Selasa, 27 Februari, 2024

Artikel Terbaru

Smart Farming: Konsep, Metode, dan Syarat untuk Menyegerakannya di Indonesia

ktnanasional – DIY. Food and Agricutlure Organizatioan (FAO) telah memperingatkan bahwa krisis pangan adalah menjadi salah satu dampak Pandemi Covid-19 sejak 2020 lalu.

Perang dunia dan dampak perubahan iklim turut mempengaruhi. Keseimbangan produksi dan permintaan beras diprediksi mengalami defisit dalam waktu 20 tahun.

Salah satu strategi mengatasi krisis pangan adalah kerja sama dari berbagai stakeholder tanpa mengesampingkan zaman. Dengan kata lain turut menggunakan teknologi. Apalagi langkah pemerintah dalam membuka lahan baru di beberapa tempat di luar Jawa punya tantangan tersendiri.

“Struktur tanah, iklim, budaya penduduk, dan infrastruktur lahan pertanian tentu berbeda dengan Pulau Jawa,” tulis Fransiscus Go, pemilik Nara Kupu Jogja.

Salah satu konsep yang bisa diterapkan untuk menaikkan produksi pangan sekaligus mempermudah kerja para petani adalah Smart Farming dengan metode Internet of Things (IoT) yang harus didukung banyak stakeholder terutama kementrian dan BMKG.

“BMKG bertugas melakukan prediksi perubahan temperatur dan cuaca. Kementerian Komunikasi dan Informatika bisa mendukung ketersediaan jaringan internet dan wifi murah,” sambungnya.

Smart farming merupakan konsep pertanian yang menggunakan teknologi digital dan informasi. Perpaduan keduanya bisa meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan keberlanjutan produksi tanaman serta peternakan.

FG memaparkan, petani menggunakan aplikasi yang disesuaikan dengan kebutuhan di lahan pertaniannya. Aplikasi smart farming memerlukan dukungan cloud server untuk menunjang beberapa unit proses monitor parameter penting, big data, kontrol manajemen, dan aktivasi actuator.

Penggunaan aplikasi smart farming bisa diterapkan dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), irigasi, penyiapan lahan, pencahayaan, iklim mikro, panen, dan evaluasi hasil.

Drone juga digunakan dalam konsep smart farming. Petani menggunakan drone untuk memberantas hama, memupuk, dan menabur benih. Penggunaan drone sangat efektif dan bisa menekan biaya produksi pertanian.

“Smart farming yang sudah diterapkan komunitas petani di Bali adalah penggunaan aplikasi untuk smart irrigation. Para petani tidak lagi menyiram tanaman secara manual,” bebernya.

Penyiraman tanaman dikendalikan secara otomatis, termasuk waktu irigasi, durasi irigasi, dan debit irigasi. Proses penyiraman tanaman dikendalikan dari aplikasi smart farming yang dijalankan dari handphone masing-masing.

Jika biasanya petani mengolah lahan pertanian membutuhkan waktu 4 jam dengan tenaga 2 orang, sebaliknya IoT memudahkan petani. Dengan IoT, petani hanya membutuhkan waktu 15 menit dengan tenaga satu orang saja.

“Pemerintah juga perlu menyiapkan regulasi yang mendukung pelaksanaan smart farming. Adapun tantangan petani dalam penggunaan smart farming adalah keterbatasan akses teknologi, keterbatasan infrastruktur, kurangnya pengetahuan dan keterampilan, biaya tinggi, serta kurangnya dukungan dari pemerintah. Pemerintah perlu membuat beberapa kebijakan untuk memperluas konsep smart farming di Indonesia,” pungkas Frans. (admin)

artikel ini telah tayang di krjogja.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga