Senin, 4 Maret, 2024

Artikel Terbaru

Ribuan Petani Pidie Tak Dapat Pupuk Subsidi

ktnanasional – ACEH, PIDIE. Ribuan petani padi sawah di kawasan Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, gagal mendapatkan pupuk bersubsidi pemerintah. Padahal tanaman padi mereka yang kini berusia nol hingga 25 hari sangat membutuhkan pemupukan berimbang.

Karena itu sebagian petani di kawasan pesisir Selatan Malaka tersebut harus tertunda memupuk lahan sawah mereka. Kondisi ini dikhawatirkan akan berpengaruh besar terhadap pertumbuhan tanaman padi dan bisa berakibat penurunan hasil produksi gabah.

Untuk menghindari gagal produksi, sebagian petani terpaksa memembeli pupuk non subsidi. Padahal harganya jauh lebih mahal atau di luar jangkauan masyarakat petani kecil.

Amatan Media Indonesia di Kecamatan Delima dan Kecamatan Indrajaya sejak sepekan misalnya, para petani yang tidak mendapatkan pupuk bersubsidi itu sangat resah. Mereka sudah berusaha mendatangi pengecer resmi, namun tetap sajak tidak mendapat jatah untuk menebus.

Alasannya nama mereka tidak terdaftar sebagai penerima dua jenis pupuk bersubsidi yaitu NPK dan urea. Itu karena awalnya tidak terdaftar dalam kelompok tani.

Tokoh masyarakat tani Desa Mesjid Reubee, Kecamatan Delima, Mawardi, pada Sabtu, 9 Desember 2023 mengatakan, diri tidak bisa menebus (membeli) pupuk bersubsidi pada penyalur atau pengecer resmi setempat. Itu karena identitas Mawardi tidak terdaftar sebagai kelompok tani setempat.

“Padahal tanaman padi saya sudah berumur sekitar 14 hari. Tapi hinga kini belum ada pupuk. Entah pupuk apa yang harus saya pakai, supaya sawah tidak gagal produksi,” tutur Mawardi.

Muslim, petani lainnya di Desa Ceurih Kupula, mengaku setelah mengetahui namanya tindakan tertera dalam daftar aplikasi nama-nama penerima pupuk subsidi, terpaksa beralih ke pupuk non subsidi. Ironisnya harga pupuk non subsidi jauh lebih tinggi. Lalu tidak sesuai lagi dengan produksi hasil panen dan harga jual gabah.

“Harga pupuk bersubsidi jenis urea pengecer menjual Rp155.000 per sak (ukuran 50 kg). Sedangkan NPK subsifi Rp160.000 per sak. Tapi kalau NPK non subsidi besa mencapai Rp600.000 hingga Rp700.000 per sak,” jelas petani lainnya asal Desa Lhee Meunasah.

Sesuai penelusuran Media Indonesia, banyaknya petani gagal mendapatkan pupus bersubsidi pemerintah, diduga karena mereka tidak terdaftar sebagai anggota kelompok tani di tempat tinggal masing-masing. Tidak terdaftar dalam kelompok tani penerima manfaat karena ada beberapa hal.

Diantaranya si petani itu belum lama turun menjadi petani. Misalnya tahun sebelumnya saat terbentuk kelompok tani, mereka merantau di tempat lain. Sehingga tidak didaftar lagi ketika berada dikampung terutama ketika ikut bertani turun ke sawah.

Ada juga yang namanya terdaftar tetapi orangnya sudah meninggal. Itu pertanda pendaftaran tidak diperbaharui atau didata ulang.

Itu sebabnya, petani yang ingin menebus pupuk di pengecer, namanya tidak keluar dari aplikasi sistem komputer.

Alasan itulah mereka tidak termasuk dalam usulan RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok). Maka mereka tertutup peluang untuk menebus pupuk bersubsidi tersebut. Penyalur hanya melayani orang yang namanya terdaftar dan memiliki buku rekening kerja sama BSI. (admin)

artikel ini telah tayang di medcom.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga