Sabtu, 20 April, 2024

Artikel Terbaru

Sejarah Cikal Bakal Budidaya Ubi di Tanah Sumedang

ktnanasional.com – SUMEDANG, Ubi cilembu menjadi salah satu komoditas unggulan hasil pertanian di Kabupaten Sumedang. Beberapa petaninya bahkan telah merambah ke pasar ekspor.
Sebagaimana namanya, penghasil atau pemasar komoditas ubi paling signifikan di Kabupaten Sumedang berada di Desa Cilembu, Kecamatan Pamulihan. Lantas bagaimanakah cikal bakal perkembangan komoditas ubi di tanah Sumedang sendiri ?

Penulis cukup kesulitan mencari data awal mula sejarah tentang budidaya ubi di Kabupaten Sumedang. Namun paling tidak merunut pada buku berjudul Eenvoudig – Landbouwonderwijs – Teelt van Tweede Gewassen (Inde afdeeling Soemedang) atau Pendidikan Pertanian Sederhana – Budidaya Tanaman Kedua (di divisi Sumedang) dari Departement Van Landbouw, Nijverheid en Handel-Teelt Van Tweede Gew Assen atau Departemen Pertanian, Industri dan Perdagangan-Budidaya Tanaman Kedua (A.J. Koens, 1925) disebutkan bahwa wilayah yang paling signifikan dalam hal budidaya ubi di Kabupaten Sumedang kala itu adalah wilayah Kecamatan Tanjungsari.

“Slechts in het district Tandjoengsari worden bataten in eenige beteekenende hoeveelheden verbouwd, vooral op de droge gronden na hoemapadi. Elders komt ook wel wat batatenteelt voor, ook op sawahs na de padi, doch het zijn slechts kleine oppervlakten, welke er mee bezet zijn.”

Artinya :

(Hanya di Kecamatan Tanjungsari ubi jalar dibudidayakan dalam jumlah yang signifikan, terutama pada lahan kering pasca huma padi. Di tempat lain juga ada budidaya ubi jalar, juga ditanamnya di sawah-sawah setelah panen padi, tetapi hanya sebagian kecil saja).

Di sana disebutkan bahwa ubi jalar biasanya ditanam pada bulan April atau Mei di lahan persawahan bekas panen padi. Ubi kala itu biasanya ditanam di tanah kering pada akhir musim hujan. Adapun varietas ubi yang ditanam di antaranya ubi warna merah, ubi boled, ubi kangkung, ubi waluh, ubi genjur dan ubi salahi.

Melihat proses pengolahan ubi di Desa Cilembu, Kecamatan Pamulihan. Foto: Nur AzisSementara perkembangan ubi di Desa Cilembu, Kecamatan Pamulihan sendiri menurut salah seorang petani sekaligus pengusaha ubi di Desa Cilembu yakni Suhaya (70), awal mula tradisi menanam ubi di Desa Cilembu diawali oleh beberapa tokoh warga pada sekitar tahun 1960-an atau 1970-an.

“Dulu mah yang punya lahan sawah itu paling beberapa tokoh warga saja di antaranya seperti pak Kuwu Hormat, pak Adri, pak Olot Tanu, pak Lebe, pak Olot Darma,” ungkap Suhaya saat berbincang dengan detikJabar belum lama ini.

Ubi yang ditanam kala itu hanya beberapa petak saja di sekitaran pinggiran sebuah situ yang bernama situ Citali. Ubi biasanya ditanam setahun sekali pasca panen padi di lahan persawahan.

Namun sayang, situ Citali sendiri keberadaannya kini hanya menyisakan sebuah mata air berbentuk sumur.

Situ Citali Sumedang, tempat lahirnya ubi cilembu (Foto: Nur Azis/detikJabar)

“Makanya dulu itu lahannya hanya beberapa petak saja karena hanya saguliwek (hanya lahan itu-itu saja) di sekitaran situ dan yang kerja juga hanya beberapa orang warga saja. Sebab, kalau lahannya ada di dataran atas kan pastinya bakal kekurangan pasokan air,” terangnya.

Suhaya mengatakan, hasil panen ubi dari Desa Cilembu kala itu dijajakan atau dijual oleh beberapa warga Linggar, Kecamatan Rancaekek dengan cara dipikul dengan sebuah alat pikulan. Mereka menjualnya hingga ke daerah luar sekitaran Sumedang.

“Jadi dulumah mau dijual ke daerah Cibiru, Majalaya, Sumedang dan daerah lainnya itu tetap jualnya dengan cara dipikul lantaran kendaraan masih jarang,” terangnya.

Budidaya ubi sendiri mulai ramai seiring para tokoh desa memberikan izin kepada warga untuk menanamnya di lahan miliknya. Bukan hanya menanam, warga Desa Cilembu pun menjadi tertarik untuk menjualnya sendiri.

“Jadi setelah orang-orang Linggar berhenti jualan ubi seiring banyaknya warga setempat yang juga jualan ubi maka seiring itu pula para penjualnya pun menjadi dikuasai sama penduduk Cilembu sendiri,” terangnya.

Suhaya menuturkan, perkembangan ubi cilembu paling signifikan terjadi pada sekitar tahun 1990-an. Saat Kuwu atau Kepala Desa dipimpin oleh sosok yang bernama Kuwu Daud.

Kuwu Daud diketahui adalah mantan TNI AD. Dialah yang cukup aktif mempromosikan keberadaan ubi cilembu.

“Keberadaan ubi cilembu oleh Kuwu Daud dipromosikan kemana-mana bahkan dimasukan ke koran saat itu, seperti semisal informasi terkait soal pasokan ubi cilembu untuk bulan 12 dan kesatu sudah tidak ada,” tuturnya.

Ubi cilembu menjadi komoditas unggulan Sumedang. Beberapa ton ubi dari Sumedang berhasil diekspor ke luar negeri seperti Malaysia, Jepang dan beberpaa negara lainnya. (detik.com)

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga