Sabtu, 24 Februari, 2024

Artikel Terbaru

Survei BPS, Kecamatan Sukolilo Penopang Sektor Pertanian di Kabupaten Pati

ktnanasional – JAWA TENGAH, PATI. Walau dikenal dengan area perbukitan serta cuaca gersang, Kecamatan Sukolilo masih mencatatkan diri sebagai penopang pertanian tertinggi di Kabupaten Pati.

Bukti ini ditunjukkan dari angka Rumah Tangga Usaha Pertanian(RTP) yang mendominasi.

Berdasarkan Sensus Pertanian (ST) 2023 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Pati Desember lalu, Kecamatan Sukolilo menempati angka tertinggi.

Dari total 174.777 RTP sebanyak 18.588 RTP berada di kecamatan tersebut.

Kepala BPS Kabupaten Pati Bob Setiabudi menuturkan dari 21 kecamatan yang ada di Pati, Kecamatan Sukolilo mendominasi dengan sepuluh persen.

Angka ini sekaligus menunjukkan banyaknya penduduk di Sukolilo masih menguntungkan mata pencarian mereka dari sektor pertanian.

“Masih banyaknya pertanian di sana tidak terlepas dari faktor luasan lahan. Saya melihat Kecamatan Sukolilo masih mempunyai potensi lahan pertanian cukup luas,” terang Bob belum lama ini.

Wilayah hijau dalam versi Sensus Pertanian 2023 juga tersebar di beberapa kecamatan di bagian selatan Pati lain. Seperti Kecamatan Winong (15.213 RTP), Kecamatan Kayen (12.061 RTP), Kecamatan Pucakwangi (10.308 RTP), Kecamatan Tambakromo 10.285 RTP, Kecamatan Jaken (10.197 RTP).

Sementara di area selatan hanya Kecamatan Dukuhseti menjadi yang tertinggi.

Kecamatan ini masih mempunyai 10.091 rumah tangga pertanian. Sedangkan kecamatan lainnya hanya tercatat di bawah 10 ribu RTP saja.

Kondisi kontras ini bila dibandingkan dengan jumlah RTP di area Pati tengah. Seperti di Kecamatan Pati mempunyai jumlah RTP terkecil se Kabupaten Pati.

Berdasarkan data RTP Wilayah Pati Kota hanya sekitar 1,7 persen saja. Angka ini setara hanya 3.309 rumah tangga yang tercatat dalam Sensus Pertanian 2023.

Kondisi serupa di alami kecamatan lain yang berdekatan dengan pusat kota. Seperti Juwana (4.786 RTP), Wedarijaksa (5.497 RTP) dan Tayu (6.622 RTP) yang kian kehilangan para petani.

“Wilayah-wilayah ini selain daerah industri, kepadatan penduduk dan lahan pertanian yang kian berkurang menjadi penyebab berkurangnya jumlah petani,” ungkap Bob. (admin)

artikel ini telah tayang di muria.suaramerdeka.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

spot_img

baca juga