Selasa, 27 Februari, 2024

Artikel Terbaru

Smart Farming Solusi Atasi Ketahanan Pangan Nasional

ktnanasional – JAKARTA. Persoalan produktivitas lahan pertanian kini telah menjadi permasalahan penting di Indonesia. Hal ini dikarenakan berdampak pada pemenuhan kebutuhan pangan nasional yang setiap tahunnya mengalami peningkatan seiring dengan pertambahan jumlah penduduk.

Penyebab lainnya adalah alih fungsi lahan, yang semula sebagai lahan pertanian, namun sekarang banyak beralih fungsi menjadi lahan properti atau industri. Kondisi ini akan mengganggu pasokan kebutuhan pangan secara baik secara lokal maupun nasional.
Hal ini disampaikan Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufatur, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Haznan Abimanyu dalam forum diskusi Smart Farming For Subtainable Growth yang mengusung tema inovasi dan Tantangan Penerapan Standar Berkelanjutan dan Community Development untuk Mendukung Ketahanan Pangan dan Mengatasi Perubahan Iklim, di Jakarta Convention Center, Kamis (16/11). Guna memenuhi kekurangan pasokan terhadap kebutuhan pangan tersebut, kata Haznan, pemerintah berupaya mengimpor bahan pangan dari luar negeri.
“Cara lama untuk mengatasi jika suatu negara kekurangan stok bahan pangan, maka bisa dilakukan impor,” ujar Haznan.
Solusi demikian menurut Haznan dipandang kurang efektif karena dianggap menimbulkan ketergantungan terhadap negara lain. Untuk itulah diperlukan sebuah upaya guna memperkuat kemandirian pangan di dalam negeri mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten, dan provinsi.
“Upaya tersebut dilakukan dengan memanfaatkan potensi kearifan lokal masing-masing daerah maupun adopsi teknologi yang sesuai dan mendatangkan manfaat bagi masyarakat setempat,” tambahnya.
Dikatakan Haznan, peran teknologi sangat diperlukan untuk mendukung inovasi di sektor pertanian. Pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung produksi dan perakitan varietas baru, belakangan ini berkembang pesat.
Teknologi digital juga banyak digunakan untuk mengatasi perubahan iklim yang dapat mengurangi produktivitas lahan pertanian. Perubahan pola pemanfaatan lahan pertanian tidak bisa lagi dilakukan dengan cara konvensional, melainkan harus menerapkan smart farming.
Kepala BRIN Laksana Tri Handoko mengatakan, kondisi saat ini menjadi tantangan bagi para pemangku kepentingan khususnya BRIN sebagai lembaga riset untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. “Tantangan ke depan, saya berharap forum seperti ini bisa menjadi awal dalam memperkuat sinergi kami semua untuk menjawab tantangan di masa depan bagaimana kita bisa meningkatkan produksi pertanian, kualitas, dan kesinambungannya,” kata Handoko.
Menurut Handoko, persoalannya bukan semata-mata pada pemanfaatan teknologi untuk pertanian, tetapi juga bagaimana membuat para petani menjadi profesional. Para petani harus mempunyai komitmen yang tinggi untuk memperbaiki ekosistem pertanian. Tanpa adanya komitmen dari para petani maka permasalahan terkait produktivitas pertanian tidak akan terjawab.
“Teknologi tidak ada artinya kalau kita tidak membenahi persoalan-persoalan detail seperti ini. Jika petani sudah profesional artinya mempunyai mental dan komitmen yang bagus maka teknologi akan mudah diterapkan,” lanjutnya.
Handoko menegaskan, bahwa selama ini yang dianggap menjadi kendala adalah luasan lahan pertanian. Padahal kondisi seperti ini dapat diselesaikan dengan rekayasa teknologi.
“Kita ingin memulai bikin tanaman padi tanpa sawah. Kalau tanaman buah saja bisa ditanam di pot kenapa tanaman pangan tidak,” tegasnya.
Dengan gagasan semacam ini, yakni bertani tanpa lahan secara konvensional maka akan lebih mudah mengajak para generasi mudah untuk ikut menjadi petani. “Kita bikin rekayasa teknologi yang bisa kita menanam padi tanpa sawah,” pungkasnya.
Handoko bertekad akan mencarikan pola-pola teknologi untuk meningkatkan produktivitas pertanian dengan rekayasa teknologi. Hal-hal semacam ini yang akan menjadi tanggung jawab BRIN dalam waktu dekat.  (admin)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga