Kamis, 18 April, 2024

Artikel Terbaru

Terapkan Pertanian Organik, Petani Bojonegoro Lebih Untung

ktnanasional.com – BOJONEGORO, Zainur Rohim, petani muda asal Desa Ngraseh, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro merasa lebih untung setelah menerapkan pertanian organik. Salah satunya, dia tidak merasakan kelangkaan pupuk.

“Pertanian yang saya terapkan murni organik. Tanpa ada satu sendok pun bahan non organik,” ujar Zainur, Sabtu (1/7/2023).

Pria lulusan Pondok Pesantren Abu Dzarrin, Sumbertlaseh ini mengaku dengan meninggalkan pertanian konvensional, dia berhasil mendapat keuntungan saat panen mencapai hingga 87,50 persen. Namun demikian, dia mengaku beralih ke sistem pertanian organik tidaklah mudah.

Sekitar dua tahun silam, Zainur secara diam-diam mempelajari pertanian organik. Dia belajar mulai dari persiapan tanam dengan mengolah lahan yang diberi mikroba, sampai dengan pengendalian hama.

Dengan teknik itu, padi yang ditanam langsung hidup dan sehat seterusnya. “Pengendalian hama kita gunakan pestisida nabati. Bahannya dari tanaman yang ulat tak mau memakannya. Seperti mojo, sambiloto, gadung, bintoro,” bebernya.

Setelah diterapkan, dia merasakan cara organik ini mampu menekan ongkos produksi secara drastis. Karena seluruh bahan tersedia oleh alam.

Sebagai gambaran, untuk lahan sawan yang ia sewa seluas 2.500 m2, Rohim hanya perlu modal paling banyak Rp1 juta. Ongkos ini hanya butuh dana 40 persen dibanding bertani konvensional yang perlu ongkos hingga Rp2,5 juta dengan luas lahan sama.

Begitu pula untuk obat daun, juga bahan alami. Untuk pembuatannya Rohim hanya perlu Rp10 ribu sudah bisa menghasilkan 15 liter. Jika dibandingkan obat daun pabrikan, tentu sangat jauh. Sebab, untuk dapat 500 ml obat daun ini dibandrol pihak pabrikan seharga Rp50 ribu.

“Sistem organaik ini selain menghasilkan batang padi yang lebih tinggi dan lebih besar, padahal menggunakan varietas sama, masa tanam padi juga lebih singkat. Dulu saat musim tanam pertama, panen saya cuma selisih 50 kg dibanding milik tetangga. Sedangkan ongkos produksi lebih kecil. Saya sewa lahan Rp4 juta, panen pertama dapat Rp8 juta. Sudah langsung balik modal,” tuturnya.

Pengalaman ini, dialami pula oleh Muhammad Sholikin. Pemuda asal Desa Sumberarum, Kecamatan Dander. Namun dengan jenis tanaman yang berbeda. Sahabat karib Rohim ini menerapkannya pada tanaman palawija. Hasilnya, meski jagung telah menua siap panen, tetapi daunnya masih berwarna hijau segar.

“Dari 3 kg bibit jagung, teknik organik bisa menghasilkan 2,1 ton. Kalau konvensional maksimal cuma sampai 1,5 ton. Jadi untung lebih banyak. Dengan begitu, tentu meningkatkan pendapatan petani yang berdampak pada kesejahteraan keluarga petani,” ucap Sholikin.

Keberhasilan Rohim dan Sholikin, membuat para petani yang tergabung di jamaah pengajian mata basah lainnya di sejumlah kecamatan meminta mereka berdua menularkan ilmu dan pengalaman. Dalam catatan Rohim sudah lebih 20 petani menerapkan cara bertani organik secara mandiri. Tersebar di Kecamatan Malo, Sekar, Kanor, Dander, dan Ngraho. [lus/beq]

 

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga