Senin, 4 Maret, 2024

Artikel Terbaru

Si Perkasa dari Bantul, Keringkan Gabah Lebih Cepat dan Murah

ktnanasional.com – BANTUL, Berawal dari kerugian akibat salah kelola biji padi pasca-panen pada 2012, Budi Santosa melahirkan ‘Si Perkasa’. Kependekan dari ‘Sistem Penjemuran Karya Santosa’, sesuai namanya alat ini menjemur benih secara sederhana dan murah tapi efektif.

Ditemui Gatra.com di kantornya, UPT Balai Benih Pertanian Dinas Pertanian, Kehutanan, dan Kelautan, Bantul, Jumat (22/6), Budi Santosa (56) bercerita mengenai temuannya itu.

“Akibat salah kelola panenan padi, karena terlalu kepanasan dan terkena hujan hingga gagal menjadi bibit dan untuk dikonsumsi, yang berakibat kerugian hingga Rp66 juta, saya terus berpikir tentang alat yang mampu memberikan hasil optimal biji padi dalam proses pengeringan,” jelasnya.

Ide alat ini kemudian muncul saat dia mengendari motor ketika hujan. Saat mengenakan jas hujan, ia justru merasa gerah bahkan panas. Dari kondisi itu, Budi merancang alat jemur sederhana. Dengan bahan utama terpal dan bambu, Budi merangkai tenda beralas terpal sebagai tempat penjemuran.

Menurut Budi, konsep kerjanya persis seperti saat berkendara mobil ketika hujan dan penyejuk mobil tidak dihidupkan. “Jadi di dalam tenda akan muncul hawa panas dari bawah. Panas inilah yang membantu proses pengeringan biji padi,” jelas Kepala UPT Balai Benih Pertanian Bantul ini.

Budi sebenarnya merekomendasikan penggunaan alat ini saat musim hujan. Namun hasil optimal bisa diperoleh saat diterapkan di musim kemarau. Selain menyimpan panas, alat ini juga membuat biji padi yang dikeringkan tidak terkontaminasi kotoran dan kerikil.

Alat ini juga bisa diterapkan di kondisi permukaan tanah apapun, tetapi lebih efektif bila di lantai berplester.  “Tidak hanya padi, semua jenis biji-bijian juga bisa menggunakan alat ini,” ujarnya.

Dibanding proses penjemuran biasa, penggunaan Si Perkasa ini mempercepat pengeringan biji-bijian. Sebagai contoh, biji padi yang menjadi benih dengan kadar air 10 persen. Si Perkasa bisa mengeringkan dalam 2-3 hari, sedangkan  sistem biasa memerlukan 4-5 hari. Demikian juga untuk gabah yang akan jadi beras, hanya butuh 3-4 hari, biasanya 5-6 hari.

“Tapi yang utama, pengeringan dengan sistem ini menghasilkan biji padi yang tidak mudah pecah dan tidak berwarna kecokelatan. Sehingga menaikkan harga jual,” katanya.

Ia mencontohkan, melalui pengeringan biasa, harga gabah kering Rp3.700 per kilogram. Dengan menggunakan Si Perkasa, harga gabah bisa mencapai Rp4.700-Rp5.000 per kilogram.

Sejak dikenalkan pada 2016, Si Perkasa memperoleh penghargaan juara pertama inovasi terbaik yang digelar Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta. Pada 2017, Si Perkasa juga masuk 10 besar lomba inovasi teknologi pertanian yang digelar Kementerian Pertanian.

“Saya merekomendasikan alat ini kepada petani. Tanpa bahan bakar, tanpa mesin, alat ini bahkan bisa dibuat hanya dengan dari plastik tebal sebagai pengganti terpal,” ucapnya. (gatra)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga