Jumat, 19 April, 2024

Artikel Terbaru

Utamakan Pertanian Organik

Upaya meningkatkan produktivitas pertanian meski terus dilakukan oleh pemerintah, khususnya melalui support Kementerian Pertanian (Kementan). Pasalnya peningkatan produktitas pertanian ini sangat berkorelasi dengan pemenuhan kebutuhan pangan di negeri ini. Namun, guna mewujudkan ketersediaan dan peningkatan pangan ini tentu dibutuhkan pertanian yang tangguh menghadapi dampak perubahan iklim global khususnya El Nino.

Salah satu langkah konkret yang bisa dilakukan adalah dengan penerapan pertanian organik, yakni melepas ketergantungan pada pupuk kimia, minimal para petani bisa mengurangi penggunaan pupuk kimia. Dari situ bisa diartikan bahwa pertanian organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Pertanian organik menuntut agar lahan yang digunakan tidak tercemar oleh bahan kimia dan mempunyai aksesibilitas yang baik.

Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak merusak lingkungan. Oleh sebab itu, kedepan, Kementan perlu terus memacu produksi pertanian dengan pemanfaatan sumberdaya lokal, pertanian ramah lingkungan seperti Biosaka dan efisiensi biaya usaha tani, teknologi pertanian presisi, serta antisipasi, mitigasi dan adaptasi terhadap ancaman El-Nino. Realitas tersebut urgen untuk terperhatikan mengingat luas lahan yang tersedia untuk pertanian organik di Indonesia sangat besar. Dari 75,5 juta ha lahan yang dapat digunakan untuk usaha pertanian, baru sekitar 25,7 juta ha yang telah diolah untuk sawah dan perkebunan. Baru sekitar 0,14% lahan sawah dan kebun di Indonesia yang melakukan penanaman dengan cara organik., (BPS, 2022).

Berdasarkan data lembaga sertifikasi pertanian organik INOFICE, diperkirakan luas lahan sawah yang ada di Indonesia mencapai kurang lebih 8 juta hektar, ditambah luas lahan kebun yang ditanami hortikultura berupa sayuran dan lainnya. Dari situ, semakin jelas bahwa dalam sistem pertanian organik diperlukan standar mutu dan ini diberlakukan oleh negara-negara pengimpor dengan sangat ketat. Sering satu produk pertanian organik harus dikembalikan ke negara pengekspor termasuk ke Indonesia karena masih ditemukan kandungan residu pestisida maupun bahan kimia lainnya.

Gumoyo Mumpuni Ningsih
Dosen Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Advertisementspot_img

baca juga