Jumat, 19 April, 2024

Artikel Terbaru

Sedikitnya 1.000 Hektar Sawah di Sidoarjo Terancam Gagal Panen

ktnanasional.com – JAWA TIMUR, SIDOARJO. Sedikitnya 1.000 hektar sawah di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, kekurangan air. Akibatnya, banyak petani terancam gagal panen.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Sidoarjo Eni Rustianingsih mengatakan, luas sawah yang ditanami padi sekitar 15.000 hektar. Umurnya 40-45 hari atau mulai masuk muncul bulir padi.

Akan tetapi, dia khawatir tidak semua sawah bisa panen. Akibat, El Nino, sekitar 1.000 hektar lahan bakal kekurangan air. Selama sebulan terakhir hujan tidak turun di Sidoarjo.

Wakil Bupati Sidoarjo Subandi mengecek kondisi tanaman padi yang kekeringan di Desa Sentul, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (24/8/2023). Tanaman itu sudah berusia 40 hari dan mulai mengandung bulir beras.

”Kekeringan paling banyak tersebar di kawasan tengah, seperti Kecamatan Sedati, Buduran, Gedangan, Waru, dan Kecamatan Taman. Sementara di selatan adalah Kecamatan Tanggulangin dan Kecamatan Jabon,” ujar Eni, Kamis (24/8/2023).

Di Tanggulangin, misalnya, lanjut Eni, terdapat 105 hektar lahan pertanian yang kekeringan. Penyebabnya, kecilnya debit Sungai Brantas sehingga tidak bisa mengalir ke irigasi pertanian.

Fenomena itu terjadi di Desa Sentul. Sekretaris Desa Sentul Solehudin mengatakan, total hamparan padi mencapai 138 hektar yang dikelola 202 petani. Sebanyak 80 hektar di antaranya kering dan tanahnya pecah-pecah.

”Potensi kerugian petani Rp 30 juta-Rp 35 juta per hektar. Nilai itu dihitung dari biaya pembelian benih, pupuk, upah tenaga kerja, dan perawatan tanaman,” ucap Solehudin.

Warga Kabupaten Mojokerto, Jatim, mengantre bantuan air bersih dari Pemprov Jatim, Senin (19/6/2023). Tiga desa di Mojokerto mengalami kekeringan yang mengakibatkan krisis air bersih.

Rozi (45), petani Desa Sentul, mengatakan, berkurangnya pasokan air terjadi sejak Juli lalu. Dia pasrah karena tak mampu membuat sumur bor dalam di sawah. Biaya yang diperlukan sangat besar.

Wakil Bupati Sidoarjo Subandi mengatakan akan segera mengumpulkan instansi terkait untuk mengatasi kekeringan. Tujuannya untuk menyusun upaya mitigasi dan mencegah gagal panen.

”Segera akan kami petakan lagi wilayah pertanian produktif dan saluran pengairannya. Ini harus duduk bersama melibatkan dinas pekerjaan umum dan sumber daya air, dinas pertanian, camat, kepala desa, serta para petani,” kata Subandi.

Pemkab Sidoarjo, lanjutnya, akan memetakan sawah atau lahan pertanian yang saat ini ditanami dan berpotensi kekurangan air. Setelah itu, dia akan mengatur ulang sistem pembagian air pada saluran irigasi yang bersumber dari Sungai Brantas dan anak-anak sungainya.

Pengaturan ulang itu juga harus diikuti dengan pengawasan pembagian air irigasi pertanian secara ketat. Tujuannya untuk mencegah penyelewengan atau praktik jual beli air secara ilegal dan mencegah konflik horizontal di petani.

Subandi juga akan berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Brantas untuk mengatur alokasi air dari hulu ke wilayahnya yang berada di hilir. Menurut dia, Sidoarjo merupakan daerah di delta Sungai Brantas sehingga seharusnya tidak mengalami kekurangan air.

”Saya yakin, persoalannya ini terjadi pada pembagian air yang tidak merata. Pemanfaatan air irigasi biasanya digilir sehingga harus diatur dan diawasi agar tidak sampai terjadi kekeringan. Kasihan petani karena mereka rugi besar,” ujar Subandi. (admin)

Artikel telah tayang di kompas.id

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga