Jumat, 31 Mei, 2024

Artikel Terbaru

WPI Dampingi Petani Bangunkan Lahan Tidur

ktnanasional – JAWA TIMUR, SIDOARJO. Banyak lahan terlantar di Indonesia yang bisa dioptimalkan untuk meningkatkan produksi pangan. Salah satunya di di Desa Kedung Rawan, Sidoarjo, Jawa Timur. Dengan pendampingan yang intensif, produktivitas lahan bisa mencapai 8 ton per hektar (ha).

Seperti pendampingan yang diberikan PT Wilmar Padi Indonesia (WPI) kepada petani untuk mengolah lahan tidak produktif seluas 6 hektar (ha) di Desa Kedung Rawan. Program pendampingan tersebut juga didukung oleh PT Wilmar Chemical Indonesia yang memproduksi Pupuk Mahkota dan Syngenta yang menyediakan pestisida.

Ketua Kelompok Tani Suko Tani Imam Baihaqi mengatakan, pihaknya sangat mengapresiasi karena mendapat pendampingan dari perusahaan dan dinas pertanian daerah dalam menghidupkan lahan tidak produktif. Petani juga tidak perlu keluar modal karena sarana produksi telah disediakan perusahaan.

“Kami juga berkomitmen untuk meneruskan metode yang diajarkan dalam pendampingan tersebut. Jaman sekarang petani harus maju agar tidak dipandang sebelah mata,” ujar Baihaqi.

Selain itu, petani juga dapat menjual hasil panennya ke WPI, sehingga tidak perlu lagi tergantung tengkulak. Dengan keberhasilan tersebut, Baihaqi berniat nantinya juga akan mengajak petani lainnya untuk bergabung dalam program tersebut.

Rice Business Head PT WPI Saronto Soebagyo mengatakan, dalam program pendampingan yang telah berlangsung sejak 2023, pihaknya dapat membantu petani menghidupkan kembali lahan tidak produktif tersebut. Seperti pada musim tanam (MT) ketiga ini petani mampu mencapai produksi gabah hingga 8 ton per ha.

“Keberhasilan ini bisa menunjukkan ke petani,  kalau dikelola dengan baik hasilnya akan bagus,” kata Saronto di sela Panen Padi Swa Kelola di Desa Kedung Rawan, Rabu (8/5) lalu.

Sesuai komitmen awal, pendampingan perusahaan hanya dilakukan hingga tiga kali musim tanam. Setelahnya, lahan akan dikembalikan ke masyarakat untuk dikelola secara mandiri.

Meski demikian, WPI akan tetap memberikan pendampingan teknis hingga mereka mampu mengelola sendiri. Perusahaan juga membangun pintu air khusus untuk lahan tersebut  di saluran irigasinya. “Kemitraan ini tetap berlanjut karena kami menyerap hasil panen petani,” ujar dia.

Awalnya, lahan tidak produktif tersebut sudah 10 tahun tidak digarap petani karena kerap diterjang banjir. Lahan itu kemudian ditawarkan ke Wilmar agar memberikan pendampingan ke petani.

Saronto menjelaskan,  menghidupkan lahan tidur tidak mudah. Pada MT satu, pengelolaan lahan dapat dikatakan gagal karena masih lahan banyak gulma yang tumbuh dan menelan biaya cukup besar. Saat panen  hasilnya juga hanya 1,6 ton per ha dari target 6 ton per ha.

“Belajar dari MT satu, perusahaan mulai menganalisa kembali dan melakukan perbaikan pada pengelolaan lahan. Pada MT dua, selain biaya dapat ditekan, hasil panen melonjak hingga 6 ton per ha,” katanya.

Ke depan pihaknya berharap, peningkatan produksi pangan di Sidoarjo dapat mencukupi kebutuhan sendiri, karena selama ini wilayah tersebut belum dikenal sebagai lumbung pangan. Kenaikan harga beras juga akan berdampak terhadap inflasi.

Saronto menambahkan, pengelolaan lahan tidur bertujuan untuk mendukung peningkatan produksi pangan melalui lahan yang sudah ada. WPI telah berencana kembali melakukan pendampingan lahan tidak produktif lainnya. Salah satunya ada di Mojokerto seluas 20 ha. “Kendalanya adalah biayanya besar dan potensi gagal pada MT satu, itu yang menyebabkan lahan tidur banyak yang dibiarkan,” tuturnya.

Pada kesempatan itu, Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pangan dan Pertanian Sidoarjo Abriyani Susilowati mengatakan, kemitraan antara pemerintah, perusahaan dan petani dinilai seperti gayung bersambut karena adanya bantuan bagi kebutuhan petani.

Saat ini semakin banyak petani berusia lanjut sehingga tenaganya berkurang. Sementara, kebutuhan pangan terus meningkat yang dibarengi dengan luas lahan yang berkurang. “Kami menyambut baik kerjasama ini, dengan harapan dapat membantu petani dan mendapatkan hasil yang lebih baik,” kata Abriyani. (admin)

spot_img
spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

baca juga