketahui, setidaknya ada tujuh produk pertanian Indonesia yang terkena imbas dari ‘tuduhan’ ini. Artinya, tidak ada satupun dari tujuh komoditas ini yang bisa masuk ke pasar UE jika pengertian deforestasi yang diadopsi adalah versi US dan AS bukan deforestasi versi Indonesia.

Mungkin persoalan sawit sudah sering di basah, namun kini yang menjadi menarik adalah komoditas pertanian dari Kakao alias bahan baku cokelat.

Mengapa menarik di bahas? Bukan tanpa alasan, Uni Eropa dinilai bakal terdampak dari kebijakan yang Ia buat sendiri.

Bak senjata makan tuan, pasalnya Uni Eropa mengkonsumsi produk yang dilarangnya. Sudah bukan rahasia bahwa masyarakat Eropa sangat menyukai cokelat, baik dalam bentuk padat maupun dalam sajian minuman hangat.

Di tahun 2022, nilai impor kakao Uni Eropa tercatat mencapai senilai UUS$ 7,41 miliar. Meski menurun dibanding tahun sebelumnya, namun angka ini tetap yang paling besar dari negara-negara lain. Tingginya tingkat konsumsi cokelat di kalangan rakyat Eropa tentu jadi daya tarik sendiri bagi produsen dan eksportir kakao Indonesia.

Menariknya, mayoritas justru impor dari berbagai negara. Salah satu pemasok terbesar produk cokelat Uni Eropa adalah Indonesia. Industri pengolahan kakao ada di Indonesia semua. Pabrik cokelat di dunia yang besar ada di Indonesia, Mars, Cargill, Nestle ada di Indonesia.

Pada daftar berikut ada 10 perusahaan cokelat dengan penjualan terbesar di dunia berdasarkan data yang dirilis tahun 2022. Dengan data ini, adakah perusahaan multinasional yang melibatkan Uni Eropa di dalamnya?

Lihat saja, Lindt & Sprungli AG merupakan perusahaan dengan penjualan cokelat terbesar mencapai angka US$ 4,6 miliar. Perusahaan makanan manis dari Swiss yang didirikan pada tahun 1845 dan terkenal akan truffle cokelat dan cokelat batangannya, di antara permen lainnya.

Selain itu, bercokol pula nama Nestle SA yang merupakan perusahaan produsen makanan dan minuman terbesar di dunia yang berkantor pusat di Vevey, Swiss dan telah beroperasi selama 150 tahun. Ia juga berdiri di Indonesia dan namanya tentu sudah tidak asing di telinga masyarakat Indonesia.

Potensi Kakao RI Memang Luar Biasa!

Selama ini, kontribusi subsektor perkebunan tercermin dari besarnya penyerapan tenaga kerja. Tenaga kerja subsektor perkebunan merupakan terbesar ketiga setelah peternakan dan tanaman pangan dengan nilai 19,08%.
Kemudian neraca perdagangan perkebunan juga selalu positif selama periode 2015-2019. Sedangkan neraca perdagangan subsektor lainnya negatif.

Meskipun subsektor perkebunan telah memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional, namun nilai tambah produk perkebunan masih rendah. Hal ini tercermin dari volume ekspor hasil produk olahan komoditi perkebunan masih didominasi oleh produk mentah atau intermediate.

Dari sisi Kakao sendiri merupakan salah satu komoditas perkebunan strategis yang peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional karena sebagai penyedia lapangan kerja, sumber devisa negara dan sumber pendapatan bagi petani.

Saat ini Indonesia menempati posisi ketiga sebagai negara produsen kakao dunia setelah Pantai Gading dan Ghana.

Perkebunan kakao di Indonesia mengalami perkembangan cukup pesat dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. Luas areal perkebunan kakao tahun 2001 tercatat sebesar 0.82 juta ha dan di tahun 2020 menjadi 1,53 juta ha atau meningkat sebesar 54,51%.

Namun, jika dilihat dari periode berbeda perkembangan luas areal kakao Indonesia selama periode tahun 2013-2022 mengalami penurunan sebesar -1,80% per tahun

Perkebunan kakao menurut status pengusahaan dalam periode 10 tahun terakhir (2012-2021), sebagian besar dikelola oleh Perkebunan Rakyat (97,57%), 1,01% dikelola Perkebunan Besar Negara (PBN) dan sisanya 1,42% dikelola Perkebunan Besar Swasta (PBS).

Berdasarkan data BPS, produksi kakao di Indonesia sebanyak 667.300 ton pada 2022. Jumlah tersebut lebih rendah 3,04% dibandingkan pada tahun sebelumnya yang mencapai 688.200 ton.

Melihat trennya, produksi komoditas yang menjadi bahan baku cokelat tersebut mengalami tren menurun sejak 2019 hingga saat ini. Kondisi itu salah satunya disebabkan oleh banyaknya pohon kakao yang sudah tua, sehingga tak lagi produktif. Adapun, Sulawesi Tengah menjadi provinsi yang paling banyak memproduksi kakao. Jumlahnya tercatat sebanyak 126.000 ton sepanjang tahun lalu.

Perkembangan produksi kakao Indonesia pada periode 2013-2022 juga berfluktuasi dengan rata-rata pertumbuhan naik tipis sebesar 0,96% per tahun. . Pada tahun 2013 produksi kakao Indonesia sebesar 721 ribu ton kemudian tahun 2022 (estimasi Ditjen Perkebunan) menjadi sebesar 732 ribu ton.

Dari hasil estimasi Ditjen Perkebunan, produksi kakao tahun 2022 (732 ribu ton) akan naik 3,63% dibandingkan tahun 2021 (707 ribu ton). Produksi tertinggi selama periode tahun 2012-2021 terjadi pada tahun 2018 yaitu sebesar 767,28 ribu ton.

Hasil olahan dari kakao berupa cokelat disukai hampir semua orang dari berbagai usia dan status sosial. Tingginya konsumsi cokelat juga didasari fakta bahwa cokelat bermanfaat pada kesehatan manusia. Salah satunya adalah mengurangi resiko penyakit jantung dimana cokelat, terutama cokelat hitam, memiliki kandungan zat flavanoid yang tinggi antioksidan untuk meminimalisir resiko penyakit jantung.

Menurut studi yang dilakukan Universitas New England pada tahun 2014, zat flavanoid yang terkandung di cokelat juga berfungsi untuk meningkatkan memori otak pada manusia.

Berdasarkan kajian Kementerian Pertanian, dari segi kualitas, kakao Indonesia tidak kalah dengan kakao dunia apabila dilakukan fermentasi dengan baik dapat mencapai cita rasa setara dengan kakao yang berasal dari Ghana.

Kakao Indonesia mempunyai keunggulan yaitu tidak mudah meleleh atau titik leleh tinggi (high melting point) meskipun rasa agak masam karena rendahnya kandungan Free Fatty Acid (FFA), namun karena keunggulannya maka kakao Indonesia sangat dibutuhkan dalam industri pengolahan cokelat, khususnya untuk industri kosmetik dan farmasi.

Sejalan dengan keunggulan tersebut, peluang pasar kakao Indonesia cukup terbuka baik untuk ekspor maupun kebutuhan dalam negeri. Dengan kata lain, potensi untuk menggunakan industri kakao sebagai salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan cukup terbuka.

Komoditas perkebunan sudah sejak lama diketahui sebagai komoditas andalan utama ekspor pertanian Indonesia. Hal ini terlihat dari neraca perdagangan sub sektor ini yang selalu bernilai positif selama kurun waktu 2017-2021, yang berarti bahwa nilai ekspor lebih besar dibandingkan nilai impor.

Komoditas ekspor utama dari Sub Sektor Perkebunan berdasarkan nilai, pada tahun 2021 terdiri dari kelapa sawit dengan kontribusi mayoritas sebesar 74,48%, dimana Indonesia merupakan produsen kelapa sawit terbesar di dunia.

Di sisi lain, jika ditinjau dari sisi produktivitas, untuk komoditas kakao di Indonesia selama kurun waktu 2013-2022 berfluktuasi dengan kecenderungan pertumbuhan menurun rata-rata sebesar -1,04% per tahun. Penurunan terjadi pada semua jenis status pengusahaan, baik PR (-0,84%), PBS (- 9,08%) dan PBN (-3,79%) per tahun.

Berdasarkan data rata-rata produksi kakao selama lima tahun terakhir (2016-2020), terdapat sembilan provinsi sentra produksi kakao di Indonesia yang memberikan kontribusi hingga 86,75%.

Namun dari potensi ini, sayangnya Volume ekspor kakao Indonesia pada periode 10 tahun terakhir memiliki tren yang menurun dengan rata-rata -0,39% per tahunnya. Volume eskpor kakao tertinggi pada tahun 2013 (414 ribu ton) dan volume terendah pada tahun 2016 (330 ribu ton).

Volume impor kakao Indonesia secara nominal lebih rendah dari volume ekspornya, tetapi memiliki tren yang menaik sangat signifikan mencapai 29,70% setiap tahunnya.

Pada tahun 2011-2020, rata-rata pertumbuhan nilai ekspor kakao bernilai negatif sebesar -0,25% per tahun. Nilai ekspor kakao tertinggi dicapai pada tahun 2011 sebesar US$ 1,35 milyar.

Sementara itu pertumbuhan nilai impor kakao pada periode yang sama jauh lebih tinggi menembus 21,45% per tahun, dengan nilai impor kakao tertinggi terjadi pada tahun 2019 sebesar US$ 776 juta.

Terakhir, yang harus diketahui bahwa Negara tujuan ekspor kakao Indonesia tersebar ke benua Amerika, Eropa dan Asia.

Negara tujuan utama ekspor kakao Indonesia adalah Malaysia dengan volume ekspor rata-rata sebesar 124 ribu ton (31,20%) sepanjang tahun 2016-2020. disusul Amerika Serikat (14,84%), India (5,96%), dan RRT (5,53%). Negara tujuan ekspor lainnya dengan pangsa pasar kurang dari 5% adalah Belanda, Filipina, Jerman, Australia, Brazil.

Menurut Kementerian Pertanian, pangsa pasar lain yang masih terbuka lebar untuk dilakukan penetrasi pasar bagi komoditas olahan kakao adalah negara-negara di benua Afrika seperti Mesir yang memiliki minat terhadap cocoa powder asal Indonesia

Di sisi lain, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus berupaya meningkatkan kinerja industri pengolahan kakao di Indonesia agar lebih produktif dan berdaya saing global. Apalagi, industri pengolahan kakao merupakan salah satu kelompok industri yang memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. (admin)

Artikel telah tayang di cnbcindonesia.com

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga