Sabtu, 20 April, 2024

Artikel Terbaru

Selamat! Petani di 19 Daerah Ini Mulai Makmur

ktnanasional.com – JAKARTA, Nilai tukar petani pada Juli 2023, ditopang oleh kenaikan pada indeks harga yang diterima petani lebih tinggi ketimbang indeks harga yang dibayar petani. Kenaikan tertinggi terjadi untuk petani tanaman perkebunan rakyat.

NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan, NTP nasional Juli 2023 sebesar 110,64 atau naik 0,21% dibanding NTP bulan sebelumnya yang sebesar 110,41.

“Kenaikan NTP ini karena indeks harga yang diterima petani atau it naik sebesar 0,34% lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani atau ib sebesar 0,13%,” kata Pudji saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Selasa (1/8/2023).

Kenaikan NTP Juli 2023 dipengaruhi oleh naiknya NTP di tiga subsektor pertanian, yaitu subsektor tanaman pangan sebesar 0,28%, subsektor tanaman perkebunan rakyat 1,34%, dan subsektor peternakan 0,21%.

NTP di subsektor tanaman pangan naik disebabkan naiknya it pada kelompok penyusunnya, yaitu kelompok padi yang sebesar 0,56%, sedangkan kelompok palawija, khususnya komoditas jagung, kacang hijau, dan kacang kedelai turun sebesar 0,17%.

Sementara itu it di subsektor tanaman perkebunan rakyat naik disebabkan naiknya indeks kelompok tanaman perkebunan rakyat, khususnya komoditas kelapa sawit dan kopi sebesar 1,52%.

Sedangkan it peternakan disebabkan naiknya harga komoditas pada dua kelompok penyusunnya, yaitu kelompok unggas 1,25% dan kelompok hasil ternak 1,54%.

Adapun, NTP pada dua subsektor lainnya mengalami penurunan, yaitu Subsektor Tanaman Hortikultura sebesar 3,22% dan Subsektor Perikanan sebesar 0,12%. Penyebabnya it kedua kelompok itu turun lebih dalam ketimbang ib.

Foto: Nilai tukar petani. (Dok. BPS)
Nilai tukar petani. (Dok. BPS)

Dari 34 provinsi, sebanyak 19 provinsi mengalami kenaikan NTP, 14 provinsi mengalami penurunan NTP, sedangkan 1 provinsi lainnya cenderung tidak mengalami perubahan NTP.

Kenaikan tertinggi pada Juli 2023 terjadi di Provinsi Sulawesi Barat, yaitu sebesar 2,27%, sedangkan penurunan terbesar terjadi di Provinsi Maluku Utara, yaitu sebesar 2,13%.

“14 provinsi lainnya mengalami penurunan NTP dengan penurunan terdalam terjadi di Maluku Utara yang turun sebesar 2,13%,” (admin)

Artikel telah tayang di cnbcindonesia.com

 

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga