Minggu, 21 April, 2024

Artikel Terbaru

Sawit Masih Primadona, Kakao Jadi Unggulan

ktnanasional.com – KALIMANTAN TIMUR, TANJUNG REDEP. Bidang perkebunan memiliki andil besar dalam pertumbuhan sektor pertanian. Dari 11,6 persen kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi Berau, perkebunan menyumbang sebanyak 6,1 persen.

Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Berau, Lita Handini mengatakan salah satu komoditas unggulan dalam hal ini kelapa sawit masih menjadi pendongkrak di bidang perkebunan. Meskipun turut ada juga komoditas lain seperti Kakao, Lada dan Karet.

“Kita ada juga komoditas penunjang seperti Pala, Kopi,” ujarnya Kepada Berau Post.

Saat ini, Berau memiliki luasan kebun sawit mencapai 150.000 hektare. Dengan 13 pabrik pengolahan sawit menjadi Crude Palm Oil (CPO) di beberapa kecamatan yang ada di Kabupaten Berau.

Meski begitu, Lita ingin komoditas kakao mampu ‘berjaya’ layaknya kelapa sawit. Apalagi hilirisasi komoditas kakao sudah terbentuk. Ditambah permintaan pasar lokal hingga luar negeri sudah ada dan cukup banyak.

“Bukan berarti komoditas yang lain dikesampingkan, karena kebutuhan pasar saat ini kakao sangat tinggi,” katanya saat ditemui di ruang kerjanya.

Pihaknya ingin para petani kakao bisa konsisten dan tidak beralih ke komoditas lain, seperti kelapa sawit. Karena tergiur untung yang dirasa berkali-kali lipat.

“Kakao itu sebenarnya lebih menguntungkan. Imbangannya itu penghasilan kelapa sawit 4 hektare dam dengan Kakao setengah hektare,” ucapnya.

Sebagai komoditas menjanjikan, dirinya mengungkapkan sudah ada dua perusahaan besar yang bisa menampung hasil dari panen petani kakao di Berau. Mereka bahkan bisa membeli dengan kondisi biji masih basah ataupun dengan kondisi kering.

“Jadi saat ini kami meyakinkan petani tidak hanya sawit, bahwa kakao juga bisa lebih menguntungkan,” tuturnya.

Kabupaten Berau memiliki juga beberapa rumah produksi olahan coklat yang dikelola oleh badan usaha milik kampung hingga perusahaan. Bahkan sudah mengeluarkan produk seperti cokelat bar, dodol cokelat dan keripik pisang.

Hanya saja, Lita mengakui saat ini Kabupaten Berau belum memiliki alat untuk mengolah bahan baku serbuk cokelat seperti yang ada di luar Berau. Sehingga masih menjadi salah satu kendala rumah produksi bagi Kampung Labanan Makarti dan Kampung Tumbit Melayu yang hanya menggunakan alat seadanya.

“Mereka hanya menggunakan alat panci sederhana dan juga blender,” imbuhnya.

Karena itu, pihaknya pun memprogramkan bantuan peralatan pengolahan cokelat bagi rumah produksi, agar produk yang dihasilkan semakin maksimal.

“Tahun ini kami berikan mesin sangrai, mesin penghancur dan mesin pembuat pasta cokelat. Tujuannya untuk memajukan produksi cokelat di Berau,” tutupnya. (admin)

artikel telah tayang di berau.prokal.co

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga